
Hai Nala.
Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah berada di alam yang jauh disana. Sengaja aku mempersiapkan sebelum benar-benar pergi, semata karena ingin mengucapkan terima kasih padamu.
Terima kasih karena telah sudi menjadi bagian dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah waktuku akan sampai saat aku sudah menikahimu. Aku tidak yakin karena akhir-akhir ini aku sering sekali pusing dan mimisan.
Maaf karena aku memilih maju demi kebahagiaanku sebelum aku benar-benar tiada di dunia ini.
Aku tidak tahu apakah setelah ini kamu akan bersedih dan merasa kehilangan. Aku hanya berharap semoga kamu lekas bangkit apabila kamu terpuruk. Aku tidak akan suka melihatmu dari tempat yang berbeda, hanya menangis sepanjang hari.
Hidupmu harus terus berjalan hingga tiba ajal itu menjemput.
Aku tahu bahwa kamu sudah mulai memiliki rasa itu. Rasa yang selalu aku nantikan terucap dari bibirmu.
Tetapi, kamu tak kunjung mengatakannya. Jika benar kau sudah mencintaiku, tolong katakan dalam hatimu bahwa kamu mencintaiku.
Setelah itu, pejamkan matamu dan rasakan angin yang berhembus menerpa wajah mulusmu. Itu aku, Nala.
Berbahagialah dan manfaatkan waktu panjangmu di dunia bersama orang-orang tersayang. Karena hal itu akan segera hilang saat kita telah tiada atau mereka yang lebih dulu pergi. Yang tersisa hanya sesal ketika kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik.
Aku mencintaimu hingga akhir hayatku.
Dandy.
Nala menghapus air matanya membaca berbait surat yang ditinggalkan Dandy. Nala mendekapnya erat dalam pelukan, seakan surat tersebut adalah sepenggal dari diri Dandy.
Walau berusaha menghalau, air matanya seperti enggan untuk berhenti. Benar kata Dandy. Hanya sesal ketika kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Seperti yang Nala rasakan saat ini.
Nala menyesal karena tidak mendengarkan nasehat para readers yang memberinya saran.
Hari ini, tepat pukul sembilan pagi, Nala, Nanta, dan ibunya akan pulang dari kediaman bu Dian. Mereka akan kembali ke Bogor setelah menginap di rumah bu Dian hampir tiga hari.
Beruntung Zia dan Zio ada Reigha yang merawat. Sehari setelah Dandy tiada, Reigha membawa Zia dan Zio datang dan mengucapkan bela sungkawa. Walau keduanya belum terlalu mengerti, kehadiran mereka mampu menghibur bu Dian yang sedang dalam masa berkabung.
__ADS_1
Mereka telah memasukkan barang-barang ke mobil. Bu Dian sudah berdiri di dekat ketiganya.
"Kami pulang dulu ya. Kalau butuh sesuatu atau teman bercerita, datang saja padaku. Aku siap menerima," ucap bu Laras sambil memeluk bu Dian hangat.
"Tentu. Terimakasih karena sudah banyak membantu dan menemaniku," jawab Bu Dian yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan terlalu banyak melamun. Usahakan banyak kegiatan agar tidak larut. Sedih boleh, asalkan jangan berlebihan," ucap bu Laras mengeluarkan petuahnya.
Bu Dian mengangguk. Kini giliran Nala yang berpamitan. "Tante—" Nala langsung berhambur memeluk bu Dian dengan kembali menumpahkan tangisnya.
Nala masih tidak percaya. Semua terjadi begitu cepat layakanya sebuah mimpi di siang hari. Bu Dian pun akhirnya ikut menangis. Selain beliau, Nala juga telah kehilangan Dandy yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Namun, semua itu tidak pernah terjadi.
Nanta yang melihat itu langsung berbalik dan mengusap matanya basah. Bu Laras juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama tahu bahwa kepergian Dandy masih begitu sulit untuk di mengerti.
Setelah cukup lama dalam pelukan, Nala melepaskan perlahan. Tangannya bergerak untuk memegang jemari bu Dian.
