
Pad akhirnya, hingga hari pertunangan tiba, Nala belum mengungkapkan isi hatinya. Entah mengapa, Nala tidak ingin mengungkapkan lewat ucapan. Dia ingin mengungkapkan lewat perlakuan.
Semua sudah siap. Acara hanya dihadiri oleh keluarga dekat dari Nala dan Dandy. Walau begitu, semua terasa meriah karena orang-orang yang datang membawa aura positif dan ikut berbahagia atas kebahagiaan Nala dan Dandy.
Acara tukar cincin sudah selesai dilaksanakan. Kini, di jari manis Nala sudah ada penanda jika Nala sudah ada yang punya.
Nala mengenakan gaun pesta berwarna emas yang membalut tubuhnya begitu erat. Gaun tersebut memiliki lengan pendek di bawah ketiak dengan kerah leher model V. Sangat cantik.
Dandy seperti enggan untuk mengalihkan pandangan menatap sang Dewi Hatinya.
"Nala?" panggil Dandy lembut saat keduanya sudah mendudukkan diri di kursi yang tersedia di panggung kecil dimana Nala dan Dandy bertukar cincin.
"Kenapa, Mas?" jawab Nala cepat sambil menoleh pada Reigha dengan wajah penuh tanya.
"Kamu sangat cantik. Aku ada kejutan untukmu setelah ini," ucap Dandy dengan menatap Nala lekat.
Nala mengerutkan alisnya, bingung. "Kejutan apa sih, Mas? Kasih tahu dong?" rengek Nala dengan bibir yang cemberut.
Dandy hanya tersenyum kemudian berdiri dari kursinya menuju tempat dimana musik akustik sedang mengalun. Itu merupakan musik live yang sengaja Dandy undang untuk memeriahkan acara pertunangannya.
Nala membelalakkan mata tak percaya ketika melihat Dandy kini berjalan menuju grup musik yang saat ini sedang memainkan sebuah lagu. Apalagi, musik kini berhenti dan microfon vokalis kini sudah beralih di tangan Dandy.
Nala tersenyum merona saat Dandy kini kembali berjalan ke arahnya. Para tamu undangan yang terdiri dari keluarga dekat dan teman dekat pun bersorak-sorai.
"Selamat malam semuanya," sapa Dandy pada tamu undangan saat sudah kembali berada di panggung.
Para tamu undangan menjawab dengan riuh sapaan salam dari Dandy.
"Saya ingin membawakan sebuah lagu untuk calon isteri saya, yaitu Asmaranala Hanindya. Namun sebelum itu, saya ingin memanggil partner lain yang telah ikut melancarkan acara ini. Tanpa dukungan dari mereka, acara ini tidak akan pernah ada," ucap Dandy yang membuat semua penasaran tak terkecuali Nala.
Dandy tersenyum penuh arti pada Nala yang duduk di kursi tidak jauh dari tempat dirinya berdiri. Nala melotot tajam karena bisa-bisanya Dandy tidak briefing terlebih dahulu tentang dia yang ingin bernyanyi.
"Mari kita panggilkan jagoan kita, Sayang," ucap Dandy lembut dengan menggunakan microfon.
Hal itu sontak membuat semua kembali riuh-riak. Nala hanya menatap heran, siapa jagoan yang dimaksud Dandy.
__ADS_1
"Zia dan Zio!" panggil Dandy kemudian disusul oleh tepuk tangan meriah dari semua.
Nala menutup mulut dengan telapak tangan, benar-benar merasa terkejut dengan kejutan dari Dandy kali ini.
Bu Laras dan bu Dian menuntun Zia dan Zio untuk mengantar dua bocah kembar itu menaiki panggung. Saat Zia dan Zio sudah berada di panggung, ada tukang sound sistem membawa dua Microfon untuk Zia dan Zio.
"Ayo, Zia dan Zio sapa dulu para tamu undangan," pinta Dandy lembut yang kini sudah berjongkok untuk menyamakan tinggi badan si bocah kembar.
