
Elsa menanti kedatangan Arfan seperti orang bodoh, walaupun ia tahu Arfan tidak akan mungkin datang karna Arfan adalah pria yg selalu memegang teguh komitmen nya, namun entah mengapa Elsa tetap dengan bodoh nya mengharapkan kedatangan Arfan. Itu mungkin karena Elsa masih tak sanggup kehilangan pria sesempurna Arfan.
"Hai..." sapa Jimmy yg sedikit membuat Elsa tersentak "Kenapa melamun?" tanya Jimmy sembari memotret wajah Elsa.
"Tidak ada..." jawab Elsa sembari menyunggingkan senyum.
Olga datang dan meminta Elsa bersiap karena pemotretan akan segera di mulai.
Elsa mengenakan pakaian renang yg membentuk setiap lekuk tubuhnya dengan begitu jelas, dan pemotretan kali ini berpasangan.
Ada seorang model pria yg bernama Calvin yg akan menjadi partner Elsa sekarang.
Saat pemotretan berlangsung, Elsa merasa tidak nyaman karena fotografer nya yg tak lain adalah Jimmy mengarahkan Elsa berpose mesra dengan Calvin. Bahkan Calvin harus meletakkan tangan nya di paha telanjang Elsa sementara Elsa berpelukan pada Calvin yg hanya mengenakan celana renang.
"Rileks, Elsa..." seru Jimmy yg melihat Elsa tampak sangat kaku.
"Maaf, Jim... Apa bisa aku melakukan pemotretan sendirian? Atau setidak nya tidak perlu berpose seintim itu..." ujar Elsa lirih.
"Profesional, Elsa. Ini sudah menjadi tuntutan pekerjaan mu sebagai model" seru Jimmy dan ia tampak kesal.
"Biar aku yg bicara..." seru Olga pada Jimmy, Jimmy pun mempersilahkan.
"Elsa Sayang..." bisik Olga "Ini hanya sebagian kecil dari pekerjaan mu, ini hal yg normal kok. Nanti juga kamu akan terbiasa dan ini juga demi kesuksesan mu kan, sekarang kamu harus Rileks dan jangan malu malu ya. Kamu harus percaya diri dan berani..." Elsa hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ceramah panjang Olga. Namun sekali lagi ia merasa apa yg di katakan Olga itu benar, ini adalah bentuk profesional nya.
.........
Di rumah sakit, Arfan masih dengan setia menunggu istrinya itu terbangun dari pingsan nya. Arfan bahkan tidak sedetikpun melepaskan genggaman tangan nya pada tangan Elnaz dan ia terus memandangi wajah ayu sang istri.
Hingga Arfan melihat kelopak mata Elnaz yg bergerak gerak seolah ia ingin membuka mata, hal itu membuat Arfan bernafas lega dan ia kembali mengecup tangan istrinya itu.
"Sayang, ayo bangun..." pinta Arfan dan perlahan Elnaz membuka matanya yg membuat senyum Arfan langsung mengembang.
"Hey, Sayang... Akhir nya kamu bangun juga" seru Arfan saat Elnaz benar benar membuka matanya. Arfan membantu Elnaz duduk saat istri nya itu hendak duduk.
__ADS_1
Elnaz yg melihat Arfan di samping nya seketika teringat dengan pesan Elsa, Elnaz berfikir pasti Arfan sudah menemui Elsa. Air mata Elnaz kembali merembes begitu saja saat memikirkan hal itu.
"Kak Arfan jahat..." lirih Elnaz dan Arfan langsung menggeleng, menepis tuduhan sang istri.
"Kamu salah faham, Sayang. Kakak bersumpah, kakak tidak mengkhianati mu..." seru Arfan "Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan pada Dokter, Suster dan pasien kakak di sini. Tadi kakak pergi pagi pagi karena ada operasi mendadak, Sayang"
"Bohong..." lirih Elnaz dengan suara tercekat "Kamu pergi menemui nya..."
"Tidak sama sekali, Elnaz..." seru Arfan lagi "Kakak bahkan tidak sempat membaca pesan nya tadi..."
"Bohong lagi, pesan nya sudah di buka..." seru Elnaz marah.
"Sayang..." geram Arfan karena Elnaz tidak juga mempercayai nya "Kakak memang membuka pesan itu tapi kakak tidak sempat membaca nya karena saat itu kakak melihat kamu bergerak tidak nyaman karena... Karena selimut mu melorot" jawab Arfan jujur namun seperti nya Elnaz masih tidak juga mempercayai nya.
"Kakak jujur, Sayang..." seru Arfan lagi "Saat selimut mu melorot, kakak langsung memperbaiki nya dan setelah itu kakak langsung pergi ke rumah sakit. Bahkan ponsel kakak sampai ketinggalan, percaya sama aku ya, Elnaz. Please, kamu mengenal suami mu kan?" tutur Arfan dengan memelas dan melihat wajah Arfan yg memelas membuat Elnaz tidak tega. Namun memikirkan suami nya mengkhianati nya membuat Elnaz benar benar marah dan sedih.
