Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 117. Ambigu


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Nanta telah sampai di pelataran rumah bu Laras. Setelah berhenti, Nanta keluar dari mobil dan diikuti oleh Anjani.


Ini bukan kali pertama Anjani datang ke rumah besar di hadapannya. Tetapi kali ini, suasananya tampak berbeda. Anjani datang bersama Nanta yang tidak lain adalah putra dari bu Larasati.


"Kenapa wajahmu gugup seperti itu?" tanya Nanta dengan dahi mengernyit.


Anjani menatap Nanta. "Aku malu dengan ibumu. Apa aku pulang saja ya?" jawab Anjani mengatakan keresahan hatinya.


Nanta terkekeh. "Santai saja. Ibuku bukan seseorang yang menakutkan. Ayo, masuk!" ajak Nanta lembut dan Anjani hanya bisa menurut.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam yang membuat Anjani semakin tidak enak hati karena bertamu terlalu larut.


Ceklek.


Nanta membuka pintu rumah yang belum terkunci karena Nanta telah menghubungi sang Ibu jika malam ini akan pulang. Nanta pikir ibunya sudah tidur dan menjemput mimpi. Namun, dugaan Nanta salah. Ibunya tengah berdiri ujung tangga dengan bibir yang tertekuk.


"Masih ingat jalan rumah kamu?" tanyanya ketus.


Nanta terkekeh lalu menarik lengan Anjani untuk mengikuti langkahnya. Setelah berada di hadapan bu Laras, Nanta langsung memeluk sang Ibu tanpa melepaskan pegangan tangannya dengan Anjani.


Anjani merasa canggung dengan kondisinya saat ini. 'Mengapa Nanta harus memegang tanganku sih? Aku kan jadi tidak enak dengan bu Laras,' batin Anjani menjerit.


Setelah pelukan terlepas, pandangan bu Laras tertuju pada Anjani. "Kita bertemu lagi," ucapnya sambil mengulas senyum dan membawa tubuh Anjani dalam pelukan.


Anjani tersenyum lalu membalas pelukan itu. Anjani pikir, bu Laras akan cuek padanya. Namun, dugaannya salah dan bu Laras menyambutnya dengan baik.


"Apa kabar, Bu?" tanya Anjani sesaat setelah pelukan terputus.


Tidak langsung menjawab, bu Laras justru tersenyum penuh arti. "Ya. Kamu harus memanggilku dengan sebutan ibu," jawabnya sambil menatap Nanta.


"Ibu!" peringat Nanta kesal. Paham kemana arah pembicaraan ibunya.


Bu Laras hanya tertawa lalu tangannya bergerak mengelus bahu Anjani. "Apa kalian sudah makan?" tanyanya perhatian.

__ADS_1


Nanta dan Anjani mengangguk bersamaan. "Sudah. Tetapi, aku masih lapar, Bu," jawab Nanta sambil menyengir kuda.


Bu Laras geleng-geleng kepala. "Makanlah lagi kalian berdua. Tetapi sebelum itu, lebih baik kalian membersihkan diri. Antar Anjani ke kamar tamu dan ambilkan baju milik mbakmu," pinta bu Laras yang diangguki patuh oleh Nanta.


Sepeninggalan bu Laras, Nanta dan Anjani bergegas mengajak Anjani ke lantai atas. Membawanya menuju salah satu kamar tamu. "Kamu bisa di tidur disini. Silahkan bersih-bersih dan aku akan mengambilkan baju milik mbak Nala," ucap Nanta mempersilahkan saat pintu sudah terbuka.


Anjani menatap kagum pada ruangan di hadapannya. Sepertinya, Nanta benar-benar anak orang kaya. Kamar tamu saja bisa seluas ini. Bagaimana dengan kamar pemilik rumahnya?


"Baiklah. Terimakasih." Anjani menjawab disertai senyuman. Nanta mengangguk lalu segera berlalu dari sana.


Sepeninggalan Nanta, Anjani menaruh tasnya di atas nakas lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dua puluh menit kemudian, Anjani keluar dari kamar mandi dan langsung melihat baju tidur di atas kasur. Mungkin, Nanta sudah mengantarkan sejak tadi.


Saat akan memakai baju tidur tersebut, di dalamnya ternyata ada pakaian lain, yaitu pakaian bagian dalam. Mata Anjani membulat sempurna dan mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Apakah semua ini yang menyiapkan Nanta?" gumam Anjani sambil menggigit ibu jarinya.


