Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 74. Dasar buaya


__ADS_3

Reigha berjalan menapaki anak tangga dengan perasaan berbunga-bunga. Berharap, kebersamaannya di rumah dengan Nala akan membuat wanita itu kembali luluh.


Kemarin, setelah mendengar wejangan dari sang Mama yang mengatakan, "Jika masih mencintai Nala? Kenapa kamu tidak berjuang sekali lagi? Seorang wanita yang pernah dikecewakan itu, biasanya melihat seorang laki-laki dari perjuangannya. Mama yakin, lambat-laun Nala akan luluh jika kamu memang bersungguh-sungguh."


Dan mulai saat itu, kepercayaan diri yang sempat habis di diri Reigha, seperti kembali muncul ke permukaan. Ada rasa menggebu-gebu ingin kembali memiliki Nala.


Setelah masuk ke kamar, Reigha bergegas mengambil ponsel dan berniat untuk keluar lagi. Namun sebelum benar-benar keluar, Reigha kembali menyemprotkan parfum pada pakaian yang saat ini dikenakan.


"Sudah wangi kan?" ucap Reigha sambil mengendus bau badannya sendiri. Tidak lupa, Reigha juga menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.


Dirasa cukup, Reigha bergegas keluar karena tidak ingin membuat Nala menunggu terlalu lama. Namun saat Reigha menuruni satu persatu anak tangga, tidak juga ditemukan keberadaan Nala.


Reigha mengernyit bingung. "Kemana Nala? Apa ada di depan ya?" gumam Reigha bertanya-tanya.


Untuk menjawab rasa penasarannya, Reigha berjalan ke depan rumah untuk memastikan keberadaan Nala. Namun, tidak ada Nala disana. Merasa tidak akan menemukan jawaban jika tidak bertanya, Reigha mendekat ke pos satpam di rumahnya.


"Pak? Bapak lihat Nala tidak?" tanya Reigha sambil menyandarkan tubuhnya di dekat jendela pos satpam.


"Loh. Memangnya bu Nala tidak memberitahu Pak Reigha? Beliau keluar rumah katanya mau ke rumah ...." ucap pak satpam menggantung karena harus mengingat-ingat ucapan mantan istri anak dari pria di hadapannya.


"Kemana, Pak? Mungkin dia terburu-buru," tuntut Reigha penasaran.


"Ke rumah ... Bu Dian begitu katanya, Pak," jawab pak satpam yang sudah mengingatnya.


Bahu Reigha merosot. Wajahnya tertunduk lesu. Harapannya kembali pupus. "Baiklah, Pak. Terima kasih," ucap Reigha kemudian melangkah gontai memasuki rumah lagi.


Dia baru menyadari jika mobil Nala tidak lagi terparkir di depan rumah.


............


Setelah makan siang di rumah bu Dian, Nala berpamitan untuk pulang. Kalau sampai Zia dan Zio pulang lebih dulu, keduanya pasti akan marah. Nala terkekeh mengingat hal itu.


Nala mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan sedikit padat namun tetap merayap. Hingga dua puluh menit kemudian, mobil akhirnya tiba di rumah bu Nilam.


Belum ada mobil milik bu Nilam yang terparkir di depan rumah. Itu berarti, anak-anak belum pulang dari jalan-jalan. Nala melihat jam di pergelangan tangan yang ternyata sudah menunjukkan pukul dua siang.


"Mau pulang jam berapa ini? Bisa sampai malam kalau jam segini belum pulang," gumam Nala sambil keluar dari mobil.


Langkah Nala harus terhenti kala melihat sebuah motor matik terparkir tidak jauh darinya. "Apa ada tamu?" gumam Nala kemudian melanjutkan langkah.

__ADS_1


Saat tangannya terulur untuk membuka handel, tiba-tiba ada yang membuka pintu dari dalam.


Ceklek.


Nala terpaku di tempat saat hal yang pertama kali dilihat adalah seorang perempuan yang pernah dijumpai Nala di pesta pernikahan kemarin.


Perempuan itu mengangguk sopan lalu melewati Nala begitu saja. "Mari, Bu," ucapnya lengkap dengan senyum ramah yang tersungging.


Nala balas mengangguk. Bibirnya mengulas senyum tipis dan menjawab. "Mari."


Nala masih mengamati kepergian gadis tersebut yang saat ini mulai menaiki motornya. Namun, ada suara yang berhasil mengalihkan perhatian Nala lalu membuang pandangan.


"Anjani!" teriak suara yang diduga adalah milik Reigha. Tidak berapa lama, sosok Reigha muncul dan nampak terkejut saat melihat Nala sudah berdiri di depan pintu.


Nala hanya melirik sekilas kemudian masuk ke rumah dan mengabaikan apa yang akan terjadi antara Reigha dan perempuan bernama Anjani itu.


