
Sudah dua hari ini Nala dan sekeluarga menempati rumah. Ada pak Rudi, mantan sopir Nala dulu sekali, yang juga bekerja kembali di rumahnya. Semua itu Reigha lakukan untuk Nala.
"Mas?" panggil Nala saat keduanya sedang menghabiskan waktu bersama di teras belakang rumah. Zia dan Zio sudah asik dengan mainannya dan duduk bersila di atas karpet.
"Kenapa, Sayang?" tanya Reigha lembut sambil mengelus pipi Nala. Tangannya yang sejak tadi merangkul bahu Nala, tidak kenal lelah bergerak memainkan rambut Nala yang tergerai indah.
"Ibu mengatakan bahwa lusa adalah hari baik untuk mengadakan syukuran rumah. Bagaimana jika mengadakannya lusa, Mas? Setelah kita mendaftarkan sekolah kembar, pulangnya kita mampir belanja barang-barang yang dibutuhkan?" tawar Nala yang segera dibenarkan oleh Reigha.
"Boleh. Aku akan ikut apapun itu asalkan yang terbaik," jawab Reigha yang kini hidungnya sudah bergerak untuk menghidu leher jenjang Nala.
Nala menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat semua orang salah paham. Tangannya sudah bergerak untuk memukul lengan suaminya.
"Mas! Ada anak-anak. Kamu jangan sembarangan begitu dong,"bisik Nala dengan menggeram kesal.
Reigha tersenyum dan membalas bisikan itu tepat di telinga Nala. "Nanti siang ya? Mumpung anak-anak akan diajak Mama jalan-jalan," bisik Reigha bernegosiasi.
Wajah malah sontak merah merona. Hanya seperti itu saja mampu membuat perutnya tergelitik. "Aku tidak janji, Mas," jawab Nala sengaja menggoda Reigha.
Reigha menggerucutkan bibirnya kesal. "Kita ini pengantin baru loh kalau kamu lupa? Dan aura itu tuh, seakan belum ada. Bukannya hari ini kamu sudah selesai datang bulannya ya?" tanya Reigha yang wajahnya sudah sangat frustasi.
Nala mengulum senyum. "Aku tidak janji karena tadi pagi, ada bercak merah sedikit. Aku tidak yakin jika aku sudah benar-benar bersih," ucap Nala dengan raut wajah yang dibuat memelas.
Wajah Reigha sudah semakin pias. Dia harus menahan keinginannya satu hari lagi. "Baiklah. Aku tidak masalah," ucap Reigha yang kini sudah masam.
Nala ingin sekali meledakkan tawa. Namun jika itu dilakukan, maka Nala akan ketahuan jika sedang mengerjai suaminya. Akhirnya, Nala memilih untuk mencium pipi sang Suami lembut.
"Sudah. Jangan cemberut terus. Kalau sudah selesai akan aku kasih semuanya untukmu," ucap Nala kemudian mendekatkan bibir di pada wajah Reigha.
Cup.
Reigha berusaha mengulas senyum dan Nala merasa kasihan melihat senyum terpaksa itu. Walau demikian, Nala tetap ingin mengerjai sang Suami hingga siang nanti tiba.
Zia dan Zio yang melihat adegan harmonis ayah dan ibunya, ikut tersenyum bahagia. "Zio?" bisik Zia.
"Iya. Aku tahu saat ini kamu sedang melihat ke arah Daddy dan Mommy. Akhirnya kita bisa pergi ke sekolah dengan di antar Mommy dan Daddy. Aku sangat bahagia," ucap Zio panjang lebar.
Zia setuju dengan pernyataan sang Kembaran. "Benar. Akhirnya kita bisa hidup bersama Mommy dan Daddy," jawab Zia tak kalah bahagia.
__ADS_1
"Zia?" kini giliran Zio yang memanggil Zia dengan lirih.
"Kenapa?"
"Nanti siang kita jadi pergi bersama Oma kan?" tanya Zio berbisik.
"Tentu. Mommy dan Daddy harus membuat adik baru untuk kita," jawab Zia menggebu-gebu.
Keduanya saling lempar pandang dan tersenyum penuh arti.
.
Siang akhirnya tiba. Sesuai rencana, Zia dan Zio akan pergi bersama bu Nilam dan bu Laras. Entah kemana dua ibu itu akan membawa anak-anaknya. Yang pasti, Nala sangat bersyukur karena ibu sekaligus ibu mertuanya memberikan kesempatan padanya untuk menghabiskan waktu bersama Reigha.
