
Hari ketujuh.
Seperti biasa, Nala sudah bangun pagi untuk membuatkan Reigha sarapan. Roti bakar dengan selai coklat sudah selesai Nala buat. Nala tersenyum puas kemudian segera membuat teh hangat pada teko kecil agar nantinya saat Reigha meminum, teh tersebut sudah tidak terlalu panas.
Setelah selesai, kini Nala kembali menaiki tangga untuk membangun Reigha. Namun sebelum itu, Nala sudah meminta tolong bi Ati untuk menata sarapan buatannya di atas meja. Biasanya, Nala yang turun tangan sendiri. Namun, melihat jam di dinding dapur, mengingatkan Nala bahwa sudah tidak ada waktu lagi. Reigha akan terlambat jika Nala membangunkannya kesiangan.
Ceklek.
Nala membuka pintu kamarnya pelan dan mengulas senyum ketika mendapati Reigha masih tertidur begitu pulas. Nala naik ke ranjang kemudian menepuk pelan kedua sisi wajah Reigha.
"Bangun, Mas! Sudah siang ini. Nanti terlambat loh," ucap Nala lembut.
Seperti biasa, Reigha belum bergerak sama sekali jika Nala belum mencium Reigha di salah sisi wajahnya.
Cup.
Cup.
"Bangun, Mas! Mas Reigha Sayang! Sudah siang ini loh," ucap Nala lagi setelah mengecup hidung lalu bibir Reigha sekilas.
Reigha menggeliat dengan mengulas senyum tipis. "Aku sudah bangun sejak tadi," ucap Reigha dengan suara khas bangun tidurnya.
Nala mendengkus pelan. "Kenapa belum mandi? Kamu 'kan tahu, ini sudah tidak pagi lagi," ucap Nala bersungut kemudian segera menyentak selimut yang menutupi tubuh Reigha.
Nala menutup mata seketika saat melihat tubuh kekar Reigha terpampang begitu saja tanpa ada sehelai benang pun yang menempel. Sedangkan Reigha, dia tersenyum puas karena pagi-pagi begini sudah membuat Nala tersipu.
Nala sungguh menyesal telah membuka selimut sebagai penutup tubuh Reigha yang polos itu. "Kenapa kamu tidak bilang sih, Mas. Kamu sengaja kan?" ucap Nala kesal.
Reigha terbahak-bahak kemudian segera membawa tubuh Nala dalam dekapan. "Kenapa harus malu seperti itu? Bukankah hampir setiap hari kamu melihatnya?" tanya Reigha dengan menaik-turunkan alisnya.
Reigha langsung mendapat cubitan kecil pada bagian perutnya. "Ish! Kamu tuh suka sekali menggodaku. Kali ini berbeda, Mas. Aku dalam keadaan tidak siap," ucap Nala kemudian segera turun dari ranjang meninggalkan Reigha yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Buruan mandi, Mas!" ucap Nala sebelum benar-benar menghilang dari balik sekat.
Nala kembali masuk dalam kamar ketika mengintip bahwa Reigha sudah masuk ke kamar mandi. Nala geleng-geleng kepala melihat tingkah Reigha yang begitu suka menjahilinya.
Langkahnya terayun menuju lemari dimana pakaian Reigha di simpan. Nala memilih kemeja dan celana bahan untuk kemudian Reigha kenakan. Tidak lupa, Nala mengambil dasi dan jas yang memiliki warna senada dengan celana bahannya.
Nala tersenyum bahagia. Ini adalah hari ketujuh dimana dirinya menjalankan misi. Semoga nanti malam, Reigha benar-benar meninggalkan Sandra untuk selamanya.
__ADS_1
Lamunan Nala tersentak ketika pintu kamar mandi terbuka menampakkan Reigha yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kesini, Mas. Aku akan pakaian bajunya," pinta Nala sambil mengambil pakaian lengkap suaminya. Reigha menurut dan berdiri di depan Nala bagaikan bayi yang belum bisa memakai bajunya sendiri.
Semua pakaian sudah melekat di tubuh Reigha. Tinggal menyimpulkan dasi yang belum Nala lakukan. Nala menarik kerah kemeja Reigha agar merapat padanya. Nala tersenyum lalu berkata. "Jangan salah paham. Aku hanya ingin memakaikan dasi," ucap Nala setengah mengejek karena raut wajah Reigha terlihat ingin bertanya.
Dengan cekatan akhirnya Nala berhasil memakaikan dasi tersebut. "Sudah siap dan sudah tampan," ucap Nala memuji penampilan suaminya.
Cup.
"Terimakasih," jawab Reigha sambil mencuri kecupan di bibir Nala sekilas.
...................
Nala mematut dirinya di cermin, memastikan sekali lagi jika penampilannya sudah sempurna. Ini adalah malam dimana Reigha mengajaknya makan malam romantis seperti janjinya dua hari yang lalu.
Laki-laki itu saat ini sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah menyiapkan baju yang memiliki warna senada dengan dress yang dikenakan, Nala menunggu Reigha selesai dengan duduk di sisi ranjang.
Sepuluh menit kemudian, Reigha keluar dan mendekati Nala yang sudah menyiapkan baju untuknya. "Aku pakai ini kan?" tanya Reigha yang segera di angguki oleh Nala.
