
Waktu terus bergulir hingga tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Acara syukuran rumah baru Nala pun selesai. Semua orang yang di undang sudah pamit undur diri mengingat waktu juga sudah malam.
Kini, tinggallah keluarga inti dari Nala dan Reigha. Ada pak Prabu, bu Nilam, Bu Laras, Ananta, dan si kembar. Mereka tengah membereskan rumah dan menggulung semua karpet yang baru saja digunakan.
Jelas mereka kasihan jika bi Ati harus membersihkan semuanya sendiri. Akhirnya, tidak berapa lama rumah sudah kembali bersih dan rapi. Merasa tidak terlalu banyak anggota keluarga, Reigha menyarankan semua untuk duduk dan berbincang santai di ruang keluarga.
"Akhirnya selesai juga," ucap bu Nilam merasa lega.
"Iya. Aku juga merasa lega setelah semua selesai. Semoga setelah ini, anak dan cucu kita diberikan kebahagiaan dan rezeki yang mengalir," sahut bu Laras yang segera diaminkan oleh semua.
"Reigha," panggil pak Prabu tegas.
Hal itu tentu membuat semua yang berada di ruangan mengalihkan perhatiannya pada pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah Reigha.
"Kenapa, Pa? Sepertinya sangat serius," jawab Reigha merasa waspada.
Pak Prabu menghela napas pelan. "Papa hanya ingin berpesan, walau Papa hanya ayah mertua dari Nala, bukan berarti Papa lepas tanggung jawab begitu saja. Papa sudah menganggap Nala seperti anak Papa sendiri," ucap pak Prabu panjang lebar mulai mengatakan maksud.
"Iya aku tahu. Bahkan, aku seperti anak tiri padahal aku adalah anak kandung," jawab Reigha terkekeh mengingatnya. Semua yang berada di ruangan sontak tergelak termasuk pak Prabu.
"Terserah kamulah. Papa harap, kamu bisa menjadikan kejadian di masa lalu sebagai pelajaran. Apapun masalah kalian, sebesar atau sekecil apapun, harus dibicarakan dengan pasangan. Jangan pernah mencoba untuk menyembunyikan sesuatu. Kalian harus saling terbuka. Karena kunci dari sebuah hubungan adalah keterbukaan. Dengan kita terbuka, pasangan akan percaya. Lalu, urusan yang lainnya akan mengikut dan semua akan berjalan lancar dan indah," ucap pak Prabu memberikan petuahnya.
Reigha dan Nala yang merasa sedang menjadi tersangka, mengangguk mengiyakan. Terbuka dan saling percaya memang kunci dari sebuah hubungan yang langgeng. Sebenarnya masih banyak alasan penyokong sebuah hubungan. Namun, itulah yang paling penting sebagai sebuah pondasi rumah tangga.
"Pasti, Pa. Aku tidak akan menyia-nyiakan Nala lagi. Aku bersyukur karena Nala masih bersedia memberikan kesempatan kedua untukku," jawab Reigha tersenyum lalu menggenggam tangan Nala lembut.
Matanya melirik Nala dengan bibir yang mengulas senyum. Nala balas tersenyum sangat manis dan membuat perasaan di hati Reigha berbunga-bunga.
"Terima kasih, Sayang," ucap Reigha manis.
Semua ikut tersenyum seakan kebahagiaan Nala dan Reigha menyalur pada mereka.
"Yeay! Akhirnya kita memiliki keluarga lengkap," pekik Zia bahagia.
__ADS_1
Senyum semua semakin berkembang sempurna. Lengkap sudah kebahagiaan semuanya. Termasuk Nanta. Dia bahagia karena sang Kakak telah menemukan kebahagiaan.
"Oh iya, Nan," ucap bu Laras tiba-tiba yang membuat perhatian semua orang tertuju pada beliau.
"Kenapa sih, Buk? Merusak suasana saja," kesal Nanta karena dirinya sedikit terkejut dengan panggilan sang ibu yang menggunakan nada sedikit tinggi.
Bu Laras terkekeh. "Maafkan aku," ucap bu Laras sambil mengangguk-angguk menatap satu-persatu orang.
"Ck. Tidak perlu seformal itu juga, Ras. Kita semua adalah keluarga," ucap bu Nilam berdecak pelan.
