Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 32. Titip kembar


__ADS_3

Setelah meminta Nick untuk mengirimkan foto Nala beserta kedua anaknya, Reigha meminta Nick untuk mengurus kantor. Dia akan pulang terlebih dahulu untuk memberitahukan pada mama dan papanya.


Reigha berharap, ini adalah sebuah cara agar bisa kembali memeluk Nala. Seorang wanita yang hampir empat tahun ini tidak mampu hilang dalam hati maupun ingatannya.


Setelah turun ke lobi, Reigha bergegas menuju tempat parkir lalu masuk ke mobil miliknya. Reigha sudah tidak sabar menemui mama dan papanya. Mereka pasti merasa bahagia setelah tahu bahwa Nala mempunyai anak darinya.


Sekitar tiga puluh menit, Reigha sampai dan berjalan tergesa-gesa masuk ke rumah orangtuanya. "Papa! Mama!" panggil Reigha berteriak hingga menimbulkan kebingungan pada keduanya.


"Ada apa sih, Ga. Mama sampai deg-degan seperti ini gara-gara terlalu terkejut," kesal bu Nilam yang kini berlarian mendekati putranya.


Pak Prabu yang baru pulang dari kantor, juga penasaran setelah mendengar teriakan Reigha yang menggema sampai luar rumah. "Ada apa sih, Ga?" tanyanya saat sudah berada di dalam rumah.


"Ini! Reigha mau menunjukkan ini," ucap Reigha dengan napas terengah-engah. Tangannya sibuk mencari foto yang dikirim Nick ke ponselnya. Setelah dapat, Reigha menunjukkannya pada bu Nilam juga pak Prabu.


"Siapa ini, Ga?" tanya bu Nilam heran.


"Iya, siapa ini? Mengapa kamu menunjukkan foto anak kecil pada kami?" sahut pak Prabu sama bingungnya.


Reigha tersenyum lebar. "Lihat slide pertama, Ma," pinta Reigha yang segera dilakukan oleh bu Nilam.


Ketika foto pertama sudah terpampang, wajah bu Nilam mendadak murung. "Nala sudah mempunyai anak?" tanyanya terdengar kecewa.


Reigha mengangguk. "Coba Mama amati anak laki-laki ini, mirip aku tidak, Ma?" tanya Reigha memperbesar foto di layar ponselnya.


"Iya, ini mirip sekali denganmu waktu kecil. Papa ingat sekali," jawab pak Prabu lebih dulu.


"Berarti ...." tanya bu Nilam menggantung.


Reigha yang seolah paham pun mengangguk. "Iya, Ma. Aku menduga bahwa dua anak itu adalah anakku," jawab Reigha dengan mata uang berkaca-kaca.


"Tetapi, apakah benar itu anakmu? Bagaimana jika Nala sudah menikah. Karena selama hamil sangat membencimu, wajah anaknya saat lahir jadi mirip denganmu?" tanya bu Nilam berasumsi.


Wajah Reigha yang semula sumringah mendadak mendung. Yang dikatakan mamanya memang ada benarnya juga. Bahu Reigha merosot kemudian berjalan gontai keluar dari rumah orangtuanya.


Ya, selama empat tahun ini Reigha tinggal sendiri di rumah tempat dulu Reigha tinggal bersama Nala. Hanya dengan tinggal di rumah itu, Reigha bisa mengenang Nala selama hidupnya.

__ADS_1


"Ga! Tunggu!" panggil pak Prabu yang membuat Reigha menghentikan langkahnya yang akan masuk ke mobil.


"Kenapa, Pa?" tanya Reigha lemah tak bertenaga.


Pak Prabu menghela napas. "Apa perlu kita datangi mereka?" tawar pak Prabu yang membuat Reigha bingung.


Jika Reigha dan orangtuanya datang, apakah bu Laras masih mau menerimanya? Sedangkan selama empat tahun terakhir ini, hubungannya tidak baik-baik saja.


Ya, hubungan persahabatan antara Bu Nilam dan bu Laras menjadi renggang setelah apa yang terjadi pada anak-anaknya. Bu Laras mengatakan bahwa beliau tidak bisa bersikap biasa-biasa saja setelah apa yang terjadi.


Sebagai seorang ibu, bu Laras tidak rela anaknya di perlakukan buruk oleh siapapun itu. Bu Laras tahu bahwa bu Nilam juga pak Prabu tidak bersalah dalam hal ini. Tetapi, bu Laras seperti enggan untuk menjalin hubungannya kembali.


