Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 65. Anjani


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Reigha menghilang dari hadapan seseorang yang dicintai dan anak-anaknya. Jujur, Reigha tidak sanggup berjauhan terlalu lama seperti ini. Tapi apa boleh buat? Ini semua atas permintaan Nala.


Reigha tidak bisa memaksa jika seseorang yang dicintai sudah tidak sudi melihat wajahnya lagi. Reigha kini jadi sosok yang pendiam dan irit bicara. Hatinya seperti membeku karena rasa sakit yang dirasakan terakhir kali sebelum meninggalkan Nala.


Rasa sakit karena cintanya tak lagi berbalas, rasa sakit karena seseorang yang dicintai kini telah membencinya. Reigha tidak sanggup bila harus menjadi orang nomor satu dari deretan orang-orang yang dibenci.


Tok. Tok. Tok.


Lamunan Reigha buyar saat pintu ruangannya diketuk. "Masuk?" titah Reigha tegas dan dingin.


"Permisi, Pak. Saya ingin menyerahkan berkas yang Bapak minta," ucap seorang laki-laki yang merupakan salah satu staff di perusahaan Cakrawala.


Reigha mengangguk tanpa sepatah kata. Laki-laki tersebut melenggang masuk djs menyerahkan berkas analisisnya. Saat Reigha mulai memeriksa, datanya kurang sesuai. Hingga hal itu membuat Reigha merasa kesal.


"Periksa lagi. Datanya belum sesuai," titah Reigha datar sambil melempar berkas itu ke atas meja. Wajahnya menampakkan aura kejam dengan tatapan menghunus.


"Ba-baik, P-Pak," jawab laki-laki tadi tergagap.


Sepeninggalan staff-nya, Reigha kembali mengerjakan tugasnya yang masih menumpuk. Dia seberusaha mungkin menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak ada waktu untuk Reigha memikirkan anak-anak dan Nala.


Waktu bergulir. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat tiga puluh menit. Reigha keluar dari ruangannya untuk pulang.


Namun, Reigha tiba-tiba dikejutkan dengan sekertaris yang di pilih papanya, masih berada di mejanya.


"Bapak sudah mau pulang?" tanya sang Sekretaris yang tidak lain adalah seorang gadis cantik yang usianya baru saja menginjak angka dua puluh.


"Sudah." Reigha menjawabnya singkat dan berlalu meninggalkan sekertarisnya begitu saja. Namun, teriakkan gadis itu berhasil menghentikan langkah Reigha.


"Pak! Saya mohon tunggu saya, Pak. Saya takut turun lift sendirian!" pekik gadis tersebut yang membuat Reigha mendengkus pelan.


'Dasar bocah!' gerutu Reigha dalam hati.


"Cepat! Atau aku tinggal!" jawab Reigha ketus.

__ADS_1


Gadis bernama Anjani itu bergegas mengemas semua barang-barang dan menyampirkan selempang tas di bahunya. "Sudah, Pak," ucap Anjani yang segera membuat Reigha kembali melangkah mendahului Anjani.


Saat sudah berada di lift, keduanya hanya diam karena memang Reigha tidak tertarik untuk mengucapkan sepatah katapun. Satu hal yang membuat Reigha tertarik adalah sang mantan istri yang sayangnya, sudah tak lagi memiliki rasa yang sama.


Entahlah apakah dugaan Reigha benar atau salah. Apakah Nala masih memiliki sisa rasa namun mencoba menepisnya atau memang sudah tidak ada lagi yang tersisa.


Sepanjang menuruni lantai, Reigha tahu jika gadis di sampingnya sedang memperhatikan dirinya. Terbukti saat Reigha menoleh, Anjani tsmaok terkejut seperti sedang tertanggap basah.


"Jangan memandang saya seperti itu. Saya tidak suka," peringat Reigha datar.


Anjani menelan salivanya susah payah. Bosnya itu sangat ketus dan menyeramkan. Proses menuruni lantai pun terasa lebih lama dari biasanya.


Setelah berada di lantai paling bawah, Reigha segera berlalu meninggalkan Anjani. Dia masuk ke mobil dan sudsh tidak lagi memikirkan Anjani yang saat ini sedang kebingungan harus pulang naik kendaraan apa.


Sesampainya di rumah, Reigha langsung disambut oleh sang Mama. Reigha tersenyum tipis lalu menyalami tangannya.


"Kenapa pulang malam lagi? Bukannya pekerjaan kamu sudah selesai sejak pukul lima sore tadi ya?" cecar bu Nilam tak habis pikir.


