
"Dad?" panggil Nala saat keduanya duduk di ruang tengah untuk menikmati waktu mereka di sore hari. Zia dan Zio sedang berada di rumah bu Laras guna menemani sang Nenek di akhir pekan. Mungkin, keduanya akan menginap di sana. Itu berarti, Nala dan Reigha harus menjemput dua anaknya besok.
"Iya Mommy Sayang," jawab Reigha dengan bibir yang tiada henti menciumi pundak kepala sang isteri. Satu tangannya bergerak untuk mengelus perut Nala yang sudah mulai membuncit.
Posisi Nala yang memeluknya, memudahkan Reigha untuk menyentuh setiap jengkal tubuh sang isteri.
"Aku seperti ingin makan nasi goreng buatan Daddy. Pasti rasanya enak sekali." Nala berucap sambil menelan ludahnya kasar. Membayangkannya saja membuat perut Nala mendadak bunyi.
Reigha yang mendengar perut istrinya berbunyi hanya bisa terkekeh dan mengacak rambut Nala. "Akan aku buatkan khusus untuk istriku tercinta," jawab Reigha dengan senang hati.
Nala tampak berbinar dengan senyum yang terkembang sempurna. Hanya begitu saja sudah membuat perasaan Nala sangat bahagia.
"Aku temani kalau begitu," ujar Nala lalu berdiri lebih dulu kemudian diikuti oleh Reigha.
Oh iya. Sudah hampir satu Minggu ini Reigha tidak lagi mengalami morning sickness. Tidak ada lagi mual dan muntah sebagai pengisi drama pagi hari. Mungkin karena usia kandungan Nala yang sudah memasuki usia tiga belas Minggu.
"Mau pakai topping apa, Sayang?" tanya Reigha sambil melihat-lihat isi lemari pendingin yang nampak penuh karena sore tadi baru diisi.
"Aku ada beli bakso deh, Mas. Pakai itu sama daun seledri sepertinya enak," jawab Nala yang kini tengah duduk di meja makan sambil melihat bagaimana suaminya akan memasak.
Tidak pernah terbesit di hati Nala jika dia akan kembali dengan mantan suami. Namun, Nala mencoba berpikir yakin bahwa semua itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Tuhan-lah yang Maha membolak-balikkan hati.
Apalagi, Reigha benar-benar tulus dalam mencintai Nala dan menghadapi dengan sabar pada mood Nala yang berubah-ubah. Biasa. Namanya juga ibu hamil memang suka sensitif.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Reigha mencuri pandang ke belakang dimana sang istri tengah duduk dengan tenang. Bibirnya mengulum senyum, merasa salah tingkah di tatap Nala sedemikian lekat.
Nala beranjak dan berjalan mendekat. Setelah sampai di belakang sang Suami, Nala langsung melingkarkan tangan di tubuh Reigha. Nala memeluk suaminya dari belakang.
Reigha sempat terkesiap namun hanya sebentar. Karena tangannya kini sibuk melakukan pekerjaan mulia, yaitu memasak untuk sang istri yang tengah hamil. Mulia bukan?
__ADS_1
Reigha bisa merasakan Nala yang semakin erat memeluk tubuhnya. Sang istri memang berubah manja setelah kehamilannya yang kedua. Namun, Reigha tidak masalah. Justru, Reigha merasa senang.
"Aku selesaikan dulu ya, Sayang? Lepaskan sebentar. Aku mau mengambil baksonya," pinta Reigha lembut.
Reigha bisa merasakan kepala Nala menggelengkan di balik punggungnya. Pada akhirnya, Reigha berjalan menuju lemari wastafel dimana bakso yang baru saja dikeluarkan ada di sana Reigha telah mencucinya.
Herannya, Nala masih setia menempel layaknya cicak-cicak di dinding. Reigha tersenyum geli melihat tingkah manja Nala yang meningkat.
Belum lagi saat malam hari, Nala tidak bisa tidur jika tidak dalam dekapan Reigha. Sepanjang malam, Reigha harus memeluk Nala hingga lagi menjelang. Walau demikian, Reigha sangat bersyukur dan merasa dibutuhkan oleh sang istri.
