
"Dia siapanya kamu, Njan? Ibu kok tidak dikenalkan semalam? Padahal, Ibu juga ingin mengenal laki-laki semalam," ucap ibunya Anjani di pagi hari saat Anjani baru saja keluar dari kamar.
"Apa sih, Bu? Dia hanya teman Anjani," jawab Anjani tidak sepenuhnya berbohong.
"Yakin nih hanya teman? Kenapa kalian keluarnya di malam Minggu?" Ibunya seakan tidak lelah untuk menginterogasi sang anak.
Anjani hanya menggeleng lalu mengusap lebar. Dia baru saja bangun tidur. "Kalau menguap tuh di tutup, Njan! Kamu seorang gadis tapi kok jorok!" gerutu ibunya sambil menoleh tajam.
Anjani hanya menyengir kuda lalu merebahkan diri di sofa. Ibunya geleng-geleng kepala, tidak habis pikir anak gadisnya itu sangat jorok. Berbanding terbalik jika akan pergi bekerja.
Mata Anjani terbuka sempurna kala mendengar ketukan pintu dari luar. Belum lagi suara ibunya yang meminta Anjani untuk membukakan pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Njan! Ada tamu tuh. Tolong bukakan pintu ya," pinta sang Ibunda lembut.
Sambil menggaruk kepalanya, Anjani berjalan menuju pintu rumahnya. Tanpa melihat siapa yang datang, Anjani membuka pintu lebar-lebar. Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang.
"Nanta?" lirih Anjani kemudian lari terbirit-birit masuk ke kamarnya lagi.
Ya. Seseorang yang datang ke rumah Anjani adalah Nanta. Dia berencana untuk mengajak Anjani jalan. Hitung-hitung sebagai latihan kedekatan yang natural.
Namun, Nanta begitu terkejut ketika melihat wujud asli Anjani ketika baru saja bangun tidur. Rambutnya yang acak-acakan dan hanya mengenakan celana pendek serta kaos kebesaran.
Nanta jelas bisa melihat paha Anjani yang begitu mulus.
Damn it! Nanta mengumpati dirinya sendiri ketika pikiran kotor menghampiri.
"Eh! Ada tamu kok malah ditinggal pergi," ucap ibunya Anjani tidak habis pikir dengan anak gadisnya yang tiba-tiba lari dan masuk ke kamar.
"Eh. Ada Mas Ganteng. Masuk dulu, Mas. Sepertinya, Anjani malu dan biarkan dia mandi dulu. Dia sudah dewasa tetapi tingkahnya memang suka begitu. Tolong di maklum ya," ucap ibunya Anjani tersenyum hangat.
Nanta balas tersenyum dan menjawab. "Tidak masalah, Tante. Boleh aku masuk, Tan?" Meminta izin terlebih dahulu sepertinya tidak buruk. Walau Nanta sudah mendengar sendiri jika seorang wanita paruh baya di hadapannya telah mempersilahkan.
"Bolehlah. Masa tidak boleh. Silahkan masuk," jawab ibunya Anjani dan Nanta langsung mengambil posisi duduk di salah satu sofa.
__ADS_1
"Sebentar ya, Tante tinggal dulu," pamit ibunya Anjani sambil tersenyum lebar.
Jujur, beliau merasa bahagia akhirnya sang Putri tidak lagi menyandang status sebagai jomblo elit.
Sedangkan di kamar, Anjani masih berusaha menetralkan degup jantungnya. Pagi-pagi begini Anjani harus sudah senam jantung.
"Kenapa juga aku harus keluar kamar tanpa mandi terlebih dahulu sih?" gerutu Anjani menyesal sendiri. Dia merasa malu bukan main. Apalagi, melihat penampilan Nanta yang begitu tampan pagi ini. Sangat berbanding terbalik dengan wujud dirinya yang masih berantakan.
"Eh. Sejak kapan aku peduli dengan penampilanku di hadapan Nanta?" gumam Anjani sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Daripada pusing, Anjani memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, Anjani bisa keluar kamar dengan elegan.
...............
Setelah penampilannya rapi, Anjani memberanikan diri keluar dari kamar. Dia bisa melihat sang Ibunda yang sedang berbincang akrab dengan Nanta. Alis Anjani berkerut dalam. Mengapa Nanta bisa langsung akrab dengan ibuku? batin Anjani bertanya.
