
Zia dan Zio kini sudah berada di kamar milik Omanya, bu Nilam. Mereka telah menyusun rencana lanjutan untuk hari ini. Beberapa hari sebelum Zia dan Zio ikut dengan Mommy-nya ke Jakarta, mereka mulai menyusun rencana. Dan Zio ada disini juga bagian dari rencana mereka.
"Jadi, rencana cucu-cucu Oma selanjutnya apa? Sepertinya, kalian lebih cerdas dari Oma maupun Daddy kalian," ucap bu Nilam sambil menatap haru pada Zia dan Zio.
Ya, Bu Nilam telah menjadi bagian dari tim Zia dan Zio untuk menyatukan Nala dan Reigha kembali.
"Nanti Oma ajak kita saja untuk jalan-jalan," usul Zia dengan mata berbinar.
Zio mencebikkan bibir. "Itu sih maunya kamu, jalan-jalan. Pasti Zia ingin mencari kesempatan dalam kesempitan," sahut Zio menduga-duga.
"Ya, kalau bisa kenapa tidak. Iya kan, Oma?" tanya Zia dengan gaya gaulnya.
Bu Nilam tertawa terbahak-bahak. Dua cucunya itu memang anak yang genius. "Bolehlah. Oma akan ikuti usul Zia. Lagian, Oma juga ingin melihat kalian bahagia. Dengan cara ...." ucap bu Nilam sengaja menggantung Kalimatnya.
"Dengan cara apa, Oma?" kejar Zia tidak sabaran.
"Iya. Jangan membuat kamu penasaran, Oma," sahut Zio sama tidak sabarnya.
Bu Nilam kembali tertawa. Lucu sekali dua cucunya ini. Bu Nilam akan berterima kasih banyak-banyak pada Nala yang telah melahirkan anak-anak genius. Seharian bersama si kembar saja bisa membuat Bu Nilam bahagia sepanjang hari. Bagaimana jika setiap hari bu Nilam bermain bersama si kembar? Sudah di pastikan dirinya akan awet muda.
"Oma akan membelikan kalian mainan!" pekik bu Nilam yang langsung disambut teriakan bahagia dari Zia dan Zio.
"Hore!"
"Yeay!"
Beruntung, kamar bu Nilam di desain dengan kedap suara. Jadi, suara Zia dan Zio tidak akan terdengar sampai keluar.
"Ya sudah. Oma akan bersiap sebentar. Kita akan membeli banyak mainan dan kulineran," ucap bu Nilam bergembira.
Tidak berapa lama, ketiganya telah siap lalu menuruni anak tangga menuju lantai satu dimana Nala dan Reigha berada. Nala yang sedang duduk di sofa ruang tengah, hanya bisa menatap heran penampilak bu Nilam dan si kembar yang sudah rapi.
"Kalian mau kemana? Sebentar lagi Mommy harus pulang," tanya Nala heran.
__ADS_1
Zia dan Zio saling lempar pandang. "Kami belum ingin pulang, Mom. Tunggulah sampai sore hari karena Oma sudah berjanji untuk membelikan kami mainan," rengek Zia memang sangat pandai memainkan peran.
Nala melongo. Mengapa anak-anaknya mulai berubah manja seperti tadi?
"Kalian bisa pergi lain waktu. Mommy sedang banyak pekerjaan di Bogor. Kita pulang dulu ya? Lain kali kita kesini lagi," ajak Nala lembut yang kini sudah beranjak dari sofa tempat semula dia duduk.
Zia dan Zio kompak menggeleng. Diam-diam bu Nilam mengulum senyumnya. "Aduh, jadi bagaimana ini? Kita pergi lain kali saja ya? Mommy kalian sibuk hari ini," jawab bu Nilam mulai memainkan drama.
"Aku tidak mau, Oma. Bukankah Oma sudah berjanji untuk membelikan mainan hari ini?" rengek Zio mulai bersuara.
"Mommy juga. Mengapa Mommy selalu sibuk dengan pekerjaan? Tidak bisakah Mommy berdiam di rumah bersama Daddy? Kami janji, sepulang berbelanja akan membawakan dua porsi bakso untuk Mommy dan Daddy," sambung Zia yang memang begitu pandai menyusun kata-kata.
Sungguh, bu Nilam ingin bertepuk tangan meriah melihat dua cucunya yang pandai sekali memainkan peran.
Apa ini? Sungguh, Nala terperangah karena anak-anaknya mulai pandai menyikap situasi. Merasa percuma dan tidak enak dengan bu Nilam, Nala akhirnya mengizinkan Zia dan Zio untuk pergi.