Nala ikut membantu Reigha mengenakan pakaiannya. Setelah semua siap, keduanya berangkat dengan membawa Nick bersama. Ya. Sudah hampir satu bulan ini Nala tidak melihat keberadaan Nick. Ternyata, Nick ditugaskan untuk mengurus perusahaan yang berada di Bandung.
Reigha melirik tajam pada Nala yang dengan mudahnya akrab dengan asistennya. "Aku hanya bertanya kabar Nick, Mas. Kamu tidak perlu menatapku seakan-akan ingin memakan seperti itu," ucap Nala terkekeh pelan.
Nick tidak menanggapi. Wajahnya masih saja datar seakan tidak peduli dengan pertanyaan yang Nala lontarkan.
"Jalan, Nick!" titah Reigha yang segera dilaksanakan oleh Nick.
Nala cukup heran dengan sikap Nick yang bertindak tidak biasanya. Setidaknya, setiap bertemu dengannya, Nick akan menyapa atau tersenyum tipis. Tetapi kali ini, Nick lebih banyak diam.
Tidak berapa lama, mobil akhirnya sampai di sebuah restoran mewah bintang lima. Reigha turun lebih dulu untuk menuntun Nala menuruni mobil. Nick yang melihat itu, tersenyum kecut menanggapi.
Nala digandeng oleh Reigha menuju ruangan VIP yang tertutup. Nala tersenyum haru ketika melihat ada dua kursi dan satu meja makan dengan di atasnya di hias bunga mawar merah. Ada lilin aromaterapi juga di atas meja tersebut.
Namun, pandangan Nala seketika tertuju pada seseorang yang sudah duduk di satu kursi yang tersedia. Jantung Nala seperti mencelos ketika mendapati Sandra tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
Reigha melenggang masuk kemudian memeluk tubuh ramping Sandra mesra. Nala yang masih berusaha mencerna situasi, berusaha meyakinkan diri bahwa ini tidak benar.
"Mas?" panggil Nala lirih.
__ADS_1
Reigha menatap Nala dengan datar. "Bagaimana aktingku sebagai suami yang baik selama tujuh hari? Sesuai perjanjian awal, Jiak tujuh hari aku bisa menjalankan misi, maka kamu akan pergi dan memohon pada mama untuk merestui hubungan kami," ucap Reigha yang berhasil membuat tubuh Nala kehilangan keseimbangan.
"Ma-maksud kamu apa, Mas?" tanya Nala masih belum memercayai situasi saat ini.
Sandra tersenyum. "Sandiwara telah selesai, Nala. Kamu terlalu percaya diri bisa membuat Reigha berpaling dariku. Pernikahan kalian sudah selesai seperti di perjanjian yang tertulis," jelas Sandra angkuh.
Nala melangkah gontai mendekati Reigha. "Maksud kamu apa, Mas? Coba katakan. Aku ingin mendengarnya langsung darimu," ucap Nala menatap Reigha lekat dengan pandangan yang buram karena matanya sudah tertutup cairan bening.
Reigha menatap Nala datar dan lama. "PERNIKAHAN KITA SELESAI." ucap Reigha sengaja mengeja setiap kata.
Nala mendongakkan kepala agar air matanya urung tumpah. "Tapi kenapa? Bukankah kamu mulai mencintaiku?" tanya Nala lagi, merasa belum menerima keputusan Reigha.
"Aku katakan sekali lagi jika itu hanya sandiwara," jawab Reigha datar.
Nala menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya, Mas. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan mudah? Aku akan buktikan jika kamu juga mulai mencintaiku," ucap Nala kemudian merapatkan tubuhnya lalu mencium bibir Reigha.
Nala berharap Reigha membalas ciumannya. Namun, Reigha hanya terdiam tanpa berniat membalas. Sandra yang menyaksikan itu, merasa tidak terima hingga mendorong bahu Nala agar menjauh. Nala tersungkur ke lantai karena dorongan itu hingga membuatnya memekik.
"Aaa!"
Rasa sakit di hatinya semakin bertambah ketika melihat Reigha tidak punya niatan untuk membantunya berdiri. Apakah Reigha benar-benar bersandiwara? Mengapa semua seperti sangat nyata? Bodohnya Nala yang sudah berpikir bahwa Reigha telah kembali direngkuhnya.
"Pergi dari sini dan segera urus perjanjian yang harus kamu tepati," ucap Sandra menggeram kesal.
Dengan dada naik turun, Nala bangkit berdiri. Dia merasa sudah dihina habis-habisan oleh suaminya sendiri. Dengan dada yang sesak, Nala menatap Reigha kembali.
"Kamu akan menyesal, Mas. Setelah ini kamu akan menyesal," gumam Nala dengan air mata yang berhasil lolos.
Nala berbalik untuk keluar dari ruangan tersebut. Ruangan dimana harga dirinya dipermalukan. Sebelum benar-benar keluar, Sandra kembali memanggil Nala. "Nala!"
Nala berhenti melangkah namun tidak mau menoleh lagi. "Jangan lupa tanda tangan untuk penyerahan saham Cakrawala. Kamu sudah berjanji untuk memberikan seluruh saham pada Reigha," ucap Sandra tanpa tahu malu.
Nala terperangah tidak percaya. Sejak kapan dia membuat perjanjian itu?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya😘...
...mampir juga kesini yuk👇...
__ADS_1