Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 84. Kamu cantik


__ADS_3

Nala menunduk untuk melihat wajah Reigha yang tampak pulas tidur di pangkuannya. Mata Nala menelisik wajah Reigha yang masih terlihat tampan meski usianya kini sudah menginjak angka tiga puluh dua.


Pandangan Nala jatuh pada lingkaran hitam di bawah mata Reigha. Dalam hati Nala bertanya-tanya. Apakah pria di pangkuannya jarang tidur? Mengapa kantung matanya begitu jelas?


Nala menghela napas kemudian menyandarkan bahunya dengan hati-hati, takut mengganggu tidur nyenyak Reigha. Dia masih merasa canggung jika harus berinteraksi sedekat ini dengan Reigha.


Walau Reigha terkadang suka kurangajar, tetap saja hal itu membuat kondisi jantungnya mendadak tidak baik-baik saja. Seperti sekarang ini.


Pandangan Nala menerobos kaca jendela di ruangan. Di luar sedang hujan sehingga Nala memilih untuk tetap berada di ruangan. Sedangkan Zia dan Zio, keduanya sedang asik bermain di karpet bulu yang Nala gelar di lantai.


Begitulah ibu-ibu. Walau di kantor, karpet akan sangat berharga untuk anak-anaknya. Apalagi jika Zia dan Zio mengantuk. Karena tidak ada ranjang, pada akhirnya mereka akan tidur di atas karpet bulu.


Karpet bulu yang Nala pesan merupakan produk karpet yang bagus dan tebal. Sehingga, tubuh anak-anak tidak akan sakit setelah bangun nanti. Oh ya, Nala juga menyiapkan dua bantal yang di simpan di sebuah lemari kaca.


"Mom," panggil Zio lirih, terlihat lelah karena sejak tadi bermain.


Nala mengangguk kemudian mengangkat kepala Reigha agar kepalanya bertumpu pada bantal sofa. Sangat pelan agar tidur nyenyak Reigha tak terganggu. Setelah dirasa aman, Nala mendekat pada dua anaknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang dan itu berarti, anak-anak harus tidur siang. Beruntung, ruangannya luas. Sehingga, Nala bisa menaruh barang-barang tanpa takut memenuhi.


Nala tersenyum kemudian mengambil bantal dan selimut yang sudah biasa Zia dan Zio gunakan saat harus tidur siang di kantor. Keduanya tidak masalah tidur di lantai hanya beralaskan karpet bulu. Itulah yang membuat Nala bangga pada dua anaknya.


Setelah ini, Nala berjanji untuk membelikan kasur lipat untuk anak-anaknya gunakan.


Nala kembali dan meminta Zia dan Zio untuk membenahi mainannya. "Zia, Zio. Mainannya di kembalikan ke wadahnya ya. Ayo, Mommy bantu. Setelah ini, kalian harus tidur siang," bisik Nala pelan agar tidak mengganggu tidur Reigha. Zia dan Zio mengangguk patuh.


Setelah mainan rapi, Nala menata dua bantal untuk Zia dan Zio. Nala tidur di tengah-tengah Zia dan Zio dengan posisi telentang.

__ADS_1


Nala memakai selimut terlebih dahulu kemudian, merentangkan dua tangannya untuk dijadikan bantalan kepala anak-anak.


"Tidur, Sayang," ucap Nala lembut yang membuat Zia dan Zio memejamkan mata. Menjemput alam mimpi menyusul ayahnya. Tanpa terasa, mata Nala semakin berat. Belum lagi suara hujan di luar membuat Nala merasa nyaman dan mengantuk. Akhirnya, Nala tertidur menyusul anak-anaknya menggapai alam mimpi.


.


Yuna dan Rani akan berpamitan terlebih dahulu pada atasannya untuk pergi ke suatu tempat dimana mereka harus mendekor untuk sebuah acara perpisahan dan wisuda.


Keduanya berjalan menapaki anak tangga satu-persatu hingga sampai di lantai dua. Dari tempatnya berdiri, dua gadis itu bisa melihat pintu ruangan yang sedikit terbuka. Hal itu tentu bisa membuat Yuan dan Rani tersenyum senang.


"Sumpah! Aku kira pintunya akan tertutup rapat. Kalau begini kan, kita bisa memastikan keadaan. Jangan sampai kita datang di waktu yang tidak tepat," ucap Yuna lirih hampir terdengar seperti bisikan.


