(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 78 - Masalah yg Sama


__ADS_3

Lpon "Kak, El tidak ngaco. Robin sendiri yg bilang, kakak tahu Robin? anak nya Pak Andrew. Robin juga bilang kalau Jimmy punya anak yg baru berusia satu tahun. Jimmy itu sering selingkuh dan pemain hati"


"Elnaz, kenapa kamu bicara begitu? Memang nya ada buktinya?" tanya Elsa yg tentu saja menolak percaya pada omongan Elnaz yg di anggap omong kosong.


"Ya El tidak punya bukti, tapi El juga yakin kalau Jimmy itu bukan pria yg baik, Kak Elsa. Setidak nya Kak Elsa cari tahu dulu tentang Jimmy, memang nya Kak Elsa sudah sangat mengenal Jimmy?" Elsa tentu tak bisa menjawab pertanyaan adik nya itu karena ia memang tidak tahu apapun tentang Jimmy.


Perasaan Elsa semakin was was dan fikiran nya mulai tidak tenang.


Bagaiamana jika yg di katakan Elnaz itu benar?


"Kak, Kak Elsa masih dengar El kan?" tanya Elnaz dari seberang telpon namun Elsa malah langsung memutuskan sambungan telpon nya dengan Elnaz.


Ia pun segera keluar dari apartemen Jimmy untuk pergi mencari Jimmy dan menanyakan hal itu.


.........


Sementara itu, Elnaz hanya bisa menatap ponsel nya setelah Elsa mematikan telpon nya secara sepihak.

__ADS_1


"Bukti? Kak Elsa ingin bukti" gumam Elnaz, ia bahkan tidak memikirkan hal itu. Dan benar juga, kenapa Elnaz bisa percaya begitu saja pada cerita Robin.


"Tapi tidak mungkin Robin berbohong" gumam Elnaz lagi.


Ia pun berusaha mengenyahkan semua fikiran fikiran liar dalam otak nya dan berusaha kembali fokus pada tugas nya. Namun beberapa menit kemudian ponsel Elnaz berdering dan Elnaz berfikir itu Elsa yg menelpon balik sehingga ia langsung menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa penelpon nya.


"El..." Elnaz mengernyit saat terdengar suara Mama mertua nya dari seberang telpon.


"Iya, ini Mama. Kamu telponan sama siapa dari tadi? sibuk terus telpon mu" tukas sang ibu yg terdengar kesal.


"Sama Kak Elsa, Ma. Memang nya ada apa, Ma?" tanya Elnaz malas.


"Memeriksa diri kenapa? El tidak sakit"


"Mama tahu kamu tidak sakit, tapi kan kamu tidak bisa punya anak, jadi sebaiknya periksa, biar tahu masalah nya apa" Elnaz menggeram marah mendengar apa yg sudah di ucapkan ibu mertua nya itu. Ia bahkan menggenggam pena nya dengan begitu kuat.


"Mama..." Elnaz mendesis tajam, kesabaran nya sudah menipis dan seperti nya akan segera habis karena tekanan bayi dan bayi itu.

__ADS_1


"Aku bukan nya tidak bisa punya anak, aku hanya belum hamil" Elnaz mendesis tajam karena ia sungguh merasa apa yg di lakukan ibu mertua nya itu sudah kelewat batas.


"Iya kan sama saja, El. Maka nya Mama bilang periksa ke Dokter, biar tahu masalah nya itu apa. Dan kalau memang kamu bisa punya anak, ya Alhamdulillah, Mama akan sabar menunggu. Tapi kalau misal nya kamu memang tidak bisa punya anak, sebaik nya Mama nikahkan Arfan dengan anak teman Mama... "


"MAMA..." Elnaz berseru dengan penuh kekesalan dan amarah, ia sungguh tidak menyangka Mama mertua nya yg masih tante kandung nya sendiri bisa dengan sebegitu tega nya pada Elnaz, berbicara seperti dan menyakiti hati Elnaz.


"Aku bisa punya anak, aku akan memberikan suami ku anak dan suami ku tidak akan pernah menikah lagi!!!" tegas Elnaz tajam dan ia langsung mematikan ponsel nya, supaya ibu mertua nya itu tidak perlu lagi menghubungi nya dan membahas masalah yg sama lagi dan lagi.


Sekarang Elnaz bukan hanya merasa sedih dan kesal, tapi ia merasa marah, sangat marah. Kesabaran nya sudah habis dan ia tidak bisa menerima tekanan lagi.


Menahan semua perasaan yg bercampur aduk itu, Elnaz tak kuasa membendung air mata nya.


"Sampai kapan aku akan di pandang penuh kekurangan ya Allah?" gumam nya dengan hati yg begitu sesak "Sampai kapan aku harus tertekan dengan keluarga ku sendiri yg tidak bisa menerima takdir yg Kau Garis kan dan tidak bisa bersabar menunggu anugerah dari Mu? aku lelah ya Allah. Lelah sekali. Bukan mau ku terlahir sebagai perempuan ketika orang tua menginginkan anak laki laki, bukan mau ku tidak hamil hamil sementara mertua ku sangat ingin cucu. Memang nya aku bisa apa? aku hanya hamba Mu, yg lemah dan tidak tahu apapun. Tapi semua orang menyalahkan ku... "


Elnaz menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, hingga air mata memabasahi kedua tangan nya itu. Ia masih menangis sesegukan selama beberapa saat, hingga perlahan tangis nya mereda dan ia kembali mendongak, duduk tegak dan menghapus air mata yg memabasahi wajah nya. Elnaz menarik nafas dalam dalam menghembuskan nya secara perlahan.


"benar, aku memang tidak bisa apa apa selama ini. Yg terjadi bukan atas kemauan ku sendiri, aku seperti daun kering yg mengambang di atas air dan hanya ikut kemana air mengalir. Tapi sekarang aku akan memutuskan apa yg aku mau, yaitu pernikahan ku, suami ku. Aku tidak mau dan tidak akan lagi mau di tekan dengan masalah yg sama lagi dan lagi"

__ADS_1


Elnaz menguatkan diri nya sendiri, ia sudah lelah menangis karena kesal, karena marah dan karena lagi lagi harus di tekan. Kini ia memutuskan tidak akan ada lagi yg menekan nya. Elnaz hanya berharap ia bisa menjadi wanita yg kuat dan pantang menyerah seperti mendiang nenek nya. Dan yg pasti, Elnaz tidak akan mau menerima siapapun ikut campur lagi dalam pernikahan nya.


__ADS_2