"Baiklah. Kalian boleh pergi dan Mommy akan ikut," putus Nala yang membuat tiga orang yang membuat rencana memekik panik.
Nala semakin mengerutkan alisnya heran. "Memangnya kenapa? Bukankah jika Mommy ikut, kalian bisa dengan leluasa membeli semuanya?" tanya Nala kebingungan.
"Kata siapa. Justru saat bersama mommy, kami hanya boleh membeli barang yang dibutuhkan. Kata Mommy, kita tidak boleh menghamburkan uang," elak Zia yang memang benar adanya.
Nala meringis malu. Zia sekarang terang-terangan membuka tabiatnya di depan mantan ibu mertua.
"Tidak apa-apa kan, La? Mama sudah berjanji pada anak-anak dan tidak mungkin mengingkarinya," tanya bu Nilam yang wajahnya menunjukkan raut tidak enak.
Nala akhirnya mengangguk. ", Baiklah, Ma. Tidak masalah. Aku akan menunggu disini," putus Nala pada akhirnya.
Bu Nilam, Zia dan Zio pun bersorak gembira dalam hari. Rencana mereka benar-benar berjalan dengan lancar dan sesuai skenario.
"Oh iya, La. Maaf jika Mama ingin merepotkan. Tolong jangan pergi kemana-mana ya? Mama mau titip barangkali ada paket yang datang. Soalnya si kurir sudah menghubungi Mama dan sebentar lagi paket akan tiba."
Kemudian, bu Nilam mendekat pada daun telinga Nala dan berbisik. "Bukan apa-apa. Tetapi, paket itu isinya berlian seharga ratusan juta. Mama percayakan padamu ya, La,"bisik bu Nilam yang membuat Nala hanya bisa mengangguk patuh.
__ADS_1
"Ya sudah. Kami berangkat dulu ya?" pamit bu Nilam dan juga anak-anak.
Nala mengangguk dan membiarkan anak-anak pergi jalan-jalan. Saat ketiganya sampai di ambang pintu, bu Nilam berteriak memanggil nama Reigha yang membuat jantung Nala mendadak berdetak tidak normal.
"Reigha! Libur kerja jangan di kamar terus! Turun! Temani Nala di ruang tengah! Kasihan dia sendiri," teriak bu Nilam kencang yang tentu bisa Reigha dengar dengan jelas.
Entah jantung Nala berdegup karena teriakan bu Nilam atau karena Nala menyadari jika di dalam rumah itu hanya ada dirinya dan Reigha. Nala melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai oleh anak-anak melaju keluar dari pekarangan rumah.
Saat Nala berbalik untuk kembali masuk, Nala begitu terkejut karena di belakangnya sudah berdiri Reigha. Kepala Nala pun membentur dada bidang milik Reigha.
"Aw!" aduh Nala sambil memegangi keningnya.
'Itu dada atau batu? Mengapa keras sekali?' gerutu Nala tidak habis pikir.
"Eh! Maaf, pasti Sakit ya? Mana yang sakit? Maafkan aku," ucap Reigha panik lalu mengelus kening Nala lembut.
Nala membeku di tempat. Wajah Reigha seperti tidak ada jarak dengan wajahnya, sangat dekat. Sampai-sampai Nala bisa merasakan hembusan napas Reigha yang menerpa wajahnya.
Melihat Nala yang hanya diam, Reigha pun menunduk untuk melihat keadaan Nala. Namun yang ada justru, tatapan Keduanya terkunci.
Hanya terdengar deru napas dan degupan jantung yang sudah tidak beraturan di antara Nala dan Reigha.
Pikiran Reigha mulai nakal ketika wajah Nala seperti tidak berjarak dengan wajahnya. Reigha bisa melihat bibir ranum Nala yang sedikit terbuka dan hal itu mampu membangun sesuatu di dadanya.
Reigha ingin mencium lalu menyesapnya lembut. Namun, Reigha sadar bahwa pikiran itu sangat kurangajar. Akhirnya, Reigha memilih kembali bersuara untuk menyadarkan Nala yang mungkin saja sedang terpesona dengannya.
Huh! Bolehkah Reigha percaya diri untuk kali ini?
"Nala? Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Reigha lembut.
Sontak Nala menjauhkan wajah dan membuang pandangan. "T-tidak a-ap-pa-apa," jawab Nala tergagap.
Huh. Nala benar-benar membuat Reigha tidak tahan dan ingin merengkuh tubuh itu dalam dekapan. Namun, Reigha hanya bisa berangan-angan. Berharap semua itu akan menjadi kenyataan.
__ADS_1