
"Itu Daddy-nya Zio ya, Mom?" tanya Zio yang berhasil membuyarkan lamunan Nala dan Reigha.
Nala menunduk untuk bertemu tatap dengan sang Anak. "Kita duduk disana ya?" ajak Nala mengabaikan pertanyaan Zio dan mengabaikan keberadaan Reigha.
Zia dan Zio menurut dan mengikuti langkah sang Ibu menuju kursi yang tinggal beberapa meter lagi. Nala duduk dengan memangku Zio sedang Zia duduk sendiri di kursinya.
Nala bergerak gelisah ketika Reigha belum juga pergi dari tempatnya berdiri. Walau sekuat tenaga Nala mencoba mengabaikan keberadaan mantan suaminya, dalam hati Nala tidak bisa berbohong karena jantungnya kini sedang bertalu-talu.
Apalagi, tatapan Reigha kini sedang menatap lekat ke arahnya beserta anak-anak. "Uncle sama Oma lama sekali ya?" ucap Nala yang justru terlihat semakin gugup.
'Kenapa sih, sama hati ini? Aneh sekali,' gerutu Nala dalam hati.
Kegugupan Nala bertambah ketika ekor matanya menangkap sosok Reigha berjalan ke arahnya. Entah apa yang harus Nala katakan ketika Reigha bertanya tentang kedua anaknya. Apalagi, Zio memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Reigha.
"Nala? Apa kabar?" Suara Reigha kembali terdengar dan itu begitu dekat. Apalagi, kini Nala bisa melihat ujung sepatu sport yang dikenakan mantan suaminya.
'Kamu harus berani, Nala. Kamu tidak salah, jadi kamu tidak perlu merasa takut,' monolog Nala meyakinkan diri sendiri dalam hati.
Nala akhirnya mendongakkan kepala untuk bertemu tatap dengan Reigha. "Aku baik," jawab Nala sambil mengulas senyum terbaiknya.
Bukan untuk membuat Reigha terpikat, melainkan untuk menunjukkan bahwa dirinya selama ini baik-baik saja hidup tanpa Reigha.
Reigha magut-magut seperti sedang mencari topik pembicaraan. "Mereka ... Anak-anakmu?" tanya Reigha dengan lidah yang mendadak kelu.
Nala mengangguk pelan. "Iya." jawab Nala singkat dan datar. Seakan, wajah gugup dan gusarnya menguar entah kemana.
Tanpa diduga, Zia dan Zio beranjak secara bersamaan untuk menatap sosok pria di hadapannya. Jari mungil Zia sudah lebih dulu memegang jemari Reigha lalu digenggamnya.
"Uncle, Daddy-nya Zia kan?" tanya Zia penuh harap.
Nala membelalakan mata tidak percaya. Setelah itu, Nala memejamkan matanya erat-erat mendengar jawaban Reigha.
__ADS_1
Reigha berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil. "Iya, ini Daddy," jawab Reigha yakin namun suaranya terdengar bergetar ingin menangis. Wajah Zia lebih dominan mirip Nala sedangkan Zio ... Lebih mirip dengannya. Bolehkah Reigha berharap bahwa kedua anak kembar di hadapannya merupakan darah dagingnya?
Reigha langsung tahu nama anak kembar menggemaskan di hadapannya karena kedua anak itu membahasakan namanya sendiri ketika berbicara.
Dan seperti mempunyai ikatan batin, kini kedua telapak mungil milik Zio membingkai wajah Reigha. Tatapan Reigha dan Zio bertemu. "Iya, ini Daddy-nya Zio," ucap Zio dengan mata berbinar bahagia.
Reigha tersenyum. Ada rasa hangat yang menjalar di relung kalbu ketika sebutan 'Daddy' tersemat untuknya. Tatapan Reigha kini beralih pada Nala yang sejak tadi hanya diam sambil membuang pandangan.
"Nala? Apa mereka adalah anakku? Mengapa aku merasa mempunyai ikatan yang kuat dengan keduanya. Bahkan, wajah Zio begitu mirip denganku," tanya Reigha sambil menangis haru dan merengkuh tubuh mungil putra dan putrinya.
Nala menatap tajam Reigha. Namun, tatapan tajam itu mengendur menjadi tatapan sendu ketika melihat tangan Zia sedang mengusap pipi Reigha lembut.
