
Bu laras benar-benar melakukan pingitan selama tujuh hari lamanya. Reigha juga tidak diperbolehkan untuk menelepon Nala untuk sekedar mendengar suara lembut calon istrinya itu. Dia merasa frustasi karena mamanya juga seakan ikut dalam persekongkolan ini.
Sudah empat hari lamanya, Reigha tidak berjumpa maupun mendengar suara calon istri dan anak-anaknya. Reigha sangat merindukan mereka semua.
Reigha menghela napas kemudian merubah posisi rebahannya menjadi telentang. Matanya menatap lurus langit-langit kamar. Hari ini sangat melelahkan karena Reigha harus menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari biasanya.
Ada niat dari diri Reigha untuk mengambil waktu libur selama sepuluh hari. Itu berarti, Nick yang akan mengambil alih semua pekerjaan. Oleh karena itu, Reigha bekerja keras agar saat dia tinggal, Nick tidak terlalu keteteran.
"Aku harus mencari cara agar bisa melihat wajah mereka semua," gumam Reigha lemah.
Seketika ide cemerlang muncul di kepala. Reigha bangkit lalu mencari keberadaan ponselnya.
"Bukankah aku bisa menghubungi Nanta?" gumam Reigha lagi merasa senang.
Tut. Tut. Tut.
"Halo, Mas. Ada apa?" tanya Nanta di seberang sana setelah telepon terhubung.
"Halo, Nan. Boleh minta tolong tidak? Aku ingin melihat wajah Zia dan Zio. Boleh kan? Apa Zia dan Zio ikut dipingit juga?" tanya Reigha nyeleneh.
Terdengar kekehan renyah di seberang sana sebelum berganti dengan bunyi krusak-krusuk. "Sebentar, Mas. Zia dan Zio ada di luar. Sepertinya sedang bermain," ucap Nanta menjelaskan.
__ADS_1
"Aku tunggu kok, Nan," jawab Reigha merasa tidak masalah.
Reigha bisa mendengar Nanta yang memanggil nama dua anaknya kemudian diganti dengan suara sandal rumahan yang menapaki lantai marmer. Lalu, "Daddy! Zia rindu Daddy!" pekik susrs melengking yang membuat Reigha harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
Setelah cukup, Reigha kembali menaruh benda persegi itu di daun telinga. "Daddy juga merindukan kalian," jawab Reigha tersenyum hangat. Walau senyuman itu tak bisa dilihat oleh Zia dan Zio di seberang sana.
"Coba, ubah panggilan menjadi panggilan video. Daddy ingin melihat wajah cantik Zia dan wajah tampan Zio," titah Reigha lembut yang segera dilakukan oleh Zia, sebagai pemegang ponsel.
Tentu Zia sudah tahu bagaimana caranya karena sudah beberapa kali melakukannya. "Daddy! Kapan Daddy akan datang? Kami sudah tidak sabar untuk tidur bersama Daddy," ucap Zia menggebu-gebu. Wajahnya sudah memenuhi layar dengan Zio di belakang yang mencoba untuk melihat wajah sang Ayah.
Reigha geleng-geleng kepala melihat tingkah anak perempuannya yang terlewat bar-bar. Pantas saja banyak yang mengatakan jika Zia adalah fotokopi dari Nala. Jika ingin melihat masa kecil Nala, maka itu bisa dilihat dari Zia.
Sedangkan Zio, dia lebih mirip dirinya yang stay cool dan tidak terlalu banyak bicara jika tidak ada keperluan. Namun, bukan berarti Zio irit bicara. Zia cenderung akan banyak bicara jika sudah bersama orang-orang terdekat.
"Mommy sedang berada di dalam. Buyut dan Oma Muda baru saja tiba," jawab Zio yang kini mulai menunjukkan suaranya.
Reigha magut-magut- tanda paham. "Bisa kalian bawa ponselnya pada Mommy? Daddy ingin mendengar dan melihat wajah cantik Mommy kalian," ucap Reigha penuh permohonan.
Zia tersenyum penuh arti. "Tidak bisa, Dad. Kata Oma, Mommy dan Daddy sedang tidak boleh bertemu," jawab Zia cerdas.
Reigha menggusah napas kasar. Anaknya memang sangat luar biasa. Akhirnya, Reigha putuskan untuk mengobrol bersama dua anaknya. Zia dan Zio tampak antusias ketika menceritakan keramaian di rumahnya.
__ADS_1
Hingga hampir tiga jam berbincang via telepon, Zia dan Zio pamit karena harus membersihkan diri mereka. Dari perbincangan anak-anak, Reigha teringat bahwa dia belum membahas soal rumah. "Tidak mungkin aku dan Nala menumpang di rumah orangtua terus. Aku harus segera mencari rumah disini saja. Rumahku yang berada di Jakarta, biarlah aku sewakan saja," monolog Reigha mulai memikirkan masa depan.
Waktu semakin bergerak dan menunjukkan pukul enam sore. "Aku harus mandi dulu. Mama dan papa pasti akan datang sebentar lagi," gumam Reigha segera memasuki kamar mandi.
Pak Prabu dan bu Nilam memang pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan semuanya. Dan mereka mengatakan akan datang ke Bogor lagi tepat sebelum tiga hari Reigha menikah.
Mereka ingin anaknya hadir dengan sempurna di hari pernikahan.
Sedangkan di tempat lain, Nala sedang menemani Zia dan Zio mandi. Setelah selesai, kini dua anak kembar itu harus mengenakan pakaian. Mereka masih bersenda gurau tidak tentu hingga pembicaraan itu membuat Nala mengalihkan perhatian lebih saat mendengar Nala Reigha disebut.
"Daddy tadi telepon kami, Mom," beritahu Zia setelah mengenakan pakaian lengkap.
"Oh ya? Apa yang Daddy katakan pada kalian? Apa Daddy juga mencari Mommy?" tanya Nala antusias dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi.
"Iya, Mom. Daddy mengatakan ingin melihat wajah Mommy dan mendengar suaranya," jawab Zio seakan ingin ikut selama pembicaraan Zia dan sang Mommy.
"Lalu kalian menjawab dengan apa?" tanya Nala sambil mengulum senyum.
"Zia jawab saja jika Mommy dan Daddy sedang tidak boleh bertemu. Tahu tidak, Mom? Wajah Daddy menjadi masam," beritahu Zia kemudian terbahak sendiri.
Zio dan Nala pun ikut terbahak-bahak. Nala senang jika Reigha merasa tersiksa dengan pingitan ini. Itu akan menguji seberapa besar cinta yang Reigha miliki.
__ADS_1
"Bagus. Kalian memang anak yang pintar," puji Nala kemudian memeluk dua anaknya lembut. Ketiganya kembali tertawa bahagia dengan posisi masih berpelukan.