Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 119. Selesai


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan sinar keoranyean-nya, pertanda sore hari telah tiba dan disusul oleh malam. Nanta dan Anjani pamit untuk kembali ke Jakarta. Saat di tengah jalan, tepatnya berada di area jalan tol, Nanta membelokkan mobil menuju rest area. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit.


Nanta yakin jika saat ini Anjani sudah lapar. "Kenapa kesini, Nan?" tanya Anjani bingung.


"Kita makan dulu. Sebentar lagi waktunya makan malam tiba. Jadi, kita makan di area sini saja. Bagaimana?" tanya Nanta meminta pendapat Anjani. Bersamaan dengan itu, Nanta telah menghentikan mobil di lahan parkir yang telah disediakan.


"Baiklah. Itu akan lebih baik," jawab Anjani lalu memilih turun lebih dulu. Nanta pun turun dan mengunci mobil dengan remote kontrol.


"Mau makan dimana?" tanya Nanta.


"Terserah," jawab Anjani yang membuat Nanta mendengkus pelan.


Pada akhirnya, Nanta membawa Anjani untuk makan di sebuah rumah makan dimana di sana terdapat banyak sekali menu makanan.


Setelah menyebutkan pesanan kepada pramusaji, Anjani menatap Nanta yang saat ini duduk di berhadapan dengannya.


"Kenapa?" tanya Nanta merasa salah tingkah karena sadar sedang diperhatikan lekat.


"Berarti, kerjasama kita sudah selesai dong. Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan yaitu, dengan menjadi pacar pura-pura mu. Aku sudah melakukan latihan dan yang terakhir datang ke pesta pernikahan. Bahkan, aku sudah kehilangan ciuman pertama," ucap Anjani panjang lebar. Namun di akhir kalimat, suaranya merendah dengan raut wajah yang meringis.


Nanta mengangguk membenarkan. "Benar. Kerjasama kita sudah selesai. Hubungan di antara kita sudah saling lunas," jawabnya membenarkan.


Anjani tersenyum. "Jadi, tidak akan ada drama lagi kan?" tanya Anjani lagi dengan sorot mata berbinar.

__ADS_1


Sekali lagi Nanta mengangguk dan Anjani langsung memekik senang. "Yeay! Akhirnya aku bisa hidup bebas!" pekiknya yang langsung mendapat pelototan tajam dari Nanta.


Sontak hal itu membuat tangan Anjani bergerak untuk menutup mulutnya. Sayangnya, reaksi itu hanya terucap di bibir. Pada dasar hatinya mengatakan bahwa Anjani sedikit tidak rela. Ya. Mungkin hanya sedikit. Tidak mungkin banyak bukan?


Entahlah, apa Nanta juga merasakan hal yang sama? Apalagi, Anjani hanya bisa melihat raut wajah Nanta yang berubah datar.


Tidak berapa lama, makanan datang dan keduanya larut memakan hidangan. Tidak ada lagi yang bersuara termasuk Nanta. Mereka sama-sama sibuk dengan isi kepalanya sendiri.


Sebenarnya, Nanta juga merasakan hal yang sama. Yaitu tidak rela jika hubungan kerjasama ini akan berakhir.


Keduanya sama-sama lupa jika mereka masih bisa menjalin hubungan dengan status yang berbeda. Seperti pertemanan misalnya?


Hingga makan selesai, Nanta baru mengangkat wajah untuk menatap Anjani. "Apakah itu berarti, kita tidak bisa bertemu lagi?" tanyanya lembut.


eng ing eng.


Suasana sendu dan haru itu mendadak terganti dengan suasana konyol. Nanta berdecak kesal lalu mendorong wajah Anjani agar menjauh. "Kita pulang. Semakin malam, pikiranmu semakin miring," kesalnya lalu berdiri lebih dulu meninggalkan Anjani.


Merasa telah berhasil mengerjai Nanta, Anjani ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Namun jika ingat dirinya sedang berada dimana, hal itu segera Anjani urungkan.


Dengan langkah tergesa-gesa, Anjani pun menyusul Nanta yang kini sedang berada di meja kasir demi melakukan pembayaran.


Sepanjang perjalanan menuju Bogor, Anjani tertidur pulas. Berulangkali Nanta melirik ke pada Anjani yang terlihat kurang nyaman dengan posisi duduknya. Walau pada kenyataannya, dengkuran halus keluar dari mulut gadis tersebut.

__ADS_1


Nanta mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya. Merasa lucu melihat ekspresi Anjani saat sedang tertidur.


Sebenarnya, Nanta ingin sekali berhenti dan membenarkan posisi duduk gadis di sebelahnya. Namun, keadaan tidak memungkinkan karena saat ini mobilnya sedang melaju di jalan tol.


Hingga sampai di ibu kota, nyatanya Nanta hanya sanggup menahan tangannya yang sudah gatal ingin membenarkan posisi duduk Anjani. Dia terlalu tidak tega untuk membangunkan gadis tersebut.


'Anjani ... Anjani. Terlalu lama bersamamu bisa membuat pikiranku menjadi gila,' batin Nanta merutuki diri.


Mobil berhenti saat traffic light berubah merah. Nanta menatap pada angka yang tertera di samping lampu. Melihat Angka 90 di perhitungan waktu, Nanta gunakan untuk membenarkan posisi duduk Anjani.


Dengan sangat hati-hati dan selembut yang Nanta bisa. Tentunya agar Anjani tidak terganggu dalam tidurnya. Setelah berhasil menegakkan tubuh Anjani, bukannya menjauh Nanta justru menatap wajah damai yang kini terlihat semakin cantik.


Pandangan Nanta jatuh pada bibir ranum yang kini tampak sedikit terbuka. Jakun Nanta naik dan turun melihatnya. Sangat menggoda.


Damn it! Nanta mengumpati diri sendiri karena tiba-tiba kepalanya terlintas sebuah tindakan yang sangat tidak pantas. Nanta mendadak ingin mencium bibir itu atau sekedar me lu matnya.


"Sialan!" umpat Nanta lirih lalu segera menjauhkan tubuh dan kembali duduk di kursinya.


Bersamaan dengan itu, lampu telah berganti menjadi hijau dan Nanta bergegas melajukan mobilnya. Berharap pikiran yang tidak-tidak segera enyah.


Lima belas menit kemudian, mobil sampai di depan rumah Anjani. Gadis itu tampak menggeliat lalu matanya perlahan terbuka. "Sudah sampai ya?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya memicing untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina.


"Iya. Sudah sampai," jawab Nanta tanpa perlu repot-repot menoleh.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan turun. Terima kasih atas kerjasama yang menguntungkan ini. Sampai jumpa di lain kesempatan."


__ADS_2