Rani mengangguk membenarkan. "Kita bisa cek dulu kan ya," jawab Rani menyetujui. Keduanya saling lempar pandang untuk sesaat. Lalu, keduanya mengangguk bersamaan dan berjalan kembali mendekati pintu.


Beruntung, pintu itu bila di buka tidak menimbulkan suara. Betapa terkejutnya Yuna dan Rani saat melihat semua orang tengah tertidur dengan pulas.


Rani tampak berpikir untuk mencari jalan keluar. "Kita tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja. Bagaimana jika ada klien dan tidak ada seorang pun yang menyambutnya?" gumam Rani lirih yang tangannya kini bergerak untuk menutup pintu pelan.


"Ya sudah. Berarti ada salah satu dari kita yang tinggal. Kalau mau membangunkan Bu Nala, bisa-bisa semua ikut bangun," ucap Yuna pada akhirnya.


Rani mengangguk. "Kamu tidak masalah kan kalau aku yang tetap disini untuk menjaga kantor?" tanya Rani yang kini sudah tak lagi merendahkan suara. karena saat ini, mereka sudah berada di lantai bawah.


Yuna mengangguk setuju. "Aku setuju saja," ucap Yuna sambil mengulas senyumnya.


.


Reigha mengerjap saat mendengar suara ribut di depan ruangan. Suara ribut dengan nada bicara berbisik-bisik nyatanya mampu Reigha dengar. Belum lagi kini pintu ruangan yang sudah tertutup rapat. Tentunya Reigha mendengar barusan.

__ADS_1


Reigha sudah tak lagi menemukan Nala yang duduk di sampingnya. Reigha bangkit lalu pandangannya mengedar panik, mengira jika dia ditinggal sendirian.


Namun, dugaan Reigha salah saat matanya menangkap keberadaan anak-anak dan Nala yang kini sedang tertidur pulas di lantai. Reigha terenyuh. Tidak menyangka anak-anaknya mau tidur di bawah seperti itu.


Entah mengapa, mata Reigha mulai memanas dan cairan bening mulai mengumpul di pelupuk mata.


'Dulu aku memang tidak tahu diuntung. Bisa-bisanya aku meninggalkan berlian hanya demi batu kali,' batin Reigha menyesal.


Perut yang semula sakit, kini sudah mereda dan lebih nyaman dirasa. Reigha tersenyum. Ini semua karena perhatian Nala. Reigha beranjak dari sofa untuk mendekati anak-anaknya dan Nala.


Reigha memilih duduk di sisi Zio yang kini tampak pulas. Reigha pandangi satu-persatu orang-orang yang sangat disayangi. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat Nala yang sedang tidur dan masih saja terlihat cantik.


Tiba-tiba, pikiran kotor melintas di kepala. Reigha menggeleng untuk mengusir pikiran dari setan tersebut. Merasa sedang diperhatikan, Reigha melihat mata Nala yang menggerjap.


Mata indah itu mulai terbuka dan menangkap basah mata yang kini sedang menatap ke arahnya. Nala bangkit dengan tergesa-gesa. Merasa tidak nyaman diperhatikan dalam keadaan tidur seperti ini.


"Kamu seperti tidak ada pekerjaan saja," kesal Nala ketus.


Reigha terkekeh pelan kemudian bangkit dari sana. "Kamu cantik," puji Reigha tulus.


Nala memutar bola matanya jengah. "Bagaimana? Apakah perutnya masih sakit?" tanya Nala yang kini mulai beranjak dari karpet bulu tersebut, membiarkan anak-anaknya tetap tertidur pulas.


"Sudah. Mungkin karena yang merawat aku itu kamu. Tangan kamu memang ajaib dan bisa menyembuhkan sakitku," jawab Reigha sambil tersenyum manis. Dia sudah duduk di sofa kembali.


Nala sengaja menguap lebar dan pura-pura tidak mendengar ucapan Reigha. "Makan dulu, Mas," pinta Nala yang kini sudah membawa nasi dan ayam ke meja di hadapan Reigha.


"Kamu tidak makan?" tanya Reigha heran.

__ADS_1


"Maulah. Aku juga lapar bukan Mas Reigha saja," ketus Nala Kemudian keluar ruangan untuk mencuci tangan.


__ADS_2