Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 83. Asam lambung atau mag?


__ADS_3

Hari berganti. Nala harus kembali bekerja dengan membawa serta Zia dan Zio. Nala tidak bisa mengandalkan ibunya terus-menerus karena sang ibu juga memiliki kesibukan. Belum lagi, cabang loundry-nya sudah tersebar hampir di seluruh wilayah. Tentu saja sebagai presiden direktur sekaligus pemilik loundry terbesar di kota, tidak bisa hanya berleha-leha.


"Zia! Zio!" panggil Nala pada dua anaknya yang sedang bermain di teras belakang.


"Kenapa, Mom?" tanya Zia yang sudah muncul lebih dulu kemudian disusul Zio.


"Kalian mau makan siang apa? Mommy mau pesan makanan biar sekalian," tanya Nala penuh perhatian.


"Boleh makan ayam kentaki tidak, Mom? Zia ingin makan itu. Lagian, sudah lama juga kan, Zia tidak makan itu," ucap Zia penuh permohonan.


Nala terkekeh geli. "Baiklah. Akan Mommy pesankan kalau begitu. Zio? Mau ayam juga?" tanya Nala memastikan. Zio hanya menjawab dengan anggukan.


"Selamat siang semuanya," ucap suara dari arah pintu. Nala tidak perlu menoleh karena dari suara, Nala sudah sangat mengenalinya.


"Daddy!" pekik Zia dan Zio bersamaan. Keduanya pun berhambur memeluk sang ayah yang baru datang. Nala hanya tersenyum tipis kemudian segera membuka aplikasi pesan makanan.


Namun, saat jarinya lincah mengetik nama pesanan, Reigha tiba-tiba meletakkan kantong kresek yang didalamnya terdapat satu ember kecil dengan gambar orangtua yang sedang tersenyum.


"Kamu sudah beli, Mas?" tanya Nala tidak percaya dengan penglihatannya.


"Woah! Sepertinya, Daddy bisa membaca pikiran kita dari jawab jauh!" pekik Zia heboh.


Reigha mengangguk jumawa. "Aku tahu, anak-anak pasti ingin makan ini. Firasatku mengatakan bahwa aku harus membeli ayam kentaki. Benar saja, kalian ingin memesannya," ucap Reigha sambil tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.


Nala memutar bola matanya jengah. Reigha yang dulu telah berubah menjadi Reigha yang percaya diri selangit.


"Baiklah. Aku tidak jadi memesannya. Kamu beli banyak kan, Mas?" tanya Nala yang kini mulai membuka bungkus.


"Ada sekitar sepuluh potong lah," jawab Reigha dengan tatapan mengingat-ingat.


Nala mengangguk kemudian memindahkan lima nasi dan lima ayam ke sebuah wadah. "Ini untuk teman-temanku," ucap Nala tersenyum senang.


Reigha mengangguk menyetujui. "Ambillah."


Kemudian, Nala berlalu dari ruangan menuju ruangan yang lebih tertutup. Itu merupakan ruangan para karyawannya. Nala mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Setelah pintu terbuka lebar, Nala ikut tersenyum lebar.


"Nih, untuk kalian makan siang," ucap Nala sambil menyodorkan wadah berisi ayam dan nasi.


"Wah! Bu Nala baik sekali. Terima kasih banyak ya, Bu," jawab Rani senang.

__ADS_1


"Sama-sama. Makan dululah kalian. Setelah ini masih ada tugas ke sebuah sekolah kan?" tanya Nala memastikan.


"Iya, Bu. Pasti. Setelah makan, kami akan berangkat," jawab Rani dengan binar di matanya.


Nala mengangguk dan segera berlalu dari sana menuju anak-anaknya berada. Namun, saat Nala kembali ke mejanya, sudah tidak ada lagi Zia, Zio, dan Reigha disana.


"Loh. Kemana mereka semua?" tanya Nala heran.


Kemudian, Nala mendengar suara berisik Zia yang berasal dari lantai atas. Nala geleng-geleng kepala lalu bergegas menaiki anak tangga setelah sebelumnya mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.


Ceklek.


Saat Nala membuka pintu, hal yang pertama kali Nala lihat adalah Reigha yang duduk bersandar dengan wajah yang meringis. Sedangkan Zia dan Zio, keduanya sedang menikmati makan siang lezatnya.


"Kalian sudah cuci tangan belum?" tanya Nala yang sudah menutup pintu dan mengambil posisi duduk di sebelah Reigha.


"Sudah, Mom. Daddy yang bantu. Makanya Daddy sekarang perutnya sakit," jawab Zia dengan mulut penuh.


Nala menoleh cepat pada Reigha yang berada di sampingnya. "Kamu sakit, Mas? Atau kamu hanya pura-pura?" tuduh Nala dengan tatapan memicing. Reigha tersenyum kecut. Perasaan, Reigha tidak sedrama itu.


"Kemarin aku lupa minum kopi," jawab Reigha yang membuat Nala mengernyit heran.


Reigha tersenyum meringis. "Dulu lambungku masih normal. Aku lupa kalau kadar kafein dari kopi giling tuh, besar. Berbeda dengan kopi sachet yang kadar kafeinnya rendah," jelas Reigha panjang lebar.


