
Elnaz di sambut dengan begitu hangat oleh kedua keluarga nya, namun sayang nya Elnaz tidak melihat kakak nya di rumah.
"Kak Elsa kemana, Ma?" tanya Elnaz penasaran.
"Kakak mu bekerja, El" jawab Mama nya sembari mendorong piring kecil yg berisi sambal untuk Elnaz.
"Kerja dimana? Soalnya Kak Elsa tidak pernah mau menjawab panggilan El, Kak Elsa marah ya gara gara...." Elnaz melirik suaminya yg saat ini juga sedang menikmati nasi dan rawon yg masih panas "Gara gara Kak Arfan masukin dia ke penjara" kata Elnaz lirih. Apa yg di katakan Elnaz langsung mengundang perhatian Arfan, suami nya itu langsung mendongak dan menatap Elnaz.
"Dia salah, Sayang. Apa yg kakak lakukan hanya untuk membuat nya jera" jawab Arfan.
"Tapi kan saat itu Kak Elsa tidak salah" jawab Elnaz ngeyel yg membuat Arfan menarik nafas kasar.
"Aku hanya berusaha membuat nya memahami apa yg dia alami adalah karena sikap nya yg egois" tukas Arfan dan sekarang tentu Elnaz tak bisa lagi melawan, karena ia sendiri tahu betapa egois nya kakak nya itu. Yg selalu mementingkan kepentingan nya sendiri, selama ini Elnaz bisa mengalah tapi tidak ketika tentang suami nya.
"Sebaiknya kalian makan yg kenyang, dan habis itu istirahat. Kalian pasti lelah" ujar Bu Yuni "Mama sudah mengganti seprei dan membersihkan kamar kalian" lanjut nya yg membuat Elnaz tersenyum senang.
"Terima kasih, Ma. Mama baik deh" ucap nya "Oh ya, Ma. Boleh tidak kalau nanti malam El di buatin kolak?" tanya Elnaz cengengesan yg membuat Bu Yuni melongo, karena jujur saja, memasak Rawon lumayan membuatnya lelah.
"El ngidam..." kata Elnaz masih cengengesan.
"Iya, nanti Mama buatin" jawab Bu Yuni kemudian, karena kalau sudah menyangkut ngidam, tentu saja ia tak bisa menolak. Sementara Arfan hanya menahan senyum melihat ekspresi Mama nya yg tampak nya kurang ikhlas itu.
"Terima kasih, Ma. Sekarang El mengantuk" ucap nya setelah meneguk air dari gelas nya.
"Ayo, Kak. Tidur..." ajak nya pada Arfan.
"Tidak bantu bereskan dapur dulu, El?" tanya Bu Isna yg merasa tidak nyaman dengan besan sekaligus kakak ipar nya itu, karena Elnaz sekarang malah tampak sangat berbeda dengan Elnaz yg dulu.
__ADS_1
"Tapi El capek..." rengek Elnaz manja.
"Tidak apa apa, El. Biar Mama yg bereskan, kamu istirahat saja ya. Orang hamil memang harus banyak istirahat" sambung Bu Yuni.
"Benaran tidak apa apa, Ma?" tanya Arfan masih menahan senyum nya, karena rasa nya ini seperti bukan Mama nya "
" Iya, tidak apa apa. Bawa istri mu istirahat gih" seru nya kemudian.
Arfan dan Elnaz tentu akan mengambil kesempatan itu baik baik, mengingat bagaimana perlakuan Bu Yuni saat awal pernikahan mereka.
..........
Dokter Liam dan Suster Jessy bertamu ke rumah Arfan saat mengetahui kedatangan mereka, sementara Suster Jessy kini memang mulai tinggal di Surabaya karena pernikahan nya sebentar lagi, apa lagi mereka mereka harus mengurus segala persiapan pernikahan yg belum juga selesai.
"Kalian cocok ya, Dokter sama Suster" kata Bu Yuni yg saat ini menemani mereka di ruang tamu.
Dokter Liam dan Suster Jessy tersenyum menanggapi ucapan ibu mertua Elnaz itu.
"Hello, Princess..." sapa Dokter Liam seperti biasa "Wow, benar kata Arfan, kamu semakin cantik saat hamil begini" puji Dokter Liam tulus yg membuat Elnaz tersenyum malu malu.
"Aku fikir kak Arfan membawa El pulang untuk menghadiri pernikahan kalian, bukan kah ini terlalu cepat?" tanya Elnaz sembari duduk di samping ibu mertua nya.
"Bukankah besok malam kalian ada acara..., au, Honey..." pekik Dokter Liam karena calon istri nya itu tiba tiba mencubit nya.
"Acara apa besok malam?" tanya Elnaz penasaran.
"acara nya Teman" jawab Suster Jessy.
__ADS_1
Arfan pun datang dan bergabung dengan mereka, kemudian Arfan meminta Elnaz kembali ke kamar dan tidur.
"Baru jam 7, Kak. Masak iya El di suruh tidur" ketus Elnaz.
"Besok pagi El harus bangun pagi, kita ada acara" kata Arfan.
"Acara apa memang nya?" tanya Elnaz.
"Acara siraman sama sungkeman" jawab Arfan dengan tenang nya yg membuat Elnaz tercengang namun kemudian tertawa, karena menganggap suami nya itu becanda.
"Kakak serius, kenapa malah ketawa? Maka nya kakak bawa kamu pulang"
"Okey" jawab Elnaz asal, kemudian ia kembali ke kamar nya karena ia memang mengantuk setelah memakan dua setengah mangkuk kolak buatan ibu mertua nya.
"Elnaz tidak tahu kalau kalian pulang untuk mengadakan resepsi pernikahan?" tanya Dokter Liam pada Arfan.
"Aku mau memberi nya kejutan, Liam. Dia pasti akan sangat bahagia, aku tidak pernah tahu pernikahan impian dia itu ternyata sangat sederhana. Yaitu hanya ingin di akui dan di restui" tutur Arfan.
"Mengadakan resepsi ulang memang pilihan yg bagus sih, Fan. Tapi memang nya sempat? Kalian harus memilih dekorasi, memilih gaun dan sebagainya nya" tukas Suster Jessy.
"Semua nya sudah aku urus, Elnaz hanya tinggal memilih gaun pengantin kami dan soal dekorasi, aku sudah tahu dekorasi yg dia inginkan. Undangan juga sudah dj sebar sama Mama Papa, sama mertua juga" tutur Arfan menjelaskan.
"Aku juga sudah memberikan undangan resepsi pernikahan kalian pada teman teman kita, aku tidak tahu sih apakah mereka bisa datang atau tidak, karena ini sangat mendadak" ujar Dokter Liam.
"Aku harap semua nya datang, aku ingin sekali membuat Elnaz bahagia" ucap Arfan penuh harap.
Ia teringat dengan buku diary Elnaz, dimana Elnaz menuliskan pernikahan impian nya dengan pria yg dia cintai, dengan di awali lamaran yg romantis dan juga resepsi pernikahan yg menyenangkan, dimana semua orang me restui nya dan mendoakan nya.
__ADS_1
Arfan melihat tanggal dan tahun Elnaz menulis diary nya itu dan itu sebelum Arfan menikahi nya, Arfan menjadi merasa bersalah pada Elnaz, yg telah merampas masa remaja Elnaz dengan paksa dan tidak memberikan pernikahan impian yg Elnaz dambakan.
Tapi Arfan tahu, ia tidak terlambat. Arfan tidak terlambat untuk memenuhi impian sang istri