"Tante kalau merasa kesepian bisa meminta aku dan anak-anak datang. Aku pasti akan meluangkan waktu agar Tante tidak perlu merasa kesepian," ucap Nala berushs mengulas senyum.
Bu Dian mengangguk lalu mengelus rambut Nala lembut. "Tentu. Terima kasih karena sudah menemani Tante," ucap bu Dian lalu pandangannya beralih pada Nanta dan bu Laras.
Setelah sesi berpamitan selesai, Nanta melajukan mobilnya membelah jalanan.
Sebelum benar-benar kembali, mereka menjemput Zia dan Zio terlebih dahulu yang saat ini masih berada di rumah pak Prabu dan bu Nilam.
Zia dan Zio begitu bahagia saat hampir dua malam tidur di rumah Oma dan Opanya. Apalagi, mereka mengatakan bahwa Reigha menemani keduanya tidur.
Tidak berapa lama, mobil berhenti di depan rumah besar milik orangtua Reigha. Hanya bu Laras yang turun untuk memanggil kedua cucunya.
Nala dan Nanta memilih untuk tetap berada dalam mobil. Nanta beralasan bahwa dia ingin menjaga mobil barunya. Sedangakan Nala, alasannya sudah jelas untuk menghindari Reigha.
Mungkin, kemarin Nala tidak terlalu peduli saat Reigha menemaninya di makam Dandy. Karena keadaanya saat itu sedang Berantakan.
Tidak berapa lama, sosok Zia dan Zio akhirnya muncul dengan dituntun oleh bu Laras. Nala tersenyum melihat dua buah hatinya kemudian berinisiatif membuka pintu.
__ADS_1
"Mommy!" pekik Zia dan Zio hampir bersamaan. Nala tersenyum lalu turun dari mobil dan langsung memeluk kedua anaknya.
"Mommy! Oma mengatakan jika kita akan berkunjung ke rumah uncle Dandy yang baru? Apakah itu benar?" tanya Zio antuasias.
"Iya, itu benar. Mommy akan ajak kalian mengunjungi rumah uncle Dandy yang baru." Ada sesak yang tiba-tiba kembali menyerang rongga dada saat Nala menyebut nama laki-laki yang kini sudah ada di hatinya.
"Yeay! Aku sudah tidak sabar untuk digendong," pekik Zia girang.
Nala mendadak murung lalu segera menyuruh anak-anak untuk masuk.
Bu Laras memegang pergelangan Nala saat anaknya juga akan masuk.
"Apa kamu yakin untuk membawa mereka ke makam Dandy?" tanya bu Laras memastikan. Pasalnya, saat berada di rumah bu Dian, Zia dan Zio seperti kebingungan.
Keduanya belum tahu apa itu hidup dan mati.
Nala tersenyum. "Aku yakin, Bu. Cepat atau lambat mereka akan menyadarinya," jawab Nala dengan nada rendah.
Bu Laras mengangguk pasrah kemudian bergegas memutar setengah badan mobil untuk bisa duduk di jok samping kemudi.
Saat Nala akan menutup kaca mobil, dari jarak sepuluh meter Nala bisa melihat keberadaan Reigha yang kini berdiri menatap ke arahnya.
Mata keduanya saling bertemu namun hal itu tidak berlangsung lama karena suara Zia dan Zio menyadarkan keduanya.
"Daddy! Kita pulang dulu! Besok Daddy main ke rumah ya?" teriak Zia sambil melambaikan tangan, mengerti bahwa ayahnya ikut mengantar pulang.
Zio juga melakukan hal yang sama. Reigha yang berada tidak jauh dari sana, melambaikan tangan dan mengulas senyum.
Bersamaan dengan itu, Nanta menghidupkan mesin mobil dan melajukannya. Nala menutup kaca dan tidak lagi menoleh.
Dan hal itu berhasil membuat Reigha merasa diabaikan lagi. Reigha menghela napas kasar, memaklumi sikap Nala yang masih saja dingin padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...jangan lupa kasih dukungannya ya😍🙏...