"Itu Anjani," ucap sang Ibu sambil menoleh ke arahnya begitu juga Nanta. Ada senyum hangat yang bisa Anjani tangkap dari raut wajah Nanta.
"Kenapa sih, Bu?" tanya Anjani heran sendiri karena sejak tadi tidak terlalu menyimak perbincangan Nanta dan Ibunya.
Anjani jelas tahu jika sang Ibu menyukai sosok Nanta untuk menjadi mantunya. Anjani menghela napas pelan. Bagaimana jika ibunya tahu jika hubungannya dengan Nanta hanya sebatas kerjasama?
"Ditanya kok malah melamun? Bagaimana? Nanta menunggumu ini," kesal ibunya tidak habis pikir.
Anjani mengangguk saja. Mungkin ada sesuatu yang ingin laki-laki itu bicarakan. "Iya, Bu."
Berakhirlah kini Anjani di sebuah warung penjual bubur ayam. Nanta mengajaknya untuk sarapan bersama.
"Kenapa milih disini sih?" tanya Nanta heran.
Bukannya memilih tempat yang mewah, Anjani justru memilih warung kecil di pinggir jalan. "Kenapa? Kamu tidak suka?" Anjani justru balik bertanya.
Nanta menggeleng keras. "Bukan begitu. Dulu, beberapa mantan pacarku jika di ajak pergi makan, mereka cenderung memilih restoran mewah. Bukan wsurng sederhana seperti ini," jelas Nanta yang membuat Anjani mengangguk paham.
"Sayangnya aku bukan mantan kamu," celetuk Anjani cuek.
__ADS_1
Nanta tergelak renyah. "Benar. Kamu bukan mantan pacarku dan kamu berbeda dari mereka." Nanta membenarkan ucapan Anjani.
Tidak berapa lama, bubur pesanannya tiba. Anjani dan Nanta diam dan menikmati hidangan. Hingga mangkok di hadapan kosong, Anjani kembali membuka suara.
"Kenapa kok tumben ngajak makan?" tanyanya langsung pada intinya.
"Aku ingin membangun kedekatan yang natural. Semakin sering kita bersama, akan semakin besar juga peluang kita untuk menjadi dekat," jawab Nanta apa adanya.
Hal itu tentu bisa menimbulkan persepsi berbeda jika Nanta tidak sedang berbicara dengan Anjani. Maksud kata dekat tentu bisa disalah-artikan lain.
"Baiklah. Tetapi jangan lupa beri aku uang tambahan." Anjani menjawabnya dengan enteng.
Nanta berdecak kesal. "Kapan sih kamu tuh berhenti memikirkan uang?" tanyanya tidak habis pikir.
"Tidak bisa berhenti. Uang memang bukan segalanya tetapi segalanya membutuhkan uang," jawab Anjani cerdas.
Bukannya kesal, Nanta justru tertawa dan tangannya terulur untuk mengacak rambut Anjani gemas. "Kamu memang cerdas!" pujinya.
Anjani sempat tertegun kala mendapatkan perlakuan manis dari Nanta.Tetapi, jika mengingat mereka hanya sedang latihan, Anjani tidak ingin terbawa perasaan.
Hubungan ini berjalan karena saling menguntungkan. Jadi, Anjani akan tanamkan dalam diri untuk tidak melibatkan hati. Walau pada kenyataannya, malam harinya sedikit terganggu dengan terbayang dengan sosok Nanta.
"Mau pergi kemana lagi? Temani aku jalan-jalan ya?" ajak Nanta bukan sebuah tanya melainkan pernyataan.
Anjani terkekeh. "Yang penting gratis, aku ikut saja," jawabnya santai.
Terdengar gumaman cukup lama dari sosok laki-laki di hadapannya. "Kamu ada referensi tidak kita harus kemana? Kamu kan asli dari sini. Aku belum terlalu tahu wilayah Jakarta." Nanta menatap lekat wajah Anjani.
Damn it! Anjani memgumpat dalam hati saat jantungnya berulah lagi. Baru ditatap seperti itu saja dia sudah lemah. Anjani juga masih terlalu bingung dengan kondisi jantungnya.
Setelah gajian nanti, lebih baik aku periksakan jantungku ke dokter spesialis. Pasti ada yang tidak beres, batin Anjani aneh.
"Boleh. Bagaimana jika kita ke Kota Tua?" ucap Anjani setelah berhasil menguasai diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1