(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 60 - Anak Yg Membanggakan


__ADS_3

Elsa pergi ke sebuah club malam setelah mendapatkan telpon dari Jimmy, dan disana ia langsung di sambut oleh Jimmy dan beberapa teman teman nya. Jimmy memperkenalkan Elsa pada mereka semua dan Elsa menyambut perkenalan itu dengan baik, Elsa teringat saran Olga agar Elsa lebih membuka diri pada orang baru di kota baru ini, supaya memudahkan hidup Elsa dan begitu juga dengan karir nya.


Elsa juga tak bisa Mengenyahkan bayang bayang Elnaz bersama Arfan, sedang apa mereka sekarang? bermesraan lagi? Menghabiskan malam yg panjang lagi? Tanpa sadar Elsa menggeram tertahan, hati nya sungguh sakit membayangkan Elnaz dan Arfan yg sedang mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia, sementara diri nya terombang ambing dalam kesendirian.


"Nih...." Jimmy menyerahkan gelas yg berisi minuman beralkohol pada Elsa.


"Aku tidak minum alkohol" jawab Elsa menolak dengan sopan.


"Aku lihat kamu seperti nya sedang tertekan, karena itulah, coba ini, ini akan mengusir semua hal yg membuat kepala mu pusing itu" ujar Jimmy sembari terkekeh, Elsa menatap gelas itu, ada sedikit dorongan untuk mencicipi minuman itu namun ia masih tak berani.


"Baiklah, tidak apa apa jika tidak mau. Mungkin minuman ini tidak akan membantu mu, tapi seperti nya aku bisa. So, ceritakan pada ku, miss Elsa, apa yg membuat mu sedih? jika tentang pekerjaan, kau jangan khawatir, aku akan membuat mu banjir dengan tawaran pekerjaan" Elsa tersenyum mendengar ucapan Jimmy, kemudian ia mengambil gelas dari tangan Jimmy dan langsung meneguk isi nya hingga habis, membuat Jimmy tercengang namun kemudian tertawa.


Sementara Elsa sekarang hanya meringis, ia merasa tenggorokan nya seperti terbakar namun ada rasa yg membuat nya ingin merasakan nya lagi.


"Tenggorokan ku seperti terbakar, tapi aku ingin lagi" ucap Elsa dan Jimmy dengan senang hati kembali menuangkan minuman yg tak seharus nya di sentuh oleh Elsa itu.


"Ugh, rasa nya segar sekali" ujar Elsa dan lagi lagi Jimmy mengisi gelas nya dengan alkohol, Elsa pun kembali meminum nya dalam sekali tegukan hingga habis tak tersisa.


"Ini nikmat, Jim. Seandai nya ini bisa membuat ku melupakan seseorang, aku akan meminum ini setiap hari" ujar Elsa dan ia seperti nya sudah kehilangan setengah kesadaran nya.


"Mau lagi..." ia merengek pada Jimmy namun Jimmy menjauhkan botol itu dari hadapan Elsa.


"No no, sudah cukup" ujar Jimmy "Memang nya siapa yg ingin kamu lupakan? Mantan tunangan mu itu? aku fikir kalian sudah baikan" ujar Jimmy.


"Hem no, itu tidak mungkin..." ujar Elsa lagi "Kecuali adikku yg kalem itu mau berbaik hati mengembalikan kekasih ku...."


"Adik?" tanya Jimmy dan Elsa mengangguk sedih, bahkan satu bulir air mata nya berhasil keluar dari sudut mata nya yg mulai sayu itu.


"Ya, adikku yg masih kecil, sekecil ini..." Elsa membuat perumapaan dengan tangan nya di udara "Tapi dia sudah menikah, menikahi tunangan kakak nya. Apa kau tahu bagaimana perasaan ku? Hiks... Hiks" Elsa menangis dan ia menjatuhkan kepala nya di atas meja.


