
Saat ini Reigha sedang berada di rumah yang dulu di tinggali dirinya dan Nala. Sudah hampir satu minggu Reigha pulang ke rumah tersebut. Reigha terduduk di sisi ranjang dengan menatap nanar pada foto yang dikirimkan Nick ke nomor HP-nya. Foto yang di dalamnya terdapat Nala, Dandy, Zia, dan Zio yang sedang berada di atas panggung.
Di belakang panggung itu tertulis 'The Engagement of Nala and Dandy'. Reigha tertawa getir. Sepertinya sudah tidak ada lagi celah untuk Reigha masuk ke hati Nala.
Bahkan, dua darah dagingnya begitu dekat dengan Dandy. Reigha menertawakan dirinya sendiri yang sudah dibodohi Dandy selama hampir empat tahun lamanya.
Entah apa maksud Dandy yang dulu mengatakan tidak pernah menghubungi Nala lagi setelah kepergian mantan isterinya itu.
Sekarang, apa coba buktinya? Dandy akan segera menikah dengan mantan istrinya. Sahabat macam apa Dandy ini?
Reigha mengusap wajahnya kasar. "Apapun itu, aku doakan semoga kamu bahagia, La. Jika kamu dan anak-anak bahagia, aku ikut bahagia," ucap Reigha dengan air mata yang mulai membendung di pelupuk mata.
Merelakan memang tidak semudah kata. Bibir bisa berbicara ikhlas. Namun, hati berkata lain. Tidak mengapa bagi Reigha. Nala berhak bahagia dan menemukan cinta yang sebenar-benarnya cinta. Walau pada kenyataannya, bukan Reigha orangnya.
Reigha menatap sekali lagi wajah Nala yang tampak tersenyum cerah bersama orang-orang terdekatnya. "Semoga bahagia, La. Semoga Dandy bisa menerima anak-anakku layaknya anak kandung dan tidak membeda-bedakannya."
"Aku tahu, mungkin semua itu tidak pantas aku ucapkan karena pada kenyataannya, aku bukanlah ayah baik. Tetapi, aku ingin yang terbaik untuk anak-anak. Mereka hanyalah anak-anak yang belum mengerti tentang masalah orang dewasa. Semoga ini merupakan keputusan yang tepat agar kamu bisa berbahagia," ucap Reigha dengan air mata yang berlinang.
Diusapnya wajah Nala di layar ponsel miliknya. Hanya gambar Nala yang bisa menemani hari-hari Reigha. Namun beberapa hari ke depan, hal itu akan segera Reigha tinggalkan.
Dalam waktu seminggu ke depan, Nala akan resmi menjadi milik Dandy seutuhnya. Reigha sudah tak diperbolehkan memandang foto Nala yang sudah berstatus sebagai isteri sahabatnya sendiri.
"Bos?" panggil Nick pelan.
__ADS_1
Dia sudah mendengar semua yang Reigha katakan tadi. Melihat atasannya yang sangat menyedihkan, membuat Nick merasa kasihan.
"Kenapa, Nick? Jangan datang kesini jika hanya ingin menertawakan keadaanku. Aku sedang tidak ingin bercanda kali ini. Aku benar-benar sudah gagal," racau Reigha terdengar begitu mengiris kalbu.
Nick menggeleng. "Tidak, Bos. Aku tidak datang untuk itu. Boleh aku duduk?" tanya Nick dengan nada bicaranya yang memelan.
Reigha mengangguk pelan sebagai jawaban. Hanya Nick satu-satunya orang yang masih setia berada di samping Reigha.
Sesaat setelah Nick duduk di sampingnya, Reigha kembali menyuarakan isi hatinya.
"Nick? Kemarin Nala tampil sangat cantik. Kau tahu?" tanya Reigha meracau.
"Aku tahu, Bos," jawab Nick dengan tenggorokan yang terasa tercekat.
Nick yang tahu bagaimana menyesalnya seorang Reigha hingga tidak ada satu hari pun dilewatkan tanpa bercerita tentang Nala.
Nala yang seperti ini, Nala yang seperti itu, Nala yang semakin cantik. Bahkan, Reigha pernah mengatakan bahwa dia sangat bahagia karena berhasil mendapatkan senyum Nala.
"Tapi, Nala sudah tak lagi ingin melihatku. Dia sangat membenciku, Nick," racau Reigha lagi yang tidak mendapatkan jawaban dari Nick.
"Aku merasa terluka. Tetapi aku sadar, mungkin itu pantas untukku. Nala berhak marah, kecewa, bahkan membenciku."
Reigha menghapus air mata dengan kedua tangan lalu melanjutkan kalimatnya. "Aku begitu sedih saat Nala mengabaikanku begitu saja. Aku sakit, Nick," rintih Reigha seakan sakit itu sedang menderanya.
__ADS_1
Tanpa sadar, Nick ikut meneteskan air mata. "Sudah, Bos. Jangan bersedih terus-menerus. Hidup akan terus berjalan dan Bos harus melewatinya. Entah dengan hampa, sedih, atau sebaliknya. Mungkin, Bos bisa mengambil pelajaran dari ujian hidup yang datang," ucap Nick panjang lebar mengeluarkan petuahnya.
Reigha hanya diam dengan mata yang tidak berhenti meneteskan cairan bening. Nick membiarkan Reigha meluapkan semua rasa sedih yang dirasa tanpa ingin mengahakimi ataupun menggurui. Reigha hanya manusia biasa yang bisa merasakan kesedihan yang mendalam.
"Kembalilah ke Bogor, Nick. Banyak pekerjaan yang harus kamu urus selama aku dalam masa patah hati. Maaf, karena lagi-lagi aku harus menimpakan semua pekerjaan padamu," ucap Reigha setelah sedikit lebih tenang.
Nick menghembuskan napasnya kasar. Tidak ada pilihan selain membiarkan Reigha menenangkan diri dan kembali merakit utuh hatinya yang hancur.
Mungkin, kali ini Nick akan membiarkan Reigha merasakan apa arti sedih agar ketika ada bahagia yang menyapa, Bosnya itu akan lebih menghargai perasaan yang tercipta.
"Baiklah, Bos. Aku harus ke Bogor lagi," ucap Nick pada akhirnya.
Dia beranjak dari kursi dan kembali menghela napas kasar. Tangannya bergerak untuk menepuk bahu Reigha guna memberikan dukungannya.
"Jaga diri baik-baik, Bos. Besok pagi aku akan kembali lagi. Yang terpenting, jangan lupa uang bensin," ucap Nick melontarkan candaan agar Reigha bisa tertawa.
Benar saja, hal itu berhasil membuat Reigha tertawa di atas tangisnya. "Kamu tenang saja," kelakar Reigha yang membuat perasan Nick bisa lebih tenang meninggalkan atasannya sendirian.
"Aku pergi, Bos. Lain kali jangan lupa agendakan liburan untukku," canda Nick lagi yang membuat Reigha kembali tertawa.
"Terima kasih, Nick," ucap Reigha bersyukur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...kasihan ya, Babang Reigha 😔...