Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 78. Reigha dan gombalannya


__ADS_3

Reigha menghela napas kasar saat keluar dari rumah Nala. Perjalanan cintanya tidak akan mudah seperti dulu. Tetapi, hal itu tidak masalah untuknya. Reigha akan berusaha berjuang mendapatkan hati Nala.


Ya. Hal yang paling utama untuk Reigha dapatkan adalah cinta Nala. Jika itu selesai, tinggal memohon restu pada bu Laras.


Setelah berjalan sejauh lima ratus meter, Reigha berhenti di depan poas satpam yang berjaga di depan pintu gang perumahan. Dia memilih untuk menghubungi Nick agar menjemputnya.


"Halo, Nick! Jemput aku sekarang di gang masuk perumahan tempat Nala tinggal," titah Reigha tegas.


Setelah Nick jawab mengiyakan, Reigha menutup panggilan.


............


Di tempat lain, tepatnya di sebuah hotel bintang lima, Sandra duduk meringkuk di sudut ruangan. Tubuhnya terasa remuk redam akibat Daniel yang sudah menggempurnya habis-habisan.


Bahkan, bagian inti tubuhnya terasa nyeri dan terdapat luka robek akibat Daniel yang bermain kasar. Belum lagi bekas alat-alat permainan yang Daniel cambukkan di punggungnya.


Sandra lebih baik mati daripada disiksa setiap hari seperti sekarang ini. Dia bukan tidak pernah mencari bantuan. Hanya saja, Daniel adalah orang licik dan memiliki banyak koneksi. Tidak mudah untuk bisa lepas dari pria kejam itu.


Sandra menangis melihat kondisi tubuhnya yang sangat berantakan. Dulu, nasibnya tidak seperti ini. Sekarang, hidupnya bak berputar seratus delapan puluh derajat.


Sandra pikir, setelah berpisah dari Reigha dia bisa mencari Reigha-Reigha yang lain. Namun, justru dirinyalah yang terperangkap dalam permainannya sendiri. Dia sudah jatuh pada orang licik dan kasar.


"Sandra!" pekik Daniel menggema di seluruh ruangan.


Tubuh Sandra kembali bergetar mendengar suara itu. Suara yang sangat Sandra takuti.


"Dimana kamu! Jangan bersembunyi dariku atau kamu akan tahu akibatnya!" peringat Daniel yang semakin membuat tubuh Sandra bergetar hebat. Air matanya sudah mulai menetes membasahi pipi tirusnya hingga suara isakan keluar.


Daniel tersenyum miring dan mengendap untuk mencari keberadaan Sandra. "Kamu memilih untuk keluar atau aku yang akan paksa kamu untuk keluar?" ucap Daniel sengaja memainkan ucapannya.


"Ja-ja-jangan. A-aku yang akan ke-keluar," jawab Sandra tergagap. Dia kemudian keluar dari balik kelambu. Dia sudah tak mampu untuk berjalan karena kedua pahanya begitu nyeri. Sandra merangkak mendekat pada kaki Daniel.

__ADS_1


Terdengar tawa mengerikan dari Daniel yang membuat Sandra semakin menangis sesenggukan. Kemudian, Daniel berjongkok di hadapan Sandra. Tangannya bergerak untuk mengelus pipi Sandra yang semakin hari semakin tirus.


Berawal dari sentuhan lembut kemudian menjadi sentuhan kasar dan berakhir dengan mencengkeram dagu Sandra kencang. Sandra menangis meraung-raung memohon untuk dilepaskan. Tangisan pilu yang sarat akan kesakitan.


"Jangan ... Ku mohon jangan terlalu keras ...." racau Sandra sarat akan permohonan.


Daniel tertawa. Tawa yang sangat mengerikan. "Ini adalah akibat dari kamu yang sudah kabur. Lain kali, kamu harus memikirkannya sebelum pergi dari sisiku!" ucap Daniel penuh penekanan. Tangannya semakin mencengkram kencang dagu Sandra.


"Aaargh!!" Sandra memekik kencang ketika merasakan pangkal-pangkal rambutnya seperti akan lepas. Satu tangan Daniel kini bergerak untuk menjambak rambut Sandra kasar.


"Maafkan aku. Tolong lepaskan ... Ini sakit ...." racau Sandra lagi pilu.