Jimmy yg tadi nya duduk di hadapan Elsa kini berpindah ke samping Elsa, ia mengusap lembut punggung wanita itu yg bergetar karena isak tangis nya.


"Rasa nya sakit sekali, Jim... Orang yg aku cintai, menikah dengan adik ku, bercinta dengan adik ku, dan mungkin akan punya anak dari adik ku, hiks hiks...."


"Ssshhhtt, tenanglah, Sa. Kamu pantas mendapatkan yg lebih baik dari mantan tunangan mu itu. Jangan menangis lagi ya..." bujuk Jimmy dan Elsa menganggukan kepala nya namun masih menangis.


..........

__ADS_1


"Assalamualaikum, Nek..." Sapa Elnaz girang saat layar ponsel nya menampilkan wajah keriput sang nenek.


"Waalaikum salam, El...." jawab sang nenek dengan suara parau nya, Elnaz memperhatikan wajah teduh yg semakin hari semakin keriput itu, dan Elnaz merasa sekarang nenek nya itu tampak pucat.


"Nenek sakit ya?" tanya Elnaz sedih.


"Tidak, Nak. Cuma batuk, sudah meminum ibarat, alhamdulilah sudah mendingan.. Uhuk uhuk" jawab sang nenek di sela batuk nya.


"Nenek, di jaga makanan nya ya, biar tidak batuk" ucap Elnaz lagi "Selain batuk, Nenek sakit apa lagi? Nenek pucat sekali" tanya Elnaz yg semakin khawatir apa lagi saat mendengar batuk sang nenek yg terus menerus.


"Nenek tidak apa apa, Sayang. Nama nya juga sudah berusia, ya begini. Oh ya, suami mu dimana?"


"Lagi gosok gigi" Jawab Elnaz "Papa mama dimana, Nek? Oh ya, Kak Elsa sudah telpon belum?"


"Papa Mama mu ada di kamar nya, tadi nenek sudah tanya apa Elsa ada menghubungi mereka atau tidak karena nenek sangat mengkhawatirkan kakak mu itu, tapi kata nya tidak ada dan nomor Elsa juga belum aktif"


"Apa?" tanya Elnaz heran, karena tadi Elsa mengatakan ia akan menghubungi Mama Papa nya.


"Nek, tadi Kak Elsa kerumah, El sudah minta dia sudah telpon Mama Papa. Nenek jangan khawatir ya, Kak Elsa baik baik saja kok" ujar Elnaz yg membuat nenek nya itu menghela nafas lesu.


"Kakak mu itu keras kepala, dia marah sama Papa nya gara gara di suruh berhenti bekerja"


"Iya, andai Elsa mengerti hal itu" ujar sang nenek


"El telpon Papa dulu ya, Nek. Mau memberi tahu kalau Kak Elsa baik baik saja" ujar Elnaz kemudian


"Tunggu, biar nenek ke kamar mereka, pakai telpon ini saja. Kamu juga pasti kangen melihat mereka kan?" tanya sang nenek dan tentu Elnaz mengangguk cepat, karena Elnaz memang sangat merindukan mereka bahkan terkadang Elnaz sampai seolah melihat wajah mereka.


Namun selama ini Elnaz tidak berani melakukan video call, karena biasa nya mereka selalu beralasan sedang sibuk.


Kini di layar ponsel nya, nenek nya terlihat sedang berjalan ke kamar anak nya.


"Telpon nenek, Sayang?" tanya Arfan yg kini ikut bergabung ke ranjang bersama sang istri.


"Iya" Jawab Elnaz dan terlihat sang nenek yg mengetuk pintu kamar dan ayah nya Elnaz membukakan pintu, kemudian terdengar nenek nya yg mengatakan Elnaz ingin bicara dan wajah sang ayah yg sangat di rindukan Elnaz pun terpampang jelas di layar ponsel Elnaz.


"Assalamualaikum, Pa..." ujar Elnaz ceria.

