Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 37. Tak kasat mata


__ADS_3

Pikiran bu Laras berkelana karena perbincangannya dengan sahabat karib yaitu bu Nilam, yang mengatakan ingin memperbaiki hubungan. Bu Laras secara terang-terangan menolak jika maksud temannya itu ingin membuat Nala dan Reigha kembali. Namun dugaannya salah, bu Nilam ingin hubungan persahabatan keduanya tetap terjalin terlepas Nala dan Reigha tidak lagi bersatu.


Flashback ON.


"Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku tahu, kesalahan Reigha sudah begitu besar," ucap Nilam siang tadi.


"Aku tidak akan pernah menerima Reigha sebagai menantuku lagi. Sudah cukup sakit hati yang putriku terima. Dia terlalu berkelas untuk laki-laki seperti Reigha," tolak Laras tanpa mendengarkan maksud Nilam yang sesungguhnya.


"Bukan itu maksudku. Sebagai seorang ibu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika putriku sampai di sakiti dan dikhianati. Ini bukan tentang Nala ataupun Reigha. Melainkan, ini tentang kita berdua," jelas Nilam dengan sabar menghadapi sifat sahabatnya yang memang tidak mudah menerima seseorang yang sudah menyakiti keluarganya.


Ya, Nilam tentu tahu bagaimana sifat sahabatnya itu yang begitu menjaga keluarganya. Nilam juga tahu jika Laras tidak mudah memaafkan. Akan tetapi dibalik sifatnya yang seperti itu, Laras akan sangat menyayangi dan mencintai orang-orang terdekatnya.


"Apakah kamu melupakan waktu bertahun-tahun yang sudah kita lalui bersama hanya karena masalah anak-anak kita? Bukankah sebelum ada anak-anak, kita sudah saling mengenal dan saling membutuhkan satu sama lain? Aku harap kamu sudi menerimaku lagi. Bukan sebagai besan, melainkan sebagai sahabatmu seperti dulu," ucap Nilam dengan nada bergetar menahan tangis.


Ya, dirinya begitu terpukul atas renggangnya persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya.


Nilam beranjak dan akan pergi darisana ketika Laras hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Baiklah. Aku tahu kamu belum memaafkan aku," ucapnya kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar Laras.


Flashback off.


"Apa aku sudah keterlaluan? Tetapi, bagaimana bisa aku melupakan semua yang sudah terjadi dengan begitu mudah?" ucap Laras terdengar menyesal atas perbuatan mengabaikan Nilam.


"Aku tidak pernah membencimu, Lam. Aku hanya tidak ingin Jiak hubungan kita masih berlanjut, aku akan selalu melihat anakmu. Anak yang sudah melukai putriku. Dia sudah menderita selama bertahun-tahun dan aku tidak ingin membuat putriku kembali menderita," monolog bu Laras penuh sesal.


Lamunan bu Laras tersentak ketika pintu kamarnya ada yang mengetuk.


Tok. Tok. Tok.


"Oma! Main yuk!" ucap suara lucu dua anak kembar yang membuat bu Laras kembali mengulas senyumnya.


Beliau beranjak dari sisi ranjang yang semula didudukinya dan berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek.


"Oma! Akhirnya Oma keluar kamar juga," ucap Zia girang.

__ADS_1


"Hore! Ayo Oma, kita main! Zio ingin bermain bersama Oma," ucap Zio tidak mau kalah dengan Zia.


Bu Laras mengulas senyum kemudian mengambil posisi berjongkok di hadapan cucu-cucunya. "Baiklah. Karena waktu sudah sore, lebih baik kita Zia dan Zio mandi dulu ya? Nanti baru kita main," ucap bu Laras lembut kemudian mengecup pipi kedua cucunya secara bergantian.


"Siap, Oma!"


.


Sedangkan di tempat lain, Reigha pulang dengan wajah murung dan hati yang gundah gulana. Nala masih saja memberi jarak dan tidak membiarkan dirinya mendekat terlalu jauh.


Entah butuh berapa lama Reigha mampu merobohkan dinding pertahanan Nala. Reigha menjambak rambutnya frustasi.


"Baiklah, aku akan berjuang keras demi mendapatkan Nala dan anak-anakku kembali. Aku berharap disaat aku berusaha, Nala tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain.


