
Pagi kembali menyapa, membangun para penduduk bumi untuk melakukan aktifitasnya. Saat ini Nala dan Reigha sedang melakukan jalan pagi. Tentu saja atas saran dokter yang mengatakan jika Nala harus banyak berolahraga. Salah satunya dengan jalan pagi untuk mengurangi bengkak di kaki.
Sebenarnya, Nala tidak mengalami pembengkakan. Hanya saja, Nala melakukannya semata untuk kesehatannya dan sang Bayi. Nala tentu ingin calon anaknya sehat seperti dua bocah kembar yang saat ini sedang Nala rindukan.
"Mas? Setelah ini kita jalan pulang saja ya? Lagian sudah berputar tiga kali kompleks. Aku susah sangat merindukan Zia dan Zio," rengek Nala lengkap dengan bibirnya yang mencebik.
Reigha terkekeh, merasa gemas dengan bibir sang Istri yang bertambah hari semakin menggoda. Kemudian tanpa aba-aba, Reigha mengecup sekilas bibir ranum itu.
Cup.
Walau terkejut, Nala justru tersenyum. "Lagi dong," ucap Nala yang membuat Reigha tergelak renyah. Tangannya bergerak untuk mengacak rambut sang istri.
"Tunggu di rumah maka kamu akan habis," peringat Reigha lengkap dengan senyum miringnya.
Bukannya takut, Nala justru tertawa lalu memukul pelan lengan sah Suami. "Tidak terasa, kita sudah sampai, Mas," ucap Nala dengan mata menatap rumah di depannya.
Reigha mengangguk membenarkan. "Hidup bersamamu rasanya menyenangkan sekali. Semoga aku bisa hidup lebih lama lagi bersamamu, Sayang." Reigha berucap manis hingga membuat pipi Nala merona seketika.
Satu jam kemudian, keduanya telah siap untuk ke rumah bu Laras. Nala juga menelepon Mama Nilam untuk datang dan berkumpul di rumah ibunya. Ya, walaupun beliau harus melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bogor.
Setelah mobil melaju, Nala dan Reigha pun sampai. Mereka turun dan berjalan beriringan memasuki rumah. "Sepertinya Nanta pulang ya, Dad," ucap Nala menerka-nerka. Tentunya setelah telinganya mendengar suara Nanta dari tempatnya berdiri. Ada suara Zia dan Zio juga yang mendominasi.
"Iya. Tertawanya terdengar sampai ke luar," jawab Reigha sambil menggelengkan kepala.
Setelah membuka pintu dengan tidak sabaran, Nala masuk dan berkata. "Selamat pagi semuanya!"
Nala dan Reigha semakin berjalan masuk lalu menuju ruang tengah dimana keramaian sedang tercipta. Namun, langkah Nala terhenti di ambang pintu kala melihat seorang gadis yang tidak lain adalah Anjani, sedang bermain dengan Zia dan Zio.
Bukan karena terkejut atau cemburu karena gadis itu merupakan mantan sekretaris suaminya. Melainkan lebih pada rasa bingung sekaligus penuh pertanyaan di kepala.
Nala menoleh dan mendapati sang Suami sama herannya. "Sejak kapan mereka dekat? Berarti yang ada dalam sosial media kemarin benar-benar nyata," ucap Nala penuh tanda tanya.
__ADS_1
Reigha menggeleng. Sama tidak tahunya dan tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan asmara adik ipar. Itu sudah bukan lagi ranahnya. Kecuali dalam kondisi mendesak atau harus berurusan dengan Nanta, maka Reigha akan siap-siap saja.
"Bukannya terakhir kali kita lihat jika Anjani dan Nanta bertengkar di ruang makan waktu pernikahan kita ya? Ralat. Di acara sarapan pasca pernikahan," ucap Nala masih saja bertanya-tanya.
"Tanya langsung saja pada orangnya, Sayang. Mungkin kita akan mendapatkan informasi yang valid." Nanta memberikan solusi yang segera diangguki oleh Nala.
"Benar juga kamu, Dad."
Setelah mengucapkan itu, Nala berjalan mendekat pada mereka yang kini sedang duduk di bersila beralaskan karpet bulu.
"Zia! Zio! Mommy dan Daddy datang!" pekik Nala yang berhasil menginterupsi dua bocah kembar tersebut.