__ADS_1


"Waalaikum salam, El. Apa kabar mu, Nak?" tanya Pak Malik yg membuat Arfan langsung menaikan sebelah alis nya, bukan Karena apa tapi karena jarang sekali mereka menanyakan keadaan Elnaz terlebih dulu.


"Alhamdulillah, El baik, Pa. Papa Mama apa kabar? Mama dimana?" tanya Elnaz lagi


"Kami juga baik baik juga saja, dan saat ini Mama mu sedang membereskan dapur seperti nya, karena kamu baru selesai makan malam"


"Oh begitu, oh ya, Pa.. Tadi Kak Elsa kerumah, Kak Elsa baik baik saja kok. Papa Mama jangan khawatir ya..." ucap Elnaz yg membuat raut wajah Pak Malik tampak masam.


"Papa tidak perduli sama dia, El. Dia tidak bisa menghormati Papa sebagai orang tua nya" ujar Pak Malik dan nada suara nya terdengar begitu kesal. Elnaz yg mendengar itu tampak sedih karena sang ayah sedih, Elnaz tahu dengan pasti, ayahnya itu tidak mungkin benar benar tidak perduli pada Elsa, ayah nya itu hanya sedang sedih dan kecewa.


"Pa, Kak Elsa bukan nya tidak menghormati Papa. Dia cuma kesal saja mungkin, El yakin kok, nanti kak Elsa akan pulang dan meminta maaf pada Papa, mengikuti keinginan Papa supaya tidak melanjutkan keinginan nya menjadi model"


"Mana mungkin, El. Kakak mu itu kepala nya sekeras batu, begitu juga hati nya. Biarkan saja dia menjadi model apapun dan dimana pun, Papa tidak mau perduli lagi"


"Papa, Papa kan orang tua kami, kami sangat membutuhkan dukungan dan pegangan tangan Papa, dan sebagai anak anak, kami terkadang tidak melihat yg mana yg benar dan yg mana yg salah. Kalau Papa melepas tangan dari kami, maka akan selamanya kami tersesat, Papa" tutur Elnaz yg membuat Arfan tersenyum saat mendengar nya. Sementara Pak Malik tampak menampilkan senyum samar nya.


"Setelah menikah kamu menjadi semakin dewasa ya, Papa bangga sama kamu, Nak" ujar Pak Malik yg membuat Elnaz tersenyum lebar pada ayah nya itu.


"Kan El anak nya Papa" ujar Elnaz lagi.


"Baiklah, El. Papa mau bikin kopi dulu, kamu baik baik di sana ya. Dan kalau kamu ketemu Elsa lagi, bilangin sama dia, kami sayang sekali pada nya dan kami menunggu kabar dari nya"


"Iya, Pa. Inysa Allah, assalamualaikum, papa"


"Waalaikum salam, Elnaz"


Setelah memutuskan sambungan telpon nya, Elnaz meletakkan ponsel nya di atas meja. Sementara Arfan sekarang sedang memangku dagu nya dengan tangan nya sembari menatap Elnaz


"Kenapa Kak Arfan lihatin Elnaz begitu? El cantik ya?" goda Elnaz yg membuat Arfan tertawa geli.


"Sangat cantik..." jawab Arfan "Em boleh kakak tanya, Sayang?"


"Silahkan..." jawab Elnaz sembari merapikan bantal dan Arfan langsung meletakkan kepala nya di bantal itu kemudian ia menarik Elnaz ke dalam dekapan nya.


"Kamu tidak ada benci begitu sama Papa Mama mu? Secara selama ini, mereka terang terangan pilih kasih nya"


"Benci sih tidak, hanya terkadang sedih. Tapi apapun itu, bagi El mereka tetaplah malaikat tak bersayap nya El, dan kata nenek, benci sama orang tua itu tidak boleh, nanti kualat" Arfan tertawa mendengar jawaban sang istri. Ia mengecup ubun ubun sang istri dengan sayang.

__ADS_1


"Hanya orang bodoh yg tidak bisa mencintai mu, Elnaz"


__ADS_2