Rasanya sia-sia saja saat dirinya sedang berusaha, tetapi Nala malah bersama laki-laki lain. Membayangkan anak-anaknya akan mendapat ayah baru membuat kepala Reigha seketika pening.


"Aku akan menggunakan anak-anak untuk bisa membuat Nala mau membuka jalan untukku sedikit saja. Aku yakin, Nala sebenarnya masih mencintaiku. Hanya saja, Nala takut denganku karena pernah menyakitinya," monolog Reigha sedang meyakinkan dirinya sendiri.


Reigha membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang mengahadapi langit-langit kamar. Kamar yang dulu pernah Nala tiduri juga. Reigha tersenyum tipis ketika kenangan manis bersama Nala terbayang di kepala.


"Aku memang bodoh karena susah menyia-nyiakan isteri sebaik dan secantik kamu. Aku baru sadar bahwa kamu adalah isteri yang sempurna," gumam Reigha yang kini matanya sudah berkaca-kaca.


Reigha menghela napasnya pelan. Seketika Reigha merasa tidak percaya diri dan menjadi manusia yang tidak punya malu karena berharap Nala kembali walau dirinya sudah menorehkan luka yang begitu dalam.


"Maafkan aku, Nala. Aku berjanji untuk meminta maaf setiap hari dan mengemis cinta padamu. Apapun itu yang terpenting kamu mau menerimaku kembali," gumam Reigha lagi kemudian memejamkan mata agar segera menggapai mimpi dan hari esok segera tiba.


..................


Nala mendengkus pelan ketika melihat mobil yang sudah tidak asing lagi berhenti di depan pintu rumahnya. Nala yang sedang duduk di teras rumah dengan memainkan ponselnya, mengira bahwa tantenya kembali lagi karena ada barang yang tertinggal.


Namun, dugaannya salah. Nala menghela napas saat melihat Reigha keluar dari mobil sesaat setelah mobil Reigha masuk ke pekarangan rumahnya. Senyum Reigha tampak lebar dengan penampilan yang semakin rapi, yaitu baju yang dikenakan sudah tidak sekusut kemarin.


Maaf, Nala tidak bermaksud memperhatikan sedetail itu. Hanya saja, Nala ingin memastikan bahwa ucapannya empat tahun yang lalu terbukti menjadi kenyataan. Yaitu, Reigha akan menyesal.


Sialnya, Nanta sedang tidak ada di rumah karena mengantar Rika menuju bandara untuk pulang Jawa Timur.

__ADS_1


Nala memilih kembali fokus pada ponselnya untuk membalas pesan yang dikirimkan seseorang padanya. Dandy. Dia salah satu-satunya teman pria yang bisa Nala percaya.


Ya, walau Nala berada jauh dari negaranya, Dandy masih setia menghubungi. Bahkan, saat Dandy ada pekerjaan di Singapura, dia tidak sungkan-sungkan untuk mampir ke apartemen. Tentunya saat ada Nanta.


Dandy memang se-menghargai itu dengan makhluk bernama wanita.


Dandy:


{Aku akan segera tiba. Tolong siapkan senyum yang manis untukku}


Aku:


{Emot senyum}


Nala tersenyum sendiri membaca pesan yang dikirimkan Dandy padanya. Hal itu tentu tidak luput dari pandangan Reigha. Tatapannya sudah memicing penuh selidik.


"Nala?" panggil Reigha yang belum mendapatkan jawaban.


Kini, Reigha kembali melihat Nala tersenyum sendiri dan itu terlihat menyebalkan bagi Reigha. Dia tidak rela jika Nala bahagia bersama laki-laki lain. Nala harus bahagia bersamanya.


"Nala?!" panggil Reigha dengan nada yang sedikit ditinggikan.


"Ya?" jawab Nala tanpa repot-repot menoleh pada kedatangan Reigha.


"Mau menemui anak-anak ya? Sebentar aku panggilkan dulu," ucap Nala kemudian berlalu tanpa menoleh terlebih dahulu pada keberadaan Reigha.


'Aku ada tetapi dianggap tak kasat mata,' batin Reigha merasa terluka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...yuk, kasih like, komen, vote dan hadiah semampu kalian ya😘...


...mampir kesini juga yuk 👇...


__ADS_1


__ADS_2