"Mommy! Daddy!" Pekikan Zia dan Zio menyambut kedatangan sepasang suami istri itu. Zia da Zio langsung berhamburan memeluk sang Ibu.
"Kami sangat senang karena ada uncle Nanta dan Onty Anjani," ucap Zia antusias.
Nala tersenyum dan mengacak rambut Zia gemas. "Wah. Mommy dan Daddy boleh gabung kan?" Nala meminta izin terlebih dahulu.
Nanta dan Anjani ikut berdiri menyambut kedatangan Nala dan Reigha. "Mbak apa kabar?" tanya Nala lalu memeluk kakaknya.
Nala tersenyum dan membalas pelukan adiknya. "Kabar baik, Nan. Kamu apa kabar?" jawab Nala lembut.
"Aku juga kabar baik."
Pandangan Nala tertuju pada Anjani dengan senyum lebarnya. "Ada Anjani juga ternyata," ucap Nala lalu Anjani segera menengadahkan tangan untuk menyalami tangannya.
"Kamu apa kabar, Anjani? Sudah lama kita tidak bertemu," tanya Nala lalu segera memeluk Anjani.
"Saya kabar baik, Bu "
Walau tampak kaku, Anjani tetap membalas pelukan itu. "Kamu kenapa kaku sekali? Takut padaku? Ya Tuhan. Semoga saja tidak ya," tanya Nala yang dijawab sendiri.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Itu semua tidak benar," jawab Anjani dengan mempertahankan bahasa formal.
Nala berdecak. "Jangan panggil Bu lagi ya? Panggil saja Mbak seperti Nanta memanggilku. Aku rasa, kamu tidak perlu se-formal itu," ucap Nala lagi dan Anjani mengangguk kaku.
Reigha memeluk sang istri yang selalu bijaksana dalam menanggapi setiap apapun yang ditemui. "Kalian sudah sarapan belum?" tanya Reigha memecahkan kaku yang sempat ada.
"Sudah, Mas. Kami baru saja selesai. Kecuali Zia dan Zio yang mengatakan ingin sarapan namun menunggu Mas Reigha dan Mbak Nala," jawab Nanta.
"Baiklah. Kita mau numpang sarapan dulu ya? Jangan macam-macam kamu ya, Nan," peringat Nala lalu menggandeng tangan Zia da Zio menuju ruang makan.
Nanta hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa maksud Mbak-nya itu? Apa Mbak-nya sudah mengetahui hubungannya dengan Anjani?
Nanta baru teringat bahwa dirinya tidak pernah mengajak seorang gadis ke rumah apalagi sampai menginap. Nanta menepuk jidatnya sendiri. Seakan tahu apa yang ada dalam kepala Mbak Nala-nya.
Setelah meninggalkan Nanta dan Anjani di ruang tengah, ibunya muncul dari dapur dan tersenyum bahagia akhirnya Nala datang. "Kalian sudah datang ternyata. Pasti mau numpang sarapan kan?" tebak bu Laras dengan senyum yang menyebalkan.
Nala tergelak. "Ibu tahu saja. Satu hari tidak memakan masakan ibu itu terasa hampa. Eh. Mama Nilam belum sampai ya, Bu?"
"Sebentar lagi mungkin akan sampai. Ayo Reigha, kamu belum sarapan juga kan? Kamu harus makan yang banyak agar kuat menghadapi kenyataan," ucap Bu Laras yang sayangnya terdengar bagai sebuah sindiran untuk Nala.
"Apakah aku merupakan kenyataan yang buruk?" tanya Nala mulai On mode sensitifnya.
"Bukan kamu yang buruk. Tetapi mood kamu yang suka naik turun. Jadi, Reigha harus mempunyai stok sabar yang banyak," jawab Bu Laras sambil terkekeh geli.
Bukannya marah, Nala justru tersenyum haru sambil menatap Reigha. Dia merupakan laki-laki yang sangat sabar sejauh ini.
"Betul apa kata Oma. Akhir-akhir ini Mommy suka sekali marah-marah," ucap Zia ikut membenarkan ucapan sang Oma.
Nala semakin tergelak. "Mungkin karena aku sudah berubah menjadi emak-emak," celetuk Nala yang ada benarnya juga.
Reigha memeluk bahu Nala yang duduk di sebelahnya. "Walau begitu, aku tetap cinta," ucapnya yang membuat Nala tersenyum malu-malu.
__ADS_1