Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 107. Nanta!


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Anjani saat keduanya telah bertemu di taman. Anjani baru saja pulang bekerja begitu juga dengan Nanta.


"Gampang. Ini tidak akan sulit," jawab Nanta jumawa.


"Kita akan latihan berjalan terlebih dahulu. Ini berjalan untuk sepasang kekasih ya," beritahu Nanta memulai pembelajaran.


Anjani ingin sekali tertawa. Dia merasa konyol karena melakukan kursus menjadi pacar yang manis. Hal itu tidak luput dari pandangan Nanta dan menimbulkan pertanyaan. "Kenapa wajahmu begitu? Mau tidak aku ajari? Aku tidak mau kau membuat kesalahan disana. Semua harus sempurna."


Anjani berdecak sebal. "Ck. Gini-gini aku sudah menonton drama Korea semalam. Aku sudah menghapal dengan baik setiap adegannya. Termasuk adegan berciuman," ucapnya terlalu polos sampai kebablasan.


Nanta langsung menoyor kening Anjani. "Mengapa kau berpikir sejauh itu? Tidak perlu sampai berciuman," kesal Nanta tidak habis pikir.


Anjani menyengir kuda. "Lupakan. Sekarang, aku akan praktek apa yang sudah aku pelajari." Kini Anjani mengalihkan topik pembicaraan.


"Kita harus berdiri terlebih dahulu. Bukankah kita akan praktek berjalan romantis?" Anjani sudah bersiap dan Nanta pun mengikuti.


"Baiklah. Tunjukkan padaku segera," jawab Nanta pada akhirnya.


Anjani segera menggandeng lengan Nanta, bergelanyut disana. "Ayo jalan. Ini tidak akan sulit untukku," pinta Anjani tersenyum bangga.


Nanta mengikuti perintah Anjani tergelak renyah. "Sepertinya kita tidak perlu melakukan latihan. Aku sudah salah menilaimu polos. Ternyata kau sudah suhu," ucap Nanta merasa geli sendiri.

__ADS_1


Anjani ikut tergelak. "Baiklah. Kita hanya perlu menjalin kedekatan yang murni. Seperti ini misalnya. Kita berbincang santai seperti tidak ada kecanggungan." Dia kembali menjelaskan strategi yang sudah direncanakan.


Nanta bertepuk tangan meriah. "Cerdas! Sepertinya aku tidak salah memilihmu," puji Nanta untuk pertama kalinya.


Anjani tersenyum miring. "Kau akan memberiku uang tambahan kan?" tanyanya sambil menaik-turunkan alisnya.


Tawa yang baru saja meledak, kini padam berganti dengan dengkusan sebal. "Dasar mata duitan!" gerutu Nanta kemudian kembali mendudukam diri di kursi terdekat.


"Aku realistis." Anjani menjawab dengan percaya diri.


Nanta menganggukkan kepala paham. Semua orang memang menyukai uang.


Kruek..


Kruek..


Anjani menyengir kuda. "Kita hampir satu jam berada disini. Hari sebentar lagi akan gelap dan jam makan malam akan tiba," jawab Anjani justru mengunakan kata kiasan.


"Katakan saja iya. Kenapa harus berbelit-belit," kesal Nanta sambil mendengkus.


Tanpa menunggu lama, Nanta menarik tangan Anjani menuju mobilnya terparkir. Walau terkejut, Anjani tetap menyeret langkahnya. "Kita mau kemana?" tanya Anjani saat sudah duduk di jok samping kemudi.

__ADS_1


"Kita akan pergi makan. Biar aku yang traktir." Setelah berucap demikian, Nanta segera melajukan mobil, mencari restoran terdekat.


Anjani jelas senang. Apalagi jika dia akan di traktir. Itu merupakan rezeki nomplok.


"Nanta?" panggil Anjani lembut.


"Hm?"


"Terima kasih karena sudah bersedekah padaku dengan memberiku makan malam," ucap Anjani tulus dan Nanta berdecak kesal.


"Kau ini terlalu berlebihan. Hanya sekedar menraktir makanan. Bukan sedekah," elak Nanta tidak habis pikir.


"Itu sama saja." Anjani masih tetap pada argumennya.


"Nanta!" panggil Anjani lagi dengan suara sedikit meninggi.


"Kenapa sih!" kesal Nanta merasa terganggu dengan kebisingan yang dibuat oleh Anjani.


"Motor aku ketinggalan!" pekik Anjani yang membuat Nanta menepuk jidat seketika.


...

__ADS_1



ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2