
Nala merebahkan diri di kasur yang berukuran king size. Tubuhnya begitu lelah setelah seharian keliling pusat perbelanjaan. Sangat berbeda dengan Zia dan Zio yang terlihat masih bugar walau sudah berkeliling di gedung yang sangat luas dan tinggi.
Dua bocah kembar itu sedang mandi bersama sang ayah di kamarnya. Beruntung, Reigha benar-benar membantu tugasnya sebagai seorang ibu seperti menyiapkan baju dan memandikan anak-anak.
Oh iya. Zia dan Zio sudah diterima untuk bersekolah di salah satu Taman kanak-kanak yang tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggalnya. Bisa di bilang, TK tersebut masih dalam satu perumahan.
Jelas Nala memilih sekolah yang terdekat karena sekolah tersebut memiliki predikat A. Rasanya, jika ada yang dekat dan berkualitas, mengapa harus memilih yang jauh bukan?
Setelah pulang mendaftar, Reigha mengajaknya dan anak-anak untuk berbelanja untuk acara syukuran besok.
Nala menghembuskan napasnya lelah kemudian memilih untuk mandi terlebih dahulu. "Sebentar lagi, ibu pasti akan datang. Aku harus segera bersiap," monolog Nala namun tak kunjung beranjak dari ranjang.
Hingga tanpa sadar, Nala terlelap bersama alam mimpi yang menenangkan.
..........
Nala mengerjapkan mata ketika merasakan tepukan pelan disusul rasa dingin di pipinya. Masih berusaha mengembalikan kesadaran, Nala menatap langit-langit kamar hingga sebuah suara berhasil menyadarkan Nala.
"Bangun, Sayang. Mama dan Ibu sudah datang," ucap Reigha lembut.
Nala langsung membuka mata sepenuhnya. Saat melihat jam yang bertengger di dinding kamarnya, Nala membelalak tak percaya.
"Mas! Kenapa tidak membangunkan aku! Aku sudhs tertidur cukup lama!" pekik Nala panik yang justru membuat Reigha tertawa terbahak-bahak.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu lelah kok. Mama dan ibu juga mengerti kalau kamu kelelahan. Ya sudah, mandi dulu gih," pinta Reigha sambil mengecup kening Nala sayang.
Nala menggeliat dan itu terlihat sangat menggoda iman Reigha. Sampai-sampai, Reigha harus menelan saliva. Jika masih ada waktu yang cukup, Reigha ingin bermain sebentar saja.
"Kenapa?" tanya Nala tanpa ada rasa bersalah dan menyadari tindakannya.
"Main sebentar ya?" pinta Reigha pada akhirnya tidak sanggup menahan.
Nala mendengkus pelan. "Katanya aku suruh mandi. Kenapa sekarang suruh main?" tanya Nala sambil bibirnya menggerucut lucu.
Reigha terkekeh. "Sebentar saja," ucap Reigha kemudian beringsut turun dari ranjang untuk mengunci pintu.
Nala hanya bisa pasrah ketika suaminya itu kembali menghampiri sambil berjalan melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
............
"Benar, dugaanku, Ras. Jika Reigha yang memanggil Nala, pasti akan membutuhkan waktu lama," celetuk bu Nilam tiba-tiba.
Bu Laras tergelak renyah. "Namanya juga sudah sekian lama tidak berada di dalam satu kamar yang sama. Ibarat kata, sekalinya masuk kamar, ya sudahlah. Mungkin dua hari kemudian baru keluar," ucap bu Laras ikut menimpali ucapan besannya.
Bu Nilam tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Reigha sepertinya sudah berada dalam taraf bucin," ucap bu Nilam lagi.
"Kalian pasti sedang membicarakan aku kan?" tanya suara dari ambang pintu dapur. Dua wanita paruh baya itu menoleh serentak.
"Habis berapa kali, Ga?" tanya bu Nilam tanpa aling-aling tedeng.
Reigha mendengkus pelan. "Apaan sih, Ma," kesal Reigha kemudian berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil salah satu botol minuman.
Bu Nilam dan bu Laras belum beralih dari menatap Reigha. Keduanya sama-sama memperhatikan rambut Reigha yang masih terlihat setengah basah.