"Jadi begini mumpung ibu ingat. Soalnya, Ibu mau menyampaikan ini sejak kemarin selalu saja lupa. Maklum, faktor umur tidak bisa berbohong," kelakar bu Laras.
"Ya sudah, Buk. Katakan saja," jawab Nanta lembut.
"Sepertinya, lusa kamu harus ke Jakarta. Ada sedikit masalah disana. Ibu mau kamu tangani masalah itu dengan segera. Untuk cabang Bandung, nanti Ibu bisa meminta orang kepercayaan untuk mengurusnya," jelas bu Laras panjang lebar.
Nanta mengangguk. "Tentu. Anakmu siap melaksanakan tugas dari Ibu Suri," jawab Nanta yang membuat suasana kembali menghangat.
..............
Nala juga sudah memperkerjakan salah satu baby sister untuk menjaga Zia dan Zio. Nala tidak mungkin selalu meninggalkan anak-anak saat dirinya bekerja tanpa pengawasan yang baik. Apalagi, Zia dan Zio kini sudah masuk ke sekolah.
"Bye Mommy! Nanti jemput kita ya," ucap Zia sambil melambaikan tangan masuk ke ruang kelasnya. Zio juga melakukan hal yang sama.
"Belajar yang rajin ya, Sayang," jawab Nala balas melambaikan tangan dengan senyum yang merekah. Sudah hampir satu bulan ini Zia dan Zio masuk ke sekolah. Dan beruntungnya, dua bocah kembar itu tidak membuat drama dan mengharuskan Nala untuk menunggui.
Ada Sisil yang merupakan baby sister dua anaknya, yang menunggu Zia dan Zio sampai pulang. Sisil juga yang bertugas untuk menelepon Nala jika anak-anak akan pulang.
"Sisil?" panggil Nala kini beralih pada sang baby sister.
"Iya, Bu?" jawab Sisil sopan.
"Nanti telepon aku ya? Biar aku yang jemput karena Zia dan Zio menginginkan," ucap Nala berpesan.
__ADS_1
"Baik, Bu. Nanti saya akan telepon Ibu. Berarti, tidak perlu menelepon pak Rudi ya, Bu?" tanya Sisil lagi memperjelas.
Nala mengangguk membenarkan. "Terserah kamu sih. Sama saja sebenarnya. Tetapi, lebih baik kamu telepon aku. Kalau begitu, aku ke kantor dulu ya," pamit Nala yang segera mendapatkan anggukan hormat dari Sisil.
"Jalan, Pak," ucap Nala pada pak Rudi, sang Sopir pribadi.
"Baik, Bu. Ini langsung ke kantor kan, Bu?" tanya pak Rudi memperjelas.
"Iya, Pak. Hari ini ada klien yang mau menggunakan jasa kantor," jawab Nala membenarkan.
Setelah itu, tidak lagi ada suara. Dalam keheningan itu, Nala ingat jika dirinya belum menelepon sang suami yang mungkin saja baru memulai pekerjaan.
Nala mencari keberadaan ponsel di tas jinjingnya. Setelah ketemu, layar ponsel Nala langsung menunjukan pesan pop up dari sang Suami.
Pak Suami:
Jangan lupa setelah mengantar anak-anak, telepon aku ya, Sayang.
Begitulah kira-kira pesan yang ditinggalkan Reigha. Nala tersenyum dan segera menekan tombol hijau untuk menghubungi sang Suami.
Tanpa perlu menunggu lama, telepon terhubung. "Hallo Mas Sayang," ucap Nala lembut.
"Hai Sayangku. Zia dan Zio sudah masuk kelas ya?" tanya Reigha dan Nala mengangguk walau suaminya itu tidak melihatnya.
"Sudah, Mas. Aku sudah dalam perjalanan menuju kantor. Jam sembilan nanti ada pembahasan dengan klien," jelas Nala menceritakan hari yang akan dilaluinya nanti.
Perbincangan mengalir begitu saja hingga tidak terasa Nala sudah sampai di depan kantornya. Dengan terpaksa, Nala menutup panggilan karena suaminya itu juga harus bekerja.
"Yang semangat kerjanya ya, Dad. Biar weekend kita bisa jalan-jalan," pesan Nala terkekeh sendiri. Reigha yang berada di seberang sana ikut terkekeh.
"Pasti. Apapun itu untuk kalian semua," jawab Reigha tulus dan berhasil membuat senyum Nala semakin merekah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1