Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 95. Sayangku, Nala


__ADS_3

Belum lama Nala, Reigha, dan anak-anak tiba di rumah baru, bel di depan terdengar berbunyi. Nala melempar pandang pada suaminya untuk menanyakan siapa yang datang.


"Mungkin bi Ati yang datang. Tadi pagi beliau baru tiba di Bogor setelah subuh tadi perjalanan dari Jakarta," beritahu Reigha yang membuat mata Nala membulat sempurna.


"Yang benar, Mas? Jadi, bi Ati akan bekerja bersama kita lagi?" tanya Nala dengan mata yang berbinar.


Reigha mengangguk membenarkan. "Ya sudah. Biar aku saja yang membukakan pintu. Aku sangat merindukanmu bi Ati, Mas," ucap Nala antusias kemudian meminta kunci yang Reigha pegang dan berlari ke arah depan.


"Pelan-pelan, Sayang. Tidak perlu terburu-buru!" pekik Reigha, khawatir Nala akan jatuh.


Setelah punggung sang istri menjauh, Reigha memanggil-manggil nama Zia dan Zio untuk diajak melihat kamar dia bocah kembar itu.


"Zia! Zio! Dimana kalian? Ke lantai atas yuk! Daddy akan menunjukkan kamar kalian!" pekik Reigha kemudian Zia dan Zio muncul dari arah belakang.


Reigha tersenyum lalu menyambut Zia dan Zio yang kini berlari ke arahnya. "Dimana kamar kita, Dad?" tanya Zia antusias.


"Di atas. Ayo, kita naik pelan-pelan ya," ucap Reigha dengan telaten.


Zia dan Zio berjalan lebih dulu untuk menapaki anak tangga. Sedangkan Reigha, dia berjalan di belakang Zia dan Zio.


Sesampainya di lantai atas, Reigha menunjuk satu kamar dengan pintu bercat coklat muda. Di depannya ada kunci yang menggantung dengan tulisan 'Zia dan Zio'.


"Ayo, kalian bisa buka kuncinya kalau ingin melihat isi kamae kalian," pinta Reigha tersenyum bahagia.


"Baiklah, Dad. Biar aku saja yang buka," ucap Zio kemudian tangan mungilnya bergerak memutar kunci.


Setelah terdengar klik dua kali, Zia dan Zio memutar kenop bersamaan lalu pintu pun terbuka menampakkan ruangan yang bercat biru muda. "Kenapa hanya dicat biru muda? Zia kan juga ingin memiliki kamar bercat merah muda," rengek Zia dengan wajah murungnya.


Reigha terkekeh geli. "Ada kok. Ayo masuk lebih dalam lagi agar Zia bisa melihat ruangan Zia," ucap Reigha kemudian mendorong pelan bahu mungil milik anak-anaknya.


Dan benar saja, di dalam ruangan itu terdapat dua kamar yang hanya dipisahkan kamar mandi yang berada di tengah-tengah. Tidak ada pintu sebagai pembatas. Hanya ada bingkai pintu selebar dua meter sehingga orang akan tahu bahwa di sebelah kamar Zio masih terdapat satu kamar lagi.

__ADS_1


Zia yang melihat dinding kamar bercat merah muda, memekik senang.


"Yeay! Zia kira kamar ini hanya untuk Zio. Karena kamar Zia tidak kelihatan ketika pintunya terbuka," ucap Zia bahagia.


"Pasti dong. Kalian sebentar lagi akan masuk TK. Jadi, Daddy berpikir jika kalian harus memiliki ruangan masing-masing. Nanti setelah kalian beranjak remaja, kalian akan Daddy buatkan kamar sendiri-sendiri," jelas Reigha yang membuat dua anaknya tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia.


Tidak ada kata yang terucap namun tindakan Zia dan Zio berhasil membuat hati Reigha menghangat. Dua anaknya kini berhambur memeluk kakinya. Reigha yang peka, segera berjongkok dan memeluk dua anaknya yang sangat berharga.


"Zia sayang Daddy dan Mommy," ucap Zia laksana embun pagi yang menetes di dedaunan. Reigha terenyuh.


"Zio juga sangat menyayangi Daddy dan Mommy." Kini giliran Zio yang ikut menyuarakan bahwa dia juga menyayangi kedua orangtuanya.


Lagi-lagi hati Reigha seperti baru saja disiram air yang sangat menyejukkan. Mata Reigha mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata bahagia.


"Terima kasih. Daddy sangat beruntung masih diberi kesempatan untuk bisa bersama-sama lagi dengan kalian. Daddy akan berusaha semaksimal untuk kalian berdua dan Mommy," ucap Reigha kemudian semakin mengeratkan pelukan.