Ketika sadar, keduanya saling melempar pandang dan tersenyum bersamaan. "Lidah bisa berkata, namun kondisi tubuh tidak bisa berbohong," celetuk bu Nilam lagi yang membuat Reigha tersedak air minum.
Uhuk. Uhuk. Uhuk.
"Maksud Mama apa?" tanya Reigha dengan alis bertaut bingung.
Reigha mengulum senyum dan bersamaan dengan itu, Nala muncul dari balik pintu dapur. Reigha menatap Nala dan berkata. "Ibu tenang saja. Aku dan Nala sudah mulai menyicilnya kok," jawab Reigha tanpa rasa malu lagi.
Nala yang mendengar itu, melotot tajam. Namun, kondisi pipinya tidak bisa berbohong dan sudah merah merona.
Malam hari tiba. Bu Laras dan bu Nilam sepakat untuk menginap di rumah anaknya. Zia dan Zio tentu begitu bahagia. Akhirnya mereka bisa tidur bersama kedua Oma-nya.
"Bye Mommy, Daddy! Kami akan tidur dulu bersama duo Oma. Kalian jangan nakal ya," ucap Zia sebelum benar-benar naik ke lantai dua.
"Nikmatilah waktu kalian malam ini. Jangan pikirkan anak-anak karena kami akan mengurusnya," ucap bu Laras tersenyum hangat.
"Isi tenaga kalian lagi sebelum benar-benar tidur. Agar kuat sampai besok pagi," sahut bu Nilam yang memang suka sekali nyeleneh.
Reigha hanya mengacungkan dua jempol setelah itu, keempatnya menaiki anak tangga dan hanya tersisa Reigha dan Nala di ruang tengah.
Reigha menatap Nala dengan alis yang naik turun. "Kamu kenapa, Mas?" ucap Nala memilih bertanya.
__ADS_1
Reigha mengembangkan senyumnya. "Kita main lagi," ucap Reigha terdengar seperti pernyataan. Nala memutar bola matanya malas kemudian beranjak dari sofa yang di dudukinya.
"Aku mau minum dulu, Mas," ucap Nala meninggalkan Reigha begitu saja.
Saat Reigha ingin mengejar sang istri, ponselnya yang berada di saku celana bergetar. Reigha mengurungkan niat dan mengambil ponsel untuk melihat siapa yang sudah meneleponnya malam-malam begini. Takut penting juga.
Reigha terkejut ketika menatap deretan angka yang tertera di layar ponselnya. Sebuah nomor tidak dikenal namun Reigha sangat hapal setiap digit dari nomor tersebut.
Pandangan Reigha menyapu ke segala arah, seperti takut ketahuan. Reigha memilih untuk menolak panggilan tersebut.
Reigha bisa bernapas lega. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena nomor itu kembali menghubunginya. Pemilik dari nomor itu adalah Sandra.
Dengan rasa takut yang coba ditepis, Reigha menerima panggilan itu lalu berjalan keluar rumah menuju teras depan.
Setelah mengambil botol air minum untuk dibawa ke kamar, Nala berniat menghampiri Reigha yang masih duduk di ruang tengah. Namun, Nala tak lagi menemukan keberadaan sang Suami.
"Apa mas Reigha sudah ke kamar ya? Kenapa tidak ada?" monolog Nala bertanya-tanya.
"Aku susul saja kalau begitu," ucap Nala lagi kemudian berjalan menaiki tangga.
Setelah membuka pintu kamar, Nala menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Matanya tetap saja tak melihat keberadaan sang Suami.
"Sebenarnya mas Reigha kemana sih? Menghilang begitu saja," kesal Nala kemudian memilih naik ke atas ranjang terlebih dahulu.
Sekitar sepuluh menit Nala menunggu, pintu kamar akhirnya terbuka dan menampakkan sosok Reigha.
Nala tersenyum. "Kamu habis darimana sih, Mas?" tanya Nala saat suaminya itu menutup pintu dan menguncinya.
Tidak ada jawaban dari Reigha. Namun, tindakan spontan suamianya berhasil membuat Nala bertanya-tanya. Reigha kini berhambur memeluk dirinya.
"Kamu kenapa sih, Mas? Aneh sekali. Habis melihat hantu?" tanya Nala tak urung membalas pelukan suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih kendor ya🙃❤️...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1