Saat masuk rumah, hal yang pertama kali mengganggu Nala adalah bau parfum maskulin yang menguar di seisi ruangan. Nala langsung bisa menebak jika parfum itu adalah milik Reigha.


Nala memutar bola matanya malas. Mengira bahwa Reigha memakai itu karena akan bertemu dengan perempuan bernama Anjani.


"Dasar tua-tua keladi. Semakin tua semakin menjadi," gerutu Nala kemudian memilih untuk duduk di sofa ruang tamu.


Setelah mendial nomor Yuna, Nala meletakkan ponsel di dekat telinga.


"Halo, Yuna?" sapa Nala untuk pertama kali.


Setelah Yuna menjawab, Nala langsung menjelaskan langsung pada intinya. Setelah dirasa Yuna maupun Rani mengerti, Nala menutup panggilan dan menyimpan kembali ponsel ke dalam tas.


Reigha yang sudah masuk sejak tadi, merasa kagum dengan sosok Nala di masa kini. Nala yang tegas dan mandiri. Tetapi, bukankah sifat Nala memang seperti itu sejak dulu? Dia adalah tipe istri idaman.


"Ehem."


Reigha berdehem untuk menyadarkan Nala jika dirinya ada disana. Namun, Nala sama sekali tidak memberikan respon.


Reigha menghela napasnya kasar. Dia memilih untuk naik ke lantai dua karena tidak sanggup untuk didiamkan selamanya. Bukankah cara terbaik untuk didengar adalah dengan diam?


Saat kakinya hampir sampai pada tangga, suara Nala berhasil menghentikan langkah Reigha.


"Pantes ruangan ini seperti toko parfum. Ternyata karena ada seseorang yang akan datang" sindir Nala ketus.

__ADS_1


Reigha tersenyum miring. Tindakannya berhasil memancing Nala untuk bersuara. Ya, walaupun Reigha harus dituduh memakai parfum karena akan bertemu Anjani. Padahal, Reigha memakainya karena akan bertemu dengan Nala.


Reigha berbalik dan menatap Nala. "Sepertinya kamu lebih paham itu," jawab Reigha yang membuat wajah Nala semakin keruh.


"Dasar buaya. Sekali buaya ya tetap buaya," cibir Nala yang membuat Reigha seketika merasa tertantang.


Reigha mendekat dan mengikis jarak hingga membuat Nala panik dan matanya sudah mendelik seperti akan keluar dari tempat.


"Kenapa?" tanya Reigha dengan senyum tengilnya.


"Jangan dekat-dekat!" peringat Nala lalu tatapannya memicing menatap Reigha.


Reigha terkekeh pelan. "Kamu sangat cantik saat dilihat dari jarak sedekat ini," puji Reigha tulus.


Nala memutar bola matanya malas. "Cih. Omongan buaya tidak bisa dipercaya," gerutu Nala yang membuat Reigha ingin sekali meledakkan tawa. Namun, yang dilakukan Reigha hanya tersenyum manis.


Reigha memilih duduk di samping Nala dan kembali mengikis jarak. Bahkan, kini tangan Reigha sudah mengunci pergerakan Nala.


"Kamu apa-apaan sih, Mas!" kesal Nala yang wajahnya terlihat panik. Tubuhnya sudah membentur pinggiran sofa sehingga sulit untuk bergerak. Hanya tangan yang bisa Nala gunakan untuk mendorong dada Reigha yang ingin menempel. Namun, semua seakan sia-sia karena tenaga Reigha lebih besar berkali-kali lipat.


Reigha mengulum senyum melihat kepanikan yang ditunjukkan Nala. Tangan Reigha bergerak memainkan rambut Nala yang tergerai indah.


"Kamu cemburu," tebak Reigha percaya diri.


"Siapa? Aku tidak pernah mengatakannya. Jadi, kamu jangan terlalu percaya diri,"kilah Nala yang justru semakin membuat Reigha yakin pada dugaannya.


Huh! Menyenangkan sekali melihat Nala yang sedang cemburu.


"Aku yang mengatakannya tadi," jawab Reigha sengaja memainkan ucapannya.


Nala hanya bisa menjauhkan wajah agar tidak terlalu dekat dengan wajah Reigha.


"Kamu tenang saja. Anjani hanya sekertarisku," ungkap Reigha tidak ingin membuat Nala salah paham.


Nala tertawa. "Apa urusannya denganku? Aku sama sekali tidak masalah jika perempuan tadi adalah kekasihmu, Mas. Itu sudah bukan urusanku lagi," ucap Nala bernada sarkas.


"Oh ya? Mau aku kasih bukti jika kamu cemburu?" tawar Reigha dengan satu alisnya yang terangkat.


Nala kembali tertawa. "Memangnya bisa?" tanya Nala dengan nada mengejek.

__ADS_1


Reigha tidak masalah ataupun tersinggung dengan ucapan Nala. Bisa melihat Nala dari jarak sedekat ini saja sudah membuatnya bersyukur.


__ADS_2