
Hari pernikahan Rose akan tiba dua hari lagi. Sepulang bekerja, Nanta dan Anjani sudah membuat janji untuk datang ke butik. Bagaimana pun, keduanya harus tampil serasi dengan balutan kain yang serasi juga.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Nanta keluar dari ruangan. Saat melewati kubikel Jedi, Nanta pun berkata. "Aku pulang dulu ya, Jed. Kamu tolong tutup loundry."
"Siap, Bos!" jawab Jedi penuh semangat walau hari sudah sore.
Setelah sampai dalam mobil, Nanta segera melaju menuju perusahaan Cakrawala, dimana tempat Anjani bekerja. Ya. Nanta sudah berjanji untuk menjemput gadis cantik itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, Nanta telah sampai dan memilih menunggu di depan perusahaan. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh lima menit. Itu berarti, lima menit lagi Anjani akan pulang.
"Aku hubungi saja kalau begitu. Takut dia menunggu di depan lobi dan tidak melihat mobilku," gumam Nanta lalu segera mengambil ponsel yang tergeletak di dashboard.
Bukan menelepon Anjani. Nanta memilih untuk mengirimi pesan.
Aku:
Aku sudah menunggu di depan pintu gerbang. Barangkali kamu tidak melihat, kamu langsung saja ke depan.
Pesan itu segera Nanta kirim dan tanda cekliss dua abu-abu nampak.
Tidak berapa lama, warna abu-abu itu berganti menjadi warna biru lalu ada tulisan mengetik di bawah nama Anjani.
Anjani:
Aku segera turun:)
__ADS_1
Nanta tersenyum sendiri membaca pesan yang balasan dari Anjani yang diakhiri emotikon senyum.
Di kepalanya tiba-tiba terngiang senyum gadis cantik tersebut. Nanta menggelengkan kepala beberapa kali. Sosok Anjani sepertinya mulai menjadi virus di kepala.
Tidak sampai lima menit, Nanta bisa melihat sosok Anjani bersama rekan kerjanya yang memakai baju OG. Nanta tersenyum ketika melihat senyum Anjani sambil berlari dengan tangan melambai pada temannya.
Poni Anjani terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri dan itu sangat menggemaskan. Nanta harus mengumpati dirinya sendiri karena sudah terlalu memperhatikan Anjani terlalu lama.
Ketukan di jendela mobilnya membuat Nanta tersadar dan menurunkan kacanya. Nanta bisa melihat Anjani yang merunduk dengan senyum yang sumringah dan, "Hai, Nan. Kuncinya di buka dong. Aku tidak bisa masuk loh," ucap Anjani manja.
Nanta tersenyum salah tingkah sendiri. Setelah dibuka, Anjani masuk dan duduk dengan tenang setelah sebelumnya memasang sabuk pengaman.
"Kamu cukur rambut ya?" tanya Nanta sambil mengalihkan pandangan ke depan.
"Iya. Aku tidak suka rambut panjang. Aku selalu terganggu dengan itu," jawab Anjani apa adanya. Memang, dirinya lebih suka rambut pendek sebahu dengan poni.
"Aku tidak suka." Kalimat itu justru yang keluar dari mulutnya. Ingin sekali Nanta mencabik mulutnya sendiri karena sudah sembarangan berbicara.
Anjani memasang wajah cemberut lalu melipat lengannya di depan dada. "Aku tidak butuh penilaianmu," ucap Anjani lagi terdengar marah.
Shi*t! Bisakah Anjani terlihat biasa-biasa saja di depan matanya? Bukan cantik dan imut seperti sekarang ini.
Karena tidak mau membuat Anjani kesal, Nanta kembali menyambung kalimatnya. "Kamu jadi semakin cantik. Pasti akan banyak yang melihatmu di butik nanti," ucapnya yang membuat Anjani mengernyit heran.
"Loh. Memangnya kenapa kalau ada banyak yang melihatku? Wajar bukan? Karena aku akan berada di tempat umum." Anjani sama sekali tidak terganggu dengan penilaian Nanta.
__ADS_1
Nanta berdecak sebal dan enggan menanggapi. Tidak lucu jika Nanta marah hanya karena Anjani terlihat lebih cantik dengan potongan rambut barunya bukan?
Hingga mobil yang dikendarai berhenti di sebuah butik ternama. Anjani melongo. Dia tentu tahu jika butik tersebut menjual gaun dengan harga yang terbilang mahal untuknya.
"Kita yakin mau kesini, Nan? Disini mahal semua loh," ucap Anjani takut-takut.
Nanta terkekeh. "Santai lah, Njan. Karena aku yang berencana maka aku yang akan beli gaunnya untukmu. Pilihlah yang kamu mau dan cocok," ucap Nanta lalu bergegas turun dari mobil diikuti oleh Anjani.
Keduanya berjalan beriringan memasuki butik di depannya. Saat kakinya baru berpijak di pintu masuk, ada pegawai yang menyambut keduanya dengan keramahan.
Keduanya digiring menuju ruangan dimana terdapat banyak gaun pesta dari yang sederhana sampai berharga fantastis.
"Tolong pilihkan yang paling cocok untuk dia ya, Mbak," pinta Nanta pada pegawai yang mengurusi keperluan keduanya.
"Tentu, Pak. Akan saya bantu memilih gaun yang tepat." Setelah menjawab itu, Anjani diminta memilih satu di antara deretan gaun-gaun yang dirancang indah. Sedangkan Nanta, dia memilih menunggu dengan duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.
Sambil menunggu Anjani selesai, karena pasti membutuhkan waktu yang cukup lama, Nanta memilih untuk memainkan ponselnya. Mengecek pemasukan dan pengeluaran minggu ini lewat web yang tersalur langsung dengan web keuangan.
Nanta memang melakukan pekerjaannya dengan baik. Termasuk mengurus keuangan yang harus tepat dan memastikan tidak ada korupsi di dalamnya.
Cukup lama berkutat dengan ponsel, Nanta sampai tidak menyadari jika Anjani dan pegawai yang bersama tadi telah kembali. Hingga suara Anjani berhasil mengalihkan perhatian Nanta lalu mendongakkan wajah.
"Nanta? Bagaimana?" tanya Anjani dan Nanta langsung terpana.
'Inikah bidadari yang turun dari langit?' batin Nanta terpesona.
__ADS_1