Merasa ulu hatinya sesak, Reigha menyandarkan tubuhnya di pinggiran sofa dengan posisi setengah berbaring. Nala yang melihat itu mendadak khawatir. "Kok kamu tidak jujur saja? Kan jadi kumat sakitnya," omel Nala kesal.


Reigha justru tersenyum senang. Akhirnya Nala peduli juga dengan hidupnya. "Tidak apa-apa. Semua aku lakukan demi kamu. Demi bisa berbincang denganmu," ucap Reigha yang langsung mendapat pukulan di lengannya.


"Ish! Bagaimana kamu akan mencintai aku kalau kamu saja tidak mencintai dirimu sendiri!" kesal Nala dengan wajah bersungut.


Nala tidak habis pikir dengan Reigha yang saat ini berubah menjadi laki-laki nekat dan tidak memperhatikan kesehatannya. Dulu, Reigha sangat menjaga pola makannya untuk tetap hidup sehat. Tetapi entah, apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu.


Tidak mungkin Reigha sakit karena menyesal telah melepas dirinya bukan? Nala terkekeh mendengar pemikirannya sendiri.


"Kamu asam lambung atau mag?" tanya Nala ketus.


Reigha justru tersenyum senang hingga membuat Nala melotot tajam. "Aku sedang bertanya, Mas!" kesal Nala karena Reigha tak kunjung menjawab.


"Tenang saja. Aku tidak apa-apa," ujar Reigha menenangkan. Lagi-lagi Reigha mendapat pukulan di lengannya.

__ADS_1


"Mana sini, aku periksa dulu kalau memang kamu tidak apa-apa," ucap Nala menantang dan Reigha menikmati raut wajah khawatir Nala. Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang sayapnya menepak di perutnya. Reigha sangat bahagia.


Karena untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, Nala menunjukkan ekspresi tersebut.


"Aku sedang bertanya, Mas. Jangan malah terpesona denganku," kesal Nala lagi karena Reigha justru senyum-senyum sendiri.


"Coba periksa agar kamu tahu jika saat ini aku sedang tidak berpura-pura," pinta Reigha pada akhirnya.


Nala yang terlanjur kesal, segera mengulurkan tangan dan jarinya menekan ulu hati Reigha kencang.


"Argh! Sakit Nala!" pekik Reigha kesakitan. Zia dan Zio yang melihat interaksi ayah dan ibunya, tertawa kencang.


"Kamu sakit sungguhan. Kamu asam lambung ya?" tanya Nala penuh selidik. Reigha mengangguk pasrah saat mendapati pertanyaan Nala.


Reigha melihat Nala berjalan menjauh menuju sebuah nakas lalu membukanya. Tidak berapa lama, Nala kembali dengan membawa kotak kecil yang bertuliskan P3K.


Nala kembali duduk di sampingnya lalu mulai membuka kotak tersebut yang saat ini sudah berpindah ke pangkuan. Nala mengeluarkan pil sebesar koin lima ratusan.


"Kunyah ini, Mas," titah Nala dengan pandangan penuh intimidasi.


Bukannya takut, Reigha justru terkekeh geli dan menerima pil tersebut. Sebelum menurut, Reigha menatap lamat-lamat pil tersebut. "Apa aku harus menelan obat sebesar ini?" tanya Reigha bergidik ngeri.


Nala menghela napas lelah. "Aku kan menyuruhmu untuk mengunyahnya. Bukan menelan," ucap Nala penuh penekanan.


Reigha meringis heran. Hal itu tentu tidak luput dari pandangan Zia dan Zio. "Kunyah saja, Dad. Obatnya tidak pahit kok. Anggap saja itu permen," ucap Zia seakan memberi semangat.


Nala geleng-geleng kepala kemudian beranjak lagi untuk mengambil air minum. Setelah itu, Nala kembali dan menyodorkan air putih setelah Reigha menelan obatnya.


"Istirahat dulu satu jam, Mas. Setelah itu kamu boleh makan," titah Nala lembut.


Reigha menurut dan segera merebah di pangkuan Nala. Hal itu tentu saja membuat Nala terkejut dan Nala melotot tajam. Pasalnya, kondisi jantungnya mendadak tidak baik-baik saja.


"Mas! Jangan disini," protes Nala yang didengar oleh Zia dan Zio.


"Kenapa memangnya, Mom? Daddy kan harus istirahat yang nyaman. Jadi, di pangkuan Mommy adalah bantal ternyaman. Seperti kami yang suka tidur berbantalkan kaki Mommy," ucap Zia seakan mengamini perbuatan ayahnya. Zio mengangguk menyetujui.


Reigha tersenyum senang. "Lihatlah. Anak-anak lebih peka dari kamu," ucap Reigha sambil menatap wajah Nala dari bawah.


Nala menunduk dan melotot tajam. "Awas kamu, Mas," geram Nala kesal.

__ADS_1


Mengabaikan ancaman Nala, Reigha segera memejamkan mata dan berisitirahat dengan nyaman di pangkuan yang tersayang.


__ADS_2