
Walau sudah sepakat, Nanta tetap memikirkan bagaimana caranya agar dirinya dan Anjani terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan. Nanta tidak mau jika Rose menangkap gelagatnya yang hanya menyewa seorang gadis untuk dijadikan pacarnya.
"Tidak. Aku sepertinya tidak boleh mengakui Anjani sebagai pacarku. Namun, aku akan berusaha agar hubunganku dan Anjani terlihat sangat dekat. Ya, itu yang harus aku lakukan," ucap Nanta sambil memikirkan sebuah rencana sebelum satu minggu lagi akan menghadiri pesta pernikahan Rose.
Ting.
Seperti ada lampu bohlam sumber petunjuk di kepala Nanta. "Lebih baik aku ajak Anjani untuk bertemu saja. Ini akan baik dan kami bisa menyusun rencana lebih baik lagi," pikir Nanta lalu segera mengirim pesan singkat.
Tidak berapa lama, pesannya terbaca dan terlihat pemberitahuan 'Sedang mengetik' di bawah nama Anjani.
Anjani membalasnya singkat dengan kata 'Oke'. Huh! Singkat sekali menurut Nanta. Tanpa ingin memusingkannya lagi, Nanta bergegas menuju tempat dimana mereka akan bertemu.
Tidak berapa lama, Nanta bisa melihat Anjani yang duduk di salah satu kursi dengan bermain ponsel. Belum ada minuman di hadapan gadis tersebut, menandakan Anjani baru saja tiba.
"Kok belum pesan minum sih?" decak Nanta sebal.
Anjani memutar bola matanya malas. "Aku tidak sekaya itu. Uangku sayang jika hanya digunakan untuk membeli satu minuman dengan harga fantastis. Jika kamu mengajakku ke sebuah kafe yang murah, mungkin aku sudah memesan banyak," jawab Anjani mengomel panjang lebar.
Hal itu justru membuat Nanta tergelak renyah hingga tangannya gemas sekali untuk mengacak rambut Anjani.
Eh! Anjani membeku di tempat ketika mendapatkan perlakuan manis dari Nanta. Harusnya tidak boleh seperti itu karena keduanya terlibat menjadi pacar bohongan.
"Mbak! Saya mau pesan ya?" ucap Nanta lembut sambil tangannya terangkat memanggil pelayan.
Anjani tersentak lalu kembali pada kesadarannya. 'Ck. Mengapa aku lemah sekali? Baru di elus rambutnya saja sudah berdebar,' rutuk Anjani dalam hati.
__ADS_1
"Kamu mau pesan minuman apa?" tanya Nanta sambil membuka buku menu yang baru saja sang Pelayan berikan.
"Terserah. Apapun itu akan aku minum dan makan," jawab Anjani sangat klasik.
Nanta berdecak sebal kemudian melakukan apa yang diinginkan gadis di hadapannya. "Aku pesankan mokacino untukmu," ucap Nanta sambil memberikan buku menunya kembali.
Anjani mengangguk menyetujui. Toh, dia bukan tipe pemilih minuman. Karena tidak ingin membuang waktu pulang kerjanya, Anjani kembali bersuara untuk menanyakan maksud Nanta mengajaknya bertemu.
"Jadi bagaimana? Hal apa yang kamu bicarakan?" tanya Anjani langsung ke intinya.
Nanta bergumam cukup lama untuk menata ucapannya agar mudah di pahami oleh Anjani. "Jadi begini, sepertinya Rose tidak akan percaya saat aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku. Akan lebih logis aku memperkenalkanmu sebagai seseorang yang tengah dekat denganku. Bagaimana?" tanya Nanta berdiskusi.
Anjani mengernyit bingung. "Mengapa dia tidak percaya? Mengapa tidak logis juga?" tanyanya heran.
"Ooh, jadi baru dua bulan yang lalu. Masih anget-angetnya," gumam Anjani yang masih bisa di dengar baik oleh Nanta.
"Aku mendengarmu. Jangan bicara seolah-olah aku tidak ada di hadapanmu," kesal Nanta menatap Anjani tajam.
Hal itu sontak membuat Anjani tertawa. "Baiklah. Maafkan aku karena sudah membicarakanmu dengan diriku sendiri."
"Lalu, apa ada lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanya Anjani lagi.
Saat Nanta akan membuka suara, pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka. "Permisi. Pesanannya sudah sampai," ucap pelayan kemudian meletakkan semua pesanan di atas meja.
Anjani dan Nanta kompak mengucapkan terima kasih saat sang Pelayan pamit undur diri.
__ADS_1
"Aku ingin kita terlihat dekat tanpa dibuat-buat. Jadi, kita akan melakukan latihan menjadi sepasang orang yang benar-benar dekat. Waktunya masih seminggu lagi dan kita masih punya kesempatan untuk latihan," ucap Nanta menjelaskan strategi.
Anjani tersennyum mengejek. "Baiklah. Sepertinya kita memang harus latihan. Apalagi, aku masih baru dan belum pernah berpacaran. Ini akan terlihat, bahwa kamu sedang mengajariku," jawab Anjani setuju saja.
"Bagus. Aku rasa ini tidak akan sulit. Tapi ku mohon, tolong jangan pakai hati. Hubungan kita hanya sebatas simbiosis mutualisme," peringat Nanta yang segera diangguki Anjani dengan penuh keyakinan.
"Untuk apa aku jatuh cinta pada pria sepertimu? Jika itu benar terjadi, mataku mungkin sudah rusak," ucap Anjani mengelak.
Dia tidak menyadari jika simbiosis mutualisme yang Nanta sebutkan akan benar-benar merubah kehidupannya.
Nanta tersenyum miring. "Kita lihat saja. Siapa yang akan jatuh cinta lebih dulu. Aku atau kamu," ucap Nanta begitu percaya diri.
Anjani memicing. Merasa kesal dengan pria di hadapannya. "Kamu terlalu percaya diri," gerutu Anjani lalu menyesap kopi yang sejak tadi diabaikan.
Nanta melakukan hal yang sama lalu menatap ke arah luar dimana matahari kini tampak akan kembali ke peraduan. Dinding langit tampak keorenan menambah suasana sore hari menjadi semakin syahdu.
Ya. Nanta memilih sebuah kafe mewah yang bisa melihat matahari tenggelam secara langsung. Kafe yang di kelilingi oleh dinding kaca hingga menampakkan pemandangan di luar sana.
Tanpa keduanya sadari, hubungan di antara mereka menjadi akrab. Saling berbincang hangat sambil menikmati kopi dan menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Kopi dan senja memang perpaduan yang sempurna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1