Reigha hanya tersenyum. "Aku ke kamar dulu ya, Ma," pamit Reigha tanpa perlu repot-repot menjawab pertanyaan sang Mama. Reigha tentu paham kemana arah pembicaraan mamanya sehingga papanya memilihkan sekertaris wanita sebagai partner Reigha bekerja.


Bu Nilam hanya menghela napas kasar melihat Reigha yang kini begitu tertutup.


.............


Di kediaman Bu Larasati.


"Mommy! Zia rindu dengan Daddy. Mengapa sekarang Daddy tidak pernah menjemput kami?" tanya Zia saat sudah masuk ke kamarnya untuk tidur.


Nala yang sudah mencapai pintu keluar, terpaksa menghentikan langkah dan berbalik untuk menatap sang Putri. "Kan Mommy sudah pernah bilang jika Daddy kalian sedang bekerja. Kalau pekerjaannya sudah selesai, Daddy pasti datang," jawab Nala yang bahkan Nala sendiri meragukan kenyataannya.


"Tetapi, mengapa sejak dulu Daddy tidak pernah tinggal bersama kami? Bukankah itu aneh? Anak-anak lain biasanya akan tinggal bersama ayah dan ibunya. Mengapa kami hanya tinggal bersama Mommy?" Kini giliran Zio yang bersuara.


Nala tergugu, matanya mengerjap beberapa kali untuk mencari jawaban yang tepat agar mudah di pahami oleh anak yang usianya hampir empat tahun itu.

__ADS_1


Nala memilih kembali mendekat dan duduk di kursi yang terletak di antara ranjang Zia dan Zio.


"Anak lain yang Zio maksud siapa?" tanya Nala berusaha mengulas senyum.


"Itu, anak perempuan yang tinggal di depan rumah kita. Ayah dan ibunya selalu menemani anak itu bermain. Mengapa Mommy dan Daddy justru bergantian? Harusnya kalian main bersama kami tanpa harus bergantian," jelas Zio panjang lebar.


Nala terseyum masam. Anaknya itu sudah semakin pintar dan peka akan hal-hal yang ada di sekitar.


"Kalian tidur dulu ya? Mau ikut Mommy ke Jakarta lagi kan?" tawar Nala mencoba mengalihkan pembicaraan.


Usaha Nala berhasil karena kini Zia dan Zio tampak antusias menanggapi. "Mau!" jawab keduanya hampir bersamaan.


Nala tersenyum lalu beranjak dari kursinya. Dia kembali mengecup kening Zia dan Zio bergantian. "Sudah. Kalian tidur dulu agar besok tidak kesiangan. Mommy harus berangkat pagi karena acaranya akan diadakan siang hari. Kalau kalian ingin ikut, bergegaslah tidur," ucap Nala yang langsung dilaksanakan oleh dua anaknya.


Setelah Zia dan Zio memejamkan mata, Nala memilih keluar dari kamar. Dia menuju kamarnya sendiri untuk tidur.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Nala berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Nala menatap wajahnya sendiri lalu menghela napas lelah. "Sepertinya akan sulit memisahkan anak-anak dengan ayahnya," monolog Nala sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


"Tapi aku bisa apa? Aku ingin egois sekali ini saja. Aku ingin meresapi setiap hidup yang sedang aku perankan. Dua kali kehilangan membuatku begitu takut untuk menjalin sebuah hubungan," sambungnya lagi.


Huuft..


Nala menghembuskan napas kasar. "Untuk srial cinta yang pernah kita lepas, tentu ada sebagian luka yang pasti akan membekas. Entah karena perpisahan yang dilakukan sepihak atau karena ada rasa yang masih terjebak. Semuanya pasti membuat hati smeksin terasa sesak."


"Luka itu memang tak berdarah. Namun, rasa sakitnya tetap saja membuat kita lemah."


"Lemah yang membuat kita tak punya tujuan. Lemah yang membuat kita tak punya harapan. Hingga lemah yang membuat kita tak karuan."


Nala bermonolog dengan dirinya sendiri. Dia sering sekali melakukan itu untuk menenangkan diri. Karena setiap rasa sakit yang hadir, hanya diri yang bisa mengobati.


"Untukmu mas Dandy, Terima kasih telah hadir dan pergi dengan ombak yang begitu kuat. Doa terbaik untukmu yang menempaku agar lebih kuat," ucap Nala dengan hati yang lapang.


Dia sudah ikhlas dan berharap Dandy tenang disana. Nala ingin berdamai dengan dirinya sendiri agar hidupnya juga menjadi tenteram.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian ya😘...


__ADS_2