"Selamat malam semua. Nama saya Zia dan ini adik saya Zio," ucap Zia lucu menggunakan microfon.
Semua tamu undangan bertepuk tangan meriah melihat kelucuan dan kecerdasan Zia dan Zio.
"Ayo Zio, katakan pada semua bahwa kalian ingin menyanyikan sebuah lagu untuk Mommy kalian," pinta Dandy lagi yang membuat Nala membekap mulutnya tidak percaya.
"Hai semua. Aku dan Zia akan menyanyikan sebuah lagu untuk Mommy dengan judul You are the reason," ucap Zio lucu yang setelahnya terdengar tepuk tangan meriah.
"Selamat mendengarkan Mommy, semoga Mommy suka," ucap Zia sambil menatap lekat ibunya.
Dandy menoleh pada Nala yang kini sedang menatapnya dengan senyum haru. Kemudian, Dandy menaruh Microfon itu di depan bibirnya dan mulai bernyanyi bersama Zia dan Zio.
'Cause you are the reason..
I'm losing my sleep..
Please come back now..
And there goes my mind racing..
And you are the reason..
That I'm still breathing..
I'm hopeless now..
Pandangan Dandy, Zia, dan Zio mengarah pada sosok wanita yang dicintai dan berlutut dihadapan Nala saat reff dari lagu tersebut mulai dinyanyikan.
__ADS_1
I'd climb every mountain..
And swim every ocean..
Just to be with you..
And fix what I've broken..
Oh, 'cause I need you to see..
That you are the reason..
Nala benar-benar menumpahkan air matanya saat melihat dua anaknya bernyanyi dengan menggunakan bahasa Inggris dengan lancar dan fasih.
Apalagi, tiga orang di depannya begitu membuat hatinya terenyuh merasakan cinta dan kasih sayang yang disalurkan.
Bu Laras, Bu Dian, dan Nanta merasa terharu hingga meneteskan air mata.
Bu Dian sekarang sadar bahwa Dandy membutuhkan seseorang yang dia cinta untuk memperpanjang umurnya. Bu Dian menangis sesenggukan mengingat keegoisannya yang melarang hubungan Nala dan Dandy. Beliau menyesal-semenyesalnya.
Bu Laras yang berada di dekat Bu Dian segera merangkul bahu wanita di sampingnya. "Mereka begitu bahagia. Tolong jangan pisahkan lagi. Aku meminta langsung Dandy padamu sebagai seorang ibu dari Nala. Bagaimana pun, aku tahu perjuangan putriku hingga bisa sampai di titik ini. Aku hanya ingin putriku bahagia bersama orang yang tepat," ucap bu Laras yang menekan rasa malu-malunya dalam-dalam.
Bu Dian semakin sesenggukan. Entah karena permintaan bu Laras atau dia sudah tahu kenyataan yang begitu pahit.
Sedangkan Nanta, dia berulangkali mengusap matanya agar air matanya tidak luruh. Nanta hanya berharap jika setelah ini, Mbak-nya akan menjemput bahagia.
Semua orang yang sedang larut dalam suasana haru itu bertepuk tangan meriah dan menyadarkan Nala yang sejak tadi tidak bisa berkata-kata. Dia sangat bahagia dan berharap, kebahagiaan ini akan selamanya ada.
"Terima kasih untuk kalian anak-anak Mommy," ucap Nala terharu memeluk dua anaknya.
Dandy tersenyum saat tatap Nala kembali tertuju padanya. "Terima kasih, Mas," ucap Nala dengan balas tersenyum tulus. Suasana itu semakin mengharu-biru saat bu Laras dan bu Dian naik ke panggung dan ikut memeluk anak kembar beserta ibunya.
Dandy menangis haru melihat pemandangan indah di depannya. Tiba-tiba, Pandu merasa ada yang menepuk bahunya. Saat menoleh, Nanta-lah pelakunya yang kini sedang berdiri di sampingnya.
"Mas Dandy memang luar biasa," puji Nanta bangga.
__ADS_1