"Bagaimana jika tante Laras menolak kita?" jawab Reigha lesu.


Pak Prabu menghela napasnya lelah. "Semua keputusan ada di tangan kamu, Ga. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Yang terpenting, hal itu tidak membuat orang lain merasa terluka," ucap pak Prabu sambil menepuk bahu Reigha lembut.


...................


Hari berganti. Nala tersenyum bahagia melihat kedua anaknya begitu bahagia saat bermain bersama pekerja di rumah ibunya.


"Zia, Zio, jangan ganggu Mbaknya dulu ya? Kasihan, pekerjaannya tidak selesai-selesai kalau kalian ganggu terus," ucap Nala lembut, bermaksud menasihati.


"Tidak masalah, Bu. Saya justru merasa senang ada mereka," jawab Sofi sopan.


"Baiklah. Mbak, Zia tinggal dulu ya? Zia mau main dulu sama uncle Nanta," pamit Zia lebih dulu yang segera diikuti oleh Zio.


"Zio tinggal dulu ya, Mbak?" ucap Zio ikut berpamitan.


Nala tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terima kasih karena sudah dijaga Zia Zio-nya ya, Mbak," ucap Nala ramah.


Sofi mengangguk. "Sama-sama, Bu."


Saat Nala berbalik untuk menggandeng kedua tangan anaknya, Zia dan Zio justru sudah berlari memasuki rumah untuk mencari keberadaan unclenya.


Nala geleng-geleng kepala melihat tingkah si kembar yang memang sangat aktif. Nala memutuskan masuk untuk menyusul anak-anaknya.

__ADS_1


"Nala?" panggil bu Laras dari arah dapur.


"Iya, Ma? Ada yang bisa Nala bantu?" jawab Nala perhatian.


Bu Laras menggeleng. "Ada yang mau ibu bicarakan padamu. Ini tentang ... Reigha," ucap bu Laras terdengar ragu dan sangat hati-hati ketika menyebut nama Reigha di dalam pembicaraannya bersama Nala.


Nala menghembuskan napasnya kasar. Jika sudah kembali ke negaranya, memang besar kemungkinan nama Reigha akan selalu disangkut-pautkan.


"Baiklah. Aku titip kembar dulu sama Nanta dan Tante Rika," jawab Nala kemudian menoleh ke arah ruang tengah.


"Nanta! Tante Rika! Titip kembar dulu sebentar ya? Ibu mau bicara soalnya," ucap Nala sedikit berteriak.


Bu Laras meringis. "Sst! Kamu sepertinya sudah kembali menjadi kamu sewaktu ABG deh, suka teriak-teriak. Jangan bilang setelah ini kamu juga akan main balap lagi," ucap bu Laras dengan mata melotot.


Nala tergelak. "Ya masa aku balapan. Bagaimana si kembar coba? Aku tidak mau anakku seperti aku yang dulu, bikin pusing," jawab Nala meringis kemudian menuntun sang ibunda untuk menaiki tangga.


"Mau di kamar siapa, Bu? Aku atau kamar ibu?" tanya Nala saat keduanya sudah memijak di tangga pertengahan.


"Kamar ibu sajalah. Kamar kamu terlalu lama untuk berjalan," jaaba bu Laras yang membuat Nala mencebikkan bibirnya kesal.


"Paling beda beberapa langkah saja, Bu. Bukan beberapa kilometer," jawab Nala tidak habis pikir.


Bu Laras hanya terkekeh menanggapi. Dia merasa bersyukur karena Nala uang ceria kini sudah kembali lagi. Bu Laras sempat merasa terpuruk saat putrinya itu melahirkan dua anak tanpa suami.


Apalagi, Nala mengalami baby blues sehingga menyebabkan putrinya itu sedih berlebihan. Jangankan masalah besar, masalah kecil saja Nala akan menangis dan marah-marah. Dan yang lebih parahnya lagi, Nala akan memarahi anak-anaknya saat rewel walau kedua anaknya tidak tahu masalah orang dewasa.


Bu Laras memaklumi itu. Pasti sangat melelahkan menjadi Nala yang saat itu merupakan single parent muda.


"Ibu merasa bersyukur akhirnya kamu bisa tersenyum dan ceria seperti dulu," ucap bu Laras sambil menatap profil samping anaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...terima kasih untuk kalian yang masih setia memberikan dukungan berupa like, komen, vote, bahkan hadiah dan tips🙏 ...


...mampir kesini juga yuk 👇...

__ADS_1



__ADS_2