Sedangkan di depan rumah, keadaan Riska jauh berbeda. Suasana haru seakan sedang menyelimuti rumah besar itu. Nala akhirnya berjumpa lagi dengan bi Ati, mantan asisten rumah tangganya dan Reigha dulu.


"Bibi apa kabar?" tanya Nala saat pintu gerbang telah terbuka dan mata keduanya hanya berakhir saling pandang.


Tanpa menunggu banyak waktu, Nala langsung berhambur ke pelukan bi Ati. Seseorang yang sudah menjadi temannya dulu saat Reigha belum menjalankan bertaubatan.


Saat mata Reigha masih kelilipan dengan sosok Sandra. Cukup lama keduanya berpelukan hingga bi Ati memilih untuk merenggangkan dekapannya agar bisa menatap Nala sepenuhnya.


"Bu Nala apa kabar? Ya Allah, Bu Nala semakin cantik saja setelah sekian lama tidak bertemu. Bibi sangat senang bisa bekerja bersama Bu Nala lagi," ucap bi Ati tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan.


Nala tersenyum dan mengangguk-angguk. "Kabarku baik, Bi. Walau bisa seperti ini tidak akan mudah. Banyak perjalanan hidup yang sudah aku jalani. Terima kasih karena dulu bi Ati begitu setia menemaniku," ucap Nala yang kini air matanya sudah jatuh membasahi pipi mulus nan putihnya.


"Itu tidak seberapa, Bu. Bibi menyesal karena tidak bisa membantu banyak waktu itu," sesal bi Ati dengan kepala menunduk.


Nala menggeleng, enggan membahas lagi kisah masa lalu yang begitu menyakiti perasaannya. "Lupakan, Bi. Ayo, kita masuk dulu agar Bibi bisa berkenalan dengan anak-anakku. Bibi pasti belum tahu bagaimana anak-anakku kan, Bi?" tanya Nala yang kini raut wajahnya sudah kembali ceria.

__ADS_1


Bi Ati tampak mengernyit. "Memangnya berapa anak Bu Nala? Kenapa menyembutnya dengan anak-anak? Apakah sudah lebih dari satu?" tanya bu Ati heran.


Hal itu sontak membuat Nala tertawa. "Aku mempunyai dua anak dan mereka terlahir kembar, Bi," beritahu Nala yang membuat wajah bi Ati mendadak berubah terkejut. Namun sedetik kemudian, wajah itu berubah menjadi penuh kebahagiaan.


"Alhamdulillah. Bibi ikut bahagia jika Bu Nala juga bahagia," ucap beliau tulus dari hati.


Setelah memasuki rumah, Nala tak lagi melihat sang suami beserta anak-anak di lantai bawah. "Kemana mereka? Mengapa sepi senyap seperti ini?" tanya Nala heran.


"Daddy! Zia! Zio!" pekik Nala yang suaranya menggema di seisi ruangan. Bi Ati sampai geleng-geleng kepala karena semasa mudanya, bi Ati tidak pernah mendengar Nala berteriak kencang.


Mungkin karena efek sudah emak-emak, jiwa-jiwanya sudah berbeda. Tidak berapa lama, yang di panggil menampakan diri dari ujung tangga.


"Ada apa, Sayang?" tanya Reigha heran. Namun, belum sempat Nala menjawab Reigha sudah kembali bersuara.


"Bi Ati? Akhirnya Bibi datang juga," ucap Reigha merasa lega.


Zia dan Zio yang belum mengenal sosok bi Ati, setia mengekor sang Daddy dari belakang dan ikut menuruni tangga seperti yang ayahnya lakukan.


"Zia, Zio, perkenalkan. Ini Bi Ati yang akan bekerja di rumah kita. Kalian bersikap baiklah dan harus menghormati orangtua ya?" ucap Nala menasehati.


"Tentu, Mom. Kita harus menghormati orang yang lebih tua dari kita," jawab Zia paruh.


"Dan menyayangi orang yang lebih muda dari kita," sahut Zio mengimbuhi.


Bi Ati yang gemas pun berjongkok di hadapan Zia dan Zio. "Kalian sangat pintar. Kalian anak-anak yang penyayang," puji bi Ati yang membuat Zia dan Zio tersenyum manis.


Nala ikut tersenyum begitu juga dengan Reigha. Dia bangga pada sang istri yang telah mendidik anak-anaknya menjadi anak yang beradab.


'Terima kasih banyak atas semuanya, Sayangku, Nala,' ucap Reigha yang tentunya hanya di dalam hati. Setelah ini, dia akan mengatakan ribuan kali terima kasih karena Nala telah melahirkan dan mendidik anak-anaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...sambil menunggu update, mampir juga kesini yuk 👇...



__ADS_2