
Satu hari kemarin Nanta hampir tidak melihat ponsel. Harinya terlalu asik saat bersama Anjani. Setelah duduk di kursi kerjanya, Nanta mencari merogoh saku celana bahannya dan menemukan ponsel di dalamnya.
Mata Nanta membulat sempurna saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari sang Ibu dan sang Kakak. Kemudian, ada pesan yang dikirimkan oleh kakaknya.
Mbak Nala:
Nan. Ibu rindu kamu. Ibu mengatakan kalau kamu sudah lupa pulang. Padahal, Jakarta-Bogor tidak menghabiskan perjalanan berhari-hari.
Begitulah kira-kira isi pesan yang dikirimkan oleh kakaknya, Nala. Nanta menarik lalu menghembuskan napasnya kasar. Bukan karena tak rindu dengan sang Ibunda. Hanya saja, Nanta takut sakit hatinya akan timbul setiap kali menginjak tanah Bogor.
Di tanah itu banyak kenangan manis yang Nanta lalui bersama Rose. Sudah hampir semua tempat seperti sudah Nanta kunjungi bersama Rose. Bogor adalah kota kenangan.
Mungkin, Minggu depan Nanta harus benar-benar mempersiapkan diri lebih baik lagi. Datang ke acara pernikahan Rose, berarti Nanta harus siap untuk kembali ke Bogor.
Agar tidak membuat sang Ibunda dan Kakaknya khawatir, Nanta pun menghubungi Nala terlebih dahulu.
Tut. Tut. Tut.
"Ya Tuhan, Nanta! Kamu kemana saja kemarin? Dasar anak durhaka!" teriak suara kakaknya di seberang sana yang membuat telinga Nanta seakan berdengung.
"Mbak Nala ... Suaranya tolong dikondisikan," kesal Nanta sebagai jawaban.
Nanta bisa mendengar mbak-nya berdecak di seberang sana. "Ck. Ibu tuh khawatir. Kenapa kok tumben kamu tidak pulang. Padahal, dulu pas di Bandung kamu seminggu sekali pulang. Nah, ini juga yang membuat Mbak menaruh banyak curiga. Apa terjadi sesuatu?" Nala bertanya dengan nada lembut. Sengaja agar Nanta mau berkata jujur padanya.
Nanta tersenyum masam lalu mengganti panggilan telepon menjadi panggilan video. Setelah mbak-nya menerima, Nanta bisa melihat Nala yang kini sedang duduk di kursi kerjanya. Bisa Nanta tebak, mbak-nya itu sedang berada di kantor.
"Ada sesuatu yang membuatku enggan pulang, Mbak," ucap Nanta pada akhirnya memilih jujur.
Nanta bisa melihat ekspresi kakaknya terlihat biasa saja. Seakan memang sudah mengerti. "Aku paham, Nan. Coba cerita dengan Mbak. Siapa tahu nanti Mbak bisa bantu kamu," ucap Nala selalu siap yang membuat perasaan di hati Nanta terasa menghangat.
Kemudian, cerita Nanta mengalir begitu saja dari awal Rose memutuskan hubungan dan mengatakan akan menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya.
__ADS_1
Bahkan, Nanta juga menceritakan tentang Rose dan Rendra yang mengajak dirinya untuk bertemu. Bahkan, hasil dari pertemuan itu hanyalah untuk menyerahkan surat undangan.
"Jadi bagaimana menurut Mbak Nala?" tanya Nanta meminta pendapat. Tentunya setelah menceritakan semuanya hingga selesai.
"Menurut Mbak, kalau kamu tidak sanggup datang, tidak perlu datang. Mbak tahu, rasanya pasti tidak akan mudah dan mungkin, akan menyakiti perasaan," jawab Nala mencoba memahami perasaan sang adik.
"Tetapi, jika kamu ingin datang dan menunjukkan bahwa kamu baik-baik saja, sebaiknya dihindari. Lebih baik kamu datang dengan keikhlasan. Walau Mbak tahu, ikhlas itu tidak mudah. Kamu harus lepaskan Rose agar hidupnya bisa bahagia. Begitu juga dengan hidup kamu," sambung Nala lagi yang membuat Nanta mengangguk paham.
"Aku memilih untuk datang, Mbak. Namun, aku tidak akan sendirian. Aku akan mengajak seseorang." Nanta pun mengatakan tujuannya.
"Siapa? Jangan bilang kamu sudah dapat pengganti? Rose yang pernah kamu ceritakan ke Mbak dulu kan?" tanya Nala raut wajahnya tampak mengingat-ingat.