Lima belas menit kemudian, dua piring nasi goreng telah siap. Kali ini Nala melepaskan pelukan dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan terlebih dahulu.
Tanpa diduga, kini giliran Reigha yang memeluk Nala dari belakang. Dagunya dia tumpukan di bahu Nala. "Sini. Biar aku bantu cuci tangan," ucap Reigha lalu meraih telapak tangan Nala. Setelah membasuhnya dengan air, Reigha memberikan sabun lalu kembali menyiramnya dengan air.
Dengan telaten, Reigha mengelap tangan basah Nala dengan handuk yang sudah disediakan. "Terimakasih, Dad Sayang," ucap Nala sambil tersipu malu.
Reigha mengecup bibir Nala sekilas lalu menjawabnya. "Sama-sama, Sayangku."
Reigha yang sedang makan pun mendongak untuk melihat ekspresi menggemaskan sang istri. "Pelan-pelan, Sayangku," peringat Reigha sambil menggeleng melihat antusiasme Nala.
Setelah makan malam selesai, mereka naik ke lantai dua dimana kamar keduanya berada. Nala lebih dulu naik ke ranjang yang berukuran king size dan menyandarkan kepala di headboard.
Sejenak Nala memainkan ponsel untuk melihat sosial media. Di beranda, Nala mengernyit heran saat melihat Anjani berfoto dengan Nanta. Ada sepasang pengantin juga yang ada dalam frame tersebut.
"Loh! Ini bukannya kekasih Nanta sewaktu SMA ya? Terus, mengapa Nanta datang bersama Anjani?" gumam Nala bertanya pada diri sendiri.
"Ada apa sih, Sayang? Kok heboh gitu?" Kini Reigha bergabung untuk masuk dalam selimut yang sama dengan Nala.
Nala justru melirik tajam. "Buruan tentang perempuan saja langsung gerak cepat," ketusnya lalu berbaring dan memunggungi Reigha.
__ADS_1
Reigha yang tidak tahu apa-apa tentu heran. Dia merasa konyol pada diri sendiri yang tiba-tiba jadi orang yang bersalah.
Tidak mau membuat Nala semakin marah, Reigha ikut berbaring dan memeluk sang istri dari belakang. Walau awalnya menolak, lama-lama Nala menurut.
"Dad?" panggil Nala yang sudah tidak semarah tadi.
"Iya Sayang," jawab Reigha lembut sambil wajahnya menelusup ke ceruk leher Nala.
"Aku sedang bingung. Mengapa Nanta datang ke acara pernikahan mantan kekasih bersama Anjani ya?" tanya Nala masih dengan posisi semula.
"Mereka punya hubungan spesial mungkin," jawab Reigha tidak ingin mengambil pusing.
"Apakah itu mungkin?" tanya Nala sambil membalikkan tubuhnya menghadap sang Suami.
Reigha tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak untuk menelusup ke bawah kepala Nala untuk dijadikan bantalan.
"Tidak ada yang tidak mungkin. Tuhan punya caranya sendiri untuk mempertemukan seseorang. Ikan di laut saja bisa bertemu dengan nasi yang di warteg." Reigha menjawabnya dengan perumpamaan.
Nala justru tergelak renyah dan membuat Reigha merasa ikut bahagia. Mood istrinya memang suka naik dan turun.
"Benar juga apa yang Daddy ucapkan. Menurut Daddy, Anjani itu bagaimana?" tanya Nala lagi sambil mendongakkan wajah. Nala bisa melihat jakun suaminya yang bergerak naik turun.
Terdengar gumaman panjang dari Reigha sebelum menjawab pertanyaan Nala. "Dia baik dan orangnya humble sih," jawab Reigha apa adanya.
Nala justru menjauhkan diri dengan wajah yang tertekuk. "Ooh, jadi kamu sudah sedekat itu dengan Anjani? Yang sekarang mungkin masih menjadi sekretaris Papa?"
Reigha hampir saja mengumpat mendengar pertanyaan Nala yang terkesan menuduh. Apa-apaan ini? Mengapa kini Reigha disudutkan?
'Sabar Reigha. Istrimu itu sedang sensitif,' batin Reigha menenangkan dirinya sendiri agar bisa lebih bersabar lagi.
__ADS_1
...****************...