
"Naik taksi lagi, El?" tanya Robin pada Elnaz dan Elnaz hanya mengangguk pelan.
"Bareng sama aku saja, kita searah dengan tempat kerja ku" ajak Robin.
"Terima kasih, Rob. Tapi aku sudah panggil taksi kok" jawab Elnaz "Oh ya, aku boleh tanya?"
"Mau tanya apa? Mau tanya apa aku sudah punya pacar?" goda Robin yg membuat Elnaz tertawa.
"Bukan, mau tanya apa kenapa kamu bekerja sementara ternyata kamu itu anak orang kaya" ujar Elnaz dan seketika Robin langsung menampilkan wajah datar nya.
"Tidak apa apa" jawab Robin datar dan Elnaz pun memahami kalau Robin tak ingin membahas hal itu. Elnaz pun tak melanjutkan topik itu.
Elnaz melirik arloji nya karena taksi nya tak kunjung datang. Ia pun mencoba menghubungi taksi nya namun ia malah mendapatkan kabar kalau ban mobil taksi itu sedang bocor.
"Kenapa?" tanya Robin yg melihat Elnaz tampak kesal.
"Ban bocil taksi nya bocor kata nya..." ujar Elnaz kesal.
"Hem seperti nya takdir kita pulang bareng, ayo lah, El. Aku tidak akan menggoda mu, aku tahu kamu punya suami. Lagi pula kita kan hanya teman" ujar Robin lagi. Elnaz memikirkan hal itu sejenak, namun kemudian ia mengangguk setuju. Membuat Robin tersenyum senang.
Elnaz pun naik ke motor Robin dan Robin segera menjalankan motor nya. Selama dalam perjalanan pulang, Elnaz tanya terdiam. Ia kembali memikirkan Arfan yg benar benar tampak dingin sejak kemarin, di tambah tekanan mertua yg menginginkan bayi.
"El..."
"Elnaz..." panggil Robin karena ia melihat Elnaz yg tampak melamun dari spion motor nya.
"Hah, ya? Kenapa?" tanya Elnaz gelagapan.
"Melamun saja, kenapa? Suami mu selingkuh?" goda Robin sambil terkekeh geli namun Elnaz malah memasang tampang serius nya dan bagi nya itu bukan candaan
Robin kembali melirik Elnaz dari kaca spion dan Robin tahu seperti nya ia sudah salah memilih topik gurauan. Keduanya pun kembali terdiam selama beberapa saat, hingga Robin yg merasa bosan kembali memanggil Elnaz.
"Elnaz..."
__ADS_1
"Hm..."
"Sejak kapan kamu mengenal Jimmy dan Papa?" tanya Robin yg membuat alis Elnaz mengkerut.
"Kenapa memang nya?" tanya Elnaz balik.
"El, semenjak pertama kali aku kenal kamu, aku tahu kamu orang baik, begitu juga suami mu. Karena itu lah aku mengingatkan kalau bergaul dengan Jimmy dan Papa itu bukan pilihan yg baik" ucap Robin serius yg membuat kerutan di kening Elnaz semakin dalam.
"Maksud nya?" tanya Elnaz karena ia memang masih tidak mengerti. Robin tampak nya ingin mengucapkan sesuatu namun ia terlihat ragu, belum lagi saat ini mereka sedang berada di tengah jalan dan sedang dalam perjalanan.
"Maksud nya apa, Rob?" tanya Elnaz lagi karena ia sangat penasaran.
"Nanti saja aku cerita nya" jawab Robin dan tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Elnaz. Elnaz pun turun dari motor Robin.
"Memang nya Jimmy itu kenapa, Rob?" tanya Elnaz lagi karena ia tahu Jimmy dan Elsa itu pasti punya hubungan, Elnaz jadi khawatir pada kakak nya jika Jimmy ternyata bukan orang baik.
"Jimmy itu play boy. Dia fotografer yg bekerja sama dengan perusahaan Papa, dan ada banyak sekali model model yg menjadi korban nya, El" tutur Robin penuh keyakinan yg membuat Elnaz tampak shock, karena Elsa juga model di agensi model milik Papa nya Robin.
Arfan keluar dari mobil nya dan ia tampak marah pada Elnaz.
"Masuk!!!" perintah Arfan dingin.
"I... Iya, Kak" jawab Elnaz "Terima kasih ya, Rob" ucap nya kemudian dan Robin hanya tersenyum kemudian ia kembali menjalankan motor nya dan pergi dari sana.
"Kak Arfan kata nya lembur?" tanya Elnaz berusaha mencairkan suasana karena Arfan menampilkan ekspresi super dingin nya saat ini.