Setelah Nanta mengangguk. Nala tampak melebarkan matanya. "Kalian sudah berpacaran bertahun-tahun. Tetapi, kalian harus berpisah karena sudah berbeda jalan. Apapun itu, mungkin sudah takdir dari Tuhan," ucap kakaknya hampir sama dengan ucapan Anjani kemarin. Hingga melupakan siapa yang akan dirinya ajak ke pesta itu.
Syukurlah. batin Nanta merasa lega.
Nanta geleng-geleng kepala ketika nama Anjani terlintas di kepala. "Ya sudah. Aku tutup dulu ya, Mbak. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus. Katakan pada ibu, Sabtu, di minggu ini aku akan pulang." Nanta menitipkan pesan untuk sosok wanita yang sudah melahirkannya.
"Pasti. Ya sudah, jangan lupa juga hubungi Ibu setelah ini agar tidak cemberut sepanjang hari."
"Aku akan telepon lagi nanti. Lebih baik aku kirim pesan ke Ibu saja," gumam Nanta kemudian segera mengetik balok angka.
Sore hari pun tiba. Nanta sudah keluar dari gedung dimana usaha buruh cuci sang ibu berada. Bukannya langsung pulang, Nanta justru memutar setir menuju rumah Anjani.
Aneh sekali memang. Namun, bukankah tujuan Nanta adalah untuk menjalin hubungan dekat yang natural? Ya, Nanta percaya hanya sebatas itu.
Sebelum sampai, Nanta sempatkan untuk membeli sate kambing Madura dua porsi. Nanta mengingat jelas ucapan Anjani yang bercerita jika sang ibu sangat menyukai sate kambing Madura.
Tidak berapa lama, mobil sampai di depan rumah Anjani. Hanya rumah sederhana namun terlihat sangat asri karena banyaknya tanaman yang tumbuh. Tanaman itu terlihat dirawat dengan baik oleh sang pemilik.
Tok. tok. tok.
__ADS_1
Nanta mengetuk pintu rumah Anjani. Dia menunggu dengan seksama. Berharap segera ada yang membuka dari dalam.
Ceklek.
"Eh. Ada Mas Nanta. Ayo masuk dulu." Ibunya Anjani muncul dan langsung tersenyum lebar kala melihat Nanta-lah yang datang.
"Baik, Tan. Anjaninya belum pulang ya, Tan?" tanya Nanta sambil mengikuti langkah ibunya Anjani masuk.
"Duduk dulu. Paling sebentar lagi sampai rumah kok," jawab ibunya Anjani ramah.
Kemudian, Nanta teringat pada sate kambing yang dia bawa. "Tante? Ini ada jajan dariku untuk Tante dan Anjani. Tolong diterima ya, Tan." Nanta mengulurkan satu kantong kresek untuk ibunya Anjani terima.
"Wah. ini sate kambing ya, Nan? Terima kasih banyak, Tante sangat suka dengan makanan satu ini," ucap ibunya Anjani lalu menerima pemberian Nanta dengan senang hati.
'Calon mantu memang paling mengerti,' gumam ibunya Anjani dalam hati.
Ibunya Anjani pamit ke dapur untuk meletakkan makan yang Nanta bawa sekaligus membuatkan minuman.
Perhatian Nanta teralihkan oleh suara dari arah pintu yang tidak ditutup kembali. Sengaja di buka agar tidak menimbulkan persepsi buruk oleh warga sekitar.
"Nanta? Kenapa datang kesini?" Pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir Anjani begitu saja. Gadis itu tampak terkejut dengan kedatangannya yang tidak di undang.
Nanta tersenyum canggung. Dia juga tidak paham mengapa memilih ke rumah Anjani terlebih dahulu sebelum pulang.
"I-itu. Katanya kamu dan ibumu suka dengan sate kambing. Tadi saat di jalan, aku melihat tukang sate yang masih sepi pembeli. Jadi, aku pilih untuk membelikan sate tersebut," jawab Nanta berbohong. Padahal, dia memang sengaja membeli sate tersebut tanpa embel-embel sepi.
Justru, warung yang Nanta beli ramai dan dalam kondisi mengantri.
Anjani tersenyum lalu mendudukkan diri di sebelah Nanta. Baru saja Anjani duduk, suara Nanta kembali terdengar.
"Kalau boleh tahu, ayah kamu dimana, Njan?" tanya Nanta yang membuat Anjani terpaku di tempat.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...