Merasa tidak memiliki jawaban, Anjani hanya bisa menghembuskan napas sambil tangannya mengusap wajahnya frustasi. Tanpa membuang waktu lagi, Anjani bergegas mengenakan pakaian lengkap.


"Nan?" panggil Anjani saat sudah berdiri di samping meja makan. Saat ini Nanta sedang berada di dapur untuk memanaskan masakan. Mungkin.


"Hm." Nanta menjawabnya dengan gumaman.


"Kamu ... yang menyiapkan baju untukku?" tanya Anjani ragu-ragu.


Nanta sontak menoleh dengan satu alisnya yang terangkat. "Kenapa memangnya?" tanyanya lengkap dengan senyum yang menyebalkan.


Anjani memicing dengan bibirnya yang mengerucut. "Lupakan. Tidak perlu dibahas lagi." Setelah mengucapkan itu, Anjani berjalan mendekati Nanta untuk membantu laki-laki itu menyiapkan makanan.


Ekor mata Nanta menangkap pergerakan di sampingnya. Saat menoleh, Anjani tengah mencuci tangan lalu mengelapnya dan berjalan ke arahnya.


"Sini, aku bantu panaskan" ucap Anjani sambil menatap panci yang terdapat opor ayam.


Nanta hanya menatap sosok gadis di sebelahnya. Apalagi poni Anjani begitu membuat tangan Nanta gatal untuk menjepitnya. Nanta berdecak saat tatapannya justru turun dan tertuju pada bibir penuh Anjani. Bibir itu tampak merah muda natural.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Anjani saat mendapati Nanta sedang menatap dirinya lekat.


Nanta mengedipkan matanya beberapa kali lalu memalingkan muka agar tidak begitu kentara sedang gugup. Tentu saja karena tertangkap basah tengah memperhatikan Anjani.


Ehem. Nanta berdehem terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering. "Jadi bagaimana?" tanya Nanta dengan alis yang naik turun.


Kernyitan di dahi Anjani nampak dalam. "Bagaimana apanya?" Tanyanya heran.


"Anu." Nanta menjawab dengan kata ambigu yang membuat Anjani terheran-heran.


"Anu apanya sih? Yang jelas dong," kesal Anjani yang tangannya kini bergerak untuk mematikan kompor. Saat sudah bersiap untuk mengangkat panci, suara Nanta kembali terdengar dan membuat gerakannya terhenti.


"Pakaian bagian dalamnya pas kan?" tanya Nanta setengah berbisik.


Anjani langsung melotot tajam. Di kepalanya mulai muncul pertanyaan, jadi benar jika yang menyiapkan 'pakaian lengkap' diberi tanda kutip adalah Nanta? Jika benar, sungguh Anjani sudah tidak bisa berpikir jika Nanta adalah pria baik-baik.


"Jadi benar? Kamu yang sudah menyiapkan semuanya? Lalu, apa maksud tadi sore tentang ucapanmu yang mengatakan, bahwa pipi kamu masih bujang? Jelas-jelas kamu terlihat begitu berpengalaman," cecar Anjani lengkap dengan wajah murkanya.


Nanta meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu tidak seperti yang ada dalam pikiranmu. Memang benar pipiku sudah tak bujang lagi. Tetapi untuk yang di bawah masih bersegel kok," celetuk Nanta bermaksud menjelaskan.


Bola mata Anjani seperti akan keluar dan menggelinding di lantai. Napasnya tampak naik dan turun, mengisyaratkan betapa habis sudah kesabarannya saat ini.


"Lama-lama aku bisa gila," kesal Anjani lalu tangannya bergerak untuk mengangkat panci dengan kasar. Namun, Anjani lupa tidak memakai kain sehingga tangannya kepanasan saat menempel langsung dengan Panci.


"Aw!" Anjani memekik sakit lalu segera menjauhkan tangan.


Wajah Nanta mendadak panik. Tangannya reflek menarik tangan Anjani yang terkena panas. Bibirnya langsung mengerucut untuk meniupkan udara, berharap rasa panas yang menjalar di tangan Anjani mereda.


"Kamu kenapa ceroboh sekali sih?" kesalnya dengan raut khawatir.


Anjani membeku di tempat. Bukan hanya rasa sakitnya yang hilang. Namun nyawanya seperti melayang. Belum lagi degup jantungnya yang mulai berulah. Hal itu membuat Anjani seperti tak lagi menapak di bumi.


'Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi padaku!' batin Anjani menjerit.

__ADS_1


__ADS_2