"Terus kenapa kalau aku lembur? Kamu mau jalan jalan sama Robin?" tanya nya yg justru lebih ke bentuk tuduhan, membuat Elnaz terkejut karena ia tak menyangka Arfan akan berkata seperti itu.
"Kak Arfan bicara apa sih, Kak? Tadi aku menumpang sama Robin karena taksi yg aku pesan tidak bisa datang, ban mobil nya bocor. Tempat kerja Robin juga searah sama rumah kita" jelas Elnaz namun seperti nya Arfan tetap tidak bisa menerima penjelasan itu.
"Memang nya kamu tidak bisa pesan taksi yg lain?" Justru pertanyaan itu yg kembali keluar dari bibir Arfan dan Elnaz tak menjawab nya, ia melenggang masuk ke dalam rumah. Arfan pun mengikuti nya drama belakang.
"Jawab pertanyaan ku, Elnaz..." tegas Arfan namun Elnaz masih enggan menjawab nya, karena ia merasa sakit hati dengan tuduhan Arfan tadi.
__ADS_1
"Elnaz, kamu tidak bisa mendengar ku, huh? Kenapa kamu harus pulang sama Robin? Aku meminta mu naik taksi, kenapa kamu dengan seenak nya pulang sama laki laki lain tanpa seizin suami mu? Sejak kapan kamu menjadi pembangkak begini?" seru Arfan yg membuat Elnaz semakin kesal bahkan ia akan segera menangis saking kesal nya dan ia benar benar tidak menyangka suami nya akan menyebut nya pembangkang.
"El minta maaf karena sudah membangkang dan tidak bisa menjadi istri yg sempurna" jawab Elnaz dingin akhir nya dan ia masih terus berjalan menuju kamar nya.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak mengikuti perintah ku untuk naik taksi? Memang nya tidak bisa memanggil taksi yg lain?" tanya Arfan dengan emosi yg tentu semakin memancing emosi Elnaz.
"Bisa..." jawab Elnaz kemudian sambil menghentikan langkah nya dan berbalik menghadap Arfan. Elnaz bahkan setengah berteriak.
"El bisa pesan taksi lagi, tapi masih harus menunggu lagi. Sementara El ingin segera pulang, ingin istirahat, pekerjaan rumah juga masih banyak yg belum El kerjakan" ucap Elnaz dengan suara bergetar bahkan tanpa sadar ia kembali meneteskan air mata, entah kenapa ia benar benar merasa kesal pada Arfan sekarang dan emosi nya langsung memuncak.
"Memang nya menunggu taksi sampai sejam? Tidak kan?" tanya Arfan lagi masih dengan emosi, bahkan ia seolah tak melihat air mata Elnaz karena emosi sejak tadi saat melihat Elnaz bersama laki laki lain.
"Iya, aku salah... Aku minta maaf, aku tidak akan membangkang lagi. Maaf karena tidak bisa menjadi seperti yg kamu mau" tukas Elnaz kemudian dan ia langsung berlari ke kamar nya sambil menangis.
Seketika Arfan termangu dan ia seolah baru sadar dengan apa yg baru saja terjadi.
"Elnaz..." seru Arfan sambil berlari masuk ke kamar nya dan ia mendapati Elnaz yg sedang memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang.
"El, kakak minta maaf, Sayang" ucap Arfan lembut namun Elnaz seolah tak mendengar nya, air mata bahkan masih mengalir di pipi nya meskipun berkali kali Elnaz sudah menghapus nya.
"El..." panggil Arfan memelas tapi Elnaz malah pergi ke belakang untuk mencuci baju.
"Elnaz, kakak minta maaf..." Arfan masih setia mengikuti istri nya itu.
"Tidak perlu minta maaf, kan yg salah aku, yg pembangkang aku, aku memang bukan istri yg baik" ucap Elnaz dingin yg membuat Arfan menghela nafas berat.
"Sayang, bukan itu maksud kakak..." ucap Arfan namun tiba tiba ponsel nya berdering, Arfan melihat nomor rumah sakit tertera di layar ponsel nya.
Arfan menjawab panggilan itu dan suster meminta Arfan untuk segera ke rumah sakit karena ada keadaan darurat.
"Sayang, kakak pergi dulu. Kakak janji akan pulang secepatnya" ucap Arfan namun Elnaz tak menghiraukan nya.
Walaupun begitu, Arfan tetap mengecup kepala Elnaz yg saat ini sedang mencuci pakaian dan sekali lagi Arfan meminta maaf.
__ADS_1