"Begini saja, ayo kita temui Dokter dan Suster yg mendampingi kakak saat menjalani operasi tadi. Sekalian juga kita tenemui keluarga pasien, ya..." bujuk Arfan sembari mengusap air mata di pipi Elnaz.
"Elnaz, please..." Arfan kembali memohon dengan wajah memelas nya karena Elnaz tak menanggapi nya sedikitpun dan ia hanya menatap Arfan dengan dingin.
"Sayang, percaya sama kakak, kakak mohon, El. Jangan diam seperti ini..." pinta Arfan putus asa.
"Rumah aku berantakin..." lirih Elnaz kemudian dan hal itu malah membuat Arfan terkekeh.
"Jadi itu ulah mu karena kamu fikir kakak menemui Elsa?" tanya Arfan dan Elnaz mengangguk jujur
"Jadi kamu sangat marah?" tanya Arfan lagi dan sekali lagi Elnaz mengangguk jujur.
"Kamu cemburu?" tanya Arfan dan Elnaz terdiam sesaat, tiba tiba mata nya memerah dan hidung nya kembang kempis.
"Rasanya sakit sekali memikirkan kakak menemui nya..." lirih Elnaz dengan suara tercekat dan ia menundukan kepala nya saat air mata kembali mengalir deras di pipi nya.
Arfan langsung menangkup pipi Elnaz dengan kedua telapak tangan nya, kemudian Arfan kembali menghapus air mata istri nya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Kakak bersumpah, Sayang. Kakak tidak menemui nya dan tidak akan pernah menemui nya" ucap Arfan lembut namun seperti nya Elnaz tidak mempercayai janji Arfan.
"Baiklah, kalau kamu tidak percaya, kakak akan memblokir kontak Elsa. Atau kalau perlu, kakak ganti nomor saja?" tanya Arfan sembari menatap tepat di kedua manik mata Elnaz, Elnaz masih tak menanggapi nya dan hanya menatap Arfan dengan mata yg masih berkaca kaca
"Sekalian ganti hp, hp kakak rusak, seperti nya jatuh..." goda Arfan kemudian yg membuat Elnaz mendengus.
"Kamu sangat menyeramkan saat cemburu, Sayang. Bahkan kakak sampai berfikir seperti nya rumah di rampok..."
"Sudah aku bilang, rasa nya sakit sekali..." lirih Elnaz masih dengan suara tercekat.
"Kakak mengerti..." ucap Arfan sembari membawa Elnaz ke pelukan nya dan Elnaz membiarkan Arfan mendekap nya "Kakak juga akan sangat marah jika ada di posisi mu, kamu tahu kenapa?" tanya Arfan dan Elnaz menggeleng pelan di pelukan Arfan.
"Karena aku mencintaimu..."
Tubuh Elnaz menegang seketika mendengar ucapan Arfan, ia mendongak bersamaan dengan Arfan yg menunduk. Tatapan kedua nya bertemu dengan tatapan yg begitu dalam hingga seolah menusuk ke hati mereka.
Arfan membelai pipi Elnaz dengan lembut, mengecup kening nya dengan mesra.
"Aku mencintaimu, El..." lirih Arfan dengan begitu tulus "Tadi setelah selesai melakukan operasi, kakak langsung bergegas pulang karena tidak sabar ingin bertemu dengan mu. Dan saat kakak tidak melihat mu di rumah, kakak sangat takut, Sayang. Sampai sampai kakak merasa detak jantung kakak berhenti saat itu.... "lirih Arfan mesra, ia membawa tangan kiri Elnaz ke bibir nya dan mengecup nya.
Elnaz melihat ada sebuah cincin cantik yg melingkar di jari manisnya.
"Ini..." Elnaz berkata bingung.
"Ini ungkapan cinta ku, Elnaz. Aku sungguh mencintai mu, ku mohon percayalah..."
"Bukan karena apa yg sudah kita lakukan tadi malam?" tanya Elnaz tiba tiba yg tentu saja pertanyaan itu membuat hati Arfan terkesiap.
"Pertanyaan macam apa itu, Elnaz? Entah kita melakukan nya atau tidak, aku tetap mencintai mu. Aku hanya terlambat menyadari nya..."
"Tapi Kak Elsa?"
"Dia masa lalu, Sayang. Aku sudah move on dari nya dan itu karena mu, karena keberadaan mu di sisi ku. Aku berkata jujur, Elnaz. Kamu bukan hanya menggantikan Elsa di pelaminan, tapi juga di hati ku dan di hidup ku. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu, Sayang. Aku merasa sangat beruntung memiliki mu sebagai istri ku, I love you. More than brother and sister, I love you. My wife, my soulmate, my everything. Dan aku baru menyadari nya, kamu bukan lah pengganti, melainkan memang takdir sejati ku, yg Tuhan kembalikan di pelaminan di saat itu"
__ADS_1