"Daddy kenapa menangis? Apa Mommy nakal?" tanya Zia polos.
Reigha menggeleng kemudian mengecup pipi anaknya secara bergantian. "Tidak. Mommy kalian sangat baik. Daddy-lah yang nakal disini karena sudah membuat Mommy menangis," jawab Reigha yang air matanya sudah tak terbendung.
Nala bisa mendengar Reigha tergugu sambil memeluk dua anaknya. Sesak sekali menyaksikan pemandangan seperti ini. Nala menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Nala menangis terisak.
Mengapa rasanya begitu menyesakkan?
Setelah cukup tenang, Nala kembali bersuara. "Zia? Zio? Kesini sama Mommy," pinta Nala lembut yang segera dilaksanakan oleh si kembar.
"Itu Daddy kan, Mom?" tanya Zia dengan wajah menuntut. Sedangkan Zio, dia diam namun tatapannya terlihat begitu penasaran.
Nala terkekeh pelan lalu mengecup pipi kedua anaknya. Setelah memeluk si kembar, Nala kembali bersuara. "Iya, itu Daddy kalian," jawab Nala pada akhirnya.
Benar kata sang Ibu jika kondisi seperti ini akan terjadi. Siap atau tidak siap, Nala harus mengungkapkan kebenaran yang ada.
Reigha yang berjongkok di tanah, kembali menangis tersedu-sedu. "Kamu bersungguh-sungguh kan, La? Zia dan Zio anakku?" tanya Reigha tersenyum sambil menangis.
Nala mendongakkan kepala menatap langit lalu menghembuskan napasnya kasar. "Iya, aku pergi dengan membawa mereka berdua," jawab Nala apa adanya.
__ADS_1
Dari sisi lain, masih di tempat yang sama, Nanta dan bu Laras yang baru saja kembali dan mencari keberadaan Nala juga si kembar.
Saat langkahnya sudah hampir sampai pada Nala, bu Laras mencegah Nanta untuk mendekat. Betapa marahnya Nanta ketika melihat laki-laki yang sudah membuat hati kakaknya hancur, sedang memeluk Zia dan Zio.
"Lepas, Bu. Dia harus diberi pelajaran," ucap Nanta dengan penuh penekanan.
Bu Laras menggeleng. "Tidak, Nan. Kali ini kita tidak boleh ikut campur. Zia dan Zio berhak tahu siapa ayah kandungnya," jawab Bu Laras lembut.
Nanta menurut dan kembali tenang. Namun, tatapannya tak pernah lepas menatap ke arah kakaknya.
Dan betapa kesalnya Nanta saat melihat Reigha memeluk Zia dan Zio. Karena hal itu membuat Nanta menitikkan air mata. Entah karena terharu atau rindu dengan kasih sayang sang Ayah yang sudah lebih dulu berpulang.
"Ibu tahu kamu pasti rindu ayah. Begitu juga dengan Zia dan Zio. Mereka pasti merasa ada yang hilang tetapi tidak tahu apa karena mereka belum pernah sekalipun berjumpa dengan sang Ayah," ucap bu Laras seakan tahu isi hati Nanta.
"Ibu benar. Zia dan Zio berhak tahu ayah bahkan keluarga ayahnya," jawab Nanta yang kini mulai terisak saat melihat Reigha menangis dan Zia menghapus air mata ayahnya.
"Kenapa Nanta harus nangis sih, Bu? Padahal, laki-laki itu kan yang sudah membuat mbak Nala terluka," tanya Nanta tidak habis pikir.
Bu Laras ikut menangis. "Ini bukan tentang Reigha pada Nala. Melainkan, ini tentang Reigha pada Zia dan Zio. Ibu lihat, Reigha begitu menyesal," jawab Bu Laras kembali.
"Lalu? Ibu mau menerima laki-laki itu kembali?" tanya Nanta terdengar tidak terima.
Bu Laras menggeleng. "Bukan ibu yang harus menerima atau tidaknya. Tetapi, seandainya Mbak-mu bersedia kembali, ibu tidak akan memberikan restu," pungkas bu Laras dengan penuh penekanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya 😘...
...mampir juga kesini yuk 👇...
...
__ADS_1
...