Daniel justru tertawa puas dan mendorong tubuh Sandra kencang hingga tersungkur ke lantai. Sekali lagi, Daniel menendang betis Sandra hingga membuat wanita itu tidak bisa lagi berbuat apa-apa.


Hanya menangis yang bisa Sandra lakukan saat ini. Daniel telah keluar dengan mengunci kamar. Bahkan, Daniel tidak memberinya makan hampir seharian.


Sandra berharap ada keajaiban yang bisa menolong hidupnya dari cengkeraman orang gila seperti Daniel. Entah kapan itu, Sandra akan menunggu waktu itu tiba.


"Sampai kapan aku harus seperti ini? Apakah ini sebuah balasan karena sudah berbuat dosa di masa lalu? Tetapi, kapan semua ini akan berakhir," monolog Sandra lirih masih dalam posisi tengkurap.


Jangankan berdiri, duduk saja Sandra sudah tidak mampu lagi.


Dunia gemerlap yang dulu pernah dirinya miliki, kini sudah gelap dan sunyi. Sandra sendiri dan benar-benar sendiri.


.


.


Reigha sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang berada dalam apartemen. Selain mengurus perusahaan, Nick juga mngurus apartemennya dengan baik.


Kondisi apartemen masih bersih dan rapi karena setiap satu minggu akan dibersihkan selama dua kali. Nick memang bisa diandalkan.

__ADS_1


Reigha telentang menatap langit-langit kamar. Pikirannya melanglang buana tentunya hanya seputar Nala. Tentu Reigha masih ingat jika tadi sore sebelum Nala masuk, dia menyempatkan untuk menoleh padanya.


"Apakah Nala mengkhawatirkan aku? Huh! Dari tatapannya sih, sepertinya iya," monolog Reigha tersenyum senang.


Reigha segera mencari keberadaan ponselnya yang sudah teronggok tak berdaya di lantai. Dia mengecek apakah ada pesan atau panggilan tidak terjawab dari Nala. Barangkali, Nala benar-benar mengkhawatirkannya.


Namun, tidak ada satupun nama Nala sebagai penelepon maupun pengirim pesan. Itu tidak masalah. Reigha yang akan menghubungi Nala lebih dulu. Mungkin dengan alasan ingin berbicara dengan Zia dan Zio bisa Nala terima.


Reigha tertawa sendiri mengingat semua itu. Tidak sulit mencari nama Nala karena pesan nama Nala menjadi nama yang disematkan di ponselnya.


"Halo Mommy sayang?" sapa Reigha tengil saat melihat wajah Nala memenuhi layar ponselnya. Ya. Reigha melakukan panggilan video agar bisa menatap wajah Nala sebagai lagu pengantar tidurnya.


Nala mendelik kesal. "Kenapa? Ini sudah malam. Jangan beralasan karena sudah merasa rindu lagi dengan Zia dan Zio," tebak Nala seakan paham akan isi kepala Reigha.


Reigha tertawa renyah. "Kamu memang yang paling mengerti aku," jawab Reigha bahagia.


"Dan kamu tidak pernah mengerti aku," jawab Nala datar.


"Itu dulu. Jika sekarang kamu memberiku kesempatan untuk mendobrak hatimu, aku akan selalu mengerti kamu. Memang sudah kodratnya seorang wanita yang ingin selalu di mengerti dan tidak pernah salah," jawab Reigha lalu mengerlingkan matanya nakal.


Nala mencebikkan bibirnya kesal. "Kamu kenapa telepon malam-malam? Ganggu sekali," gerutu Nala lalu membuang pandangan.


"Oh ya? Aku suka mengganggu kamu dan berharap, suatu saat nanti kamu akan sadar bahwa tanpa aku mengganggumu, dunia akan terasa sunyi," jawab Reigha dengan percaya diri.


"Dih! Percaya diri sekali Anda, Tuan," cibir Nala kesal.


"Ya sudah. Kalau begitu matikan saja teleponnya. Aku tidak memintamu untuk menerima panggilan dariku," ucap Reigha memainkan alisnya.


Nala tampak bersungut kesal dan ... telepon pada akhirnya terputus.


"Lah. Kenapa dimatikan? Aku kan hanya bercanda," gumam Reigha menyesal. Mood wanita memang suka berubah-ubah.

__ADS_1


__ADS_2