"Dadah Mommy! Zia dan Zio pergi dulu ya," pamit Zia saat akan masuk ke mobil.
Nala tersenyum dan balas melambaikan tangan. "Jangan membuat Oma kalian susah ya," pesan Nala saat Zia dan Zio belum menutup pintu mobilnya.
"Tidak. Kamu tenang saja. Jangan pikirkan kami karena kami akan bersenang-senang. Pikirkan saja bagaimana caranya membuatkan adik baru untuk Zia dan Zio," celetuk bu Nilam yang membuat Nala melebarkan mata.
Reigha dan Nala saling pandang ketika mobil sudah menghilang dari pandangan. Reigha hanya tersenyum pasrah sedangkan Nala mengulum senyum. Dia ingin membuat kejutan untuk sang suami.
"Mas? Ke kamar yuk," ajak Nala sambil mengerling nakal.
Reigha menggusah napas kasar. "Jangan memancingku seperti itu, Sayang. Atau kamu harus bertanggung jawab," ucap Reigha dengan sambil menggeram menahan gejolak sesuatu di bawah sana.
Nala tertawa terbahak-bahak melihat wajah suaminya yang sudah sangat nelangsa. "Memangnya tanggung jawab untuk apa?" tanya Nala pura-pura polos.
Reigha menjambak rambutnya frustasi. "You turn me on, Baby!" kesal Reigha kemudian berlalu meninggalkan Nala yang masih tertawa melihat kesengsaraan sang suami.
Nala memilih menyusul Reigha yang kini sudah terlihat menaiki anak tangga. Nala tersenyum lalu geleng-geleng kepala.
Nala membuka pintu yang sempat ditutup oleh Reigha. Kini dia bisa melihat suamianya yang sudah berbaring dengan posisi tengkurap. Nala mengulum senyum lalu menutup pintu pelan dan menguncinya dengan hati-hati.
"Mas?" panggil Nala yang sama sekali tidak dijawab oleh suamianya.
Nala kini berjalan dan masuk ke walk in closet. Dia akan berganti baju terlebih dahulu sebelum melakukan dinas. Mengingat itu, Nala bisa merasakan pipinya memanas.
__ADS_1
Entah mengapa, kali ini Nala begitu gugup saat baju yang dikenakan seperti kurang bahan. Setelah menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali, Nala akhirnya keluar dan kembali mendekati sang Suami.
"Mas?" panggil Nala lagi sedikit mengayunkan suaranya.
Reigha masih bergeming. "Lihat aku dong,"ucap Nala lagi yang kembali tidak membuahkan hasil.
Nala menghela napas pelan. "Kamu tidur ya, Mas? Padahal aku sudah siap-siap," ucap Nala sarat akan rasa kecewa.
Akhirnya, Nala kembali berbalik menuju walk in closet. Sepertinya, Nala sudah terlalu lama berada di ruang ganti hingga Reigha terlelap.
Nala melepas pakaian yang saat ini dikenakan hingga menyisakan pakaian bagian dalamnya saja. Nala menatap nanar pada pakaian yang saat ini sudah teronggok di atas tumpukan pakaian miliknya.
Saat akan mengambil salah satu dress rumahannya, tiba-tiba Nala merasakan ada tangan kekar yang memeluk perutnya diikuti tubuh kekar yang membuat hangat bagian belakang tubuhnya.
"Kamu ingin mengerjaiku bukan? Sekarang gantian," ucap Reigha berbisik di telinga Nala. Melihat tubuh sang istri yang terekspos sempurna, membuat riwhsh menelan ludahnya.
"Aku kira kamu tidur," kesal Nala mengerucutkan bibirnya.
Reigha terkekeh kemudian menelusupkan wajah di ceruk leher Nala. Menghidunya dalam-dalam wangi tubuh sang istri dengan posisi masih memeluk dari belakang.
"Mash." ucap Nala mulai mengeluarkan suara laknatnya.
"Hm? Kamu suka, Sayang?" bisik Reigha begitu lembut hingga Nala memejamkan mata. Walau pelan, Nala mengangguk.
Merasa mendapat lampu hijau, tangan Reigha mulai bergerak lincah dan bermain di tempat-tempat yang sudah menjadi favoritnya.
"Aku mencintaimu dan sangat menginginkanmu saat ini juga," bisik Reigha dengan suara seraknya.
Tanpa menunggu lebih lama, Reigha segera membawa Nala menuju ranjang. Siang itu akhirnya menjadi siang terpanas bagi sepasang pengantin baru yang sudah tidak bisa dikatakan baru lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya ya😍...
...sambil menunggu update, mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1