Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 127. Terima!


__ADS_3

Keterkejutan Anjani belum selesai sampai disitu saja. Ternyata, Nanta juga menyewa seorang pemain biola untuk bermain di dekat mejanya. Instrumen lagu Sang Dewi mengalun merdu saat biola itu digesek.


Anjani menutup mulutnya takjub. Matanya sudah berkaca-kaca. Nanta telah menyiapkan semuanya dengan sangat baik. Anjani terkejut sekaligus takjub secara bersamaan.


Nanta tersenyum sendu menatap wajah Anjani yang terlihat begitu bahagia atas kejutan yang dibuatnya. Hingga ada salah satu pramusaji yang menghampiri mejanya dengan membawa sebuket bunga mawar merah.


Mungkin Anjani tidak menyadari jika saat ini Nanta tengah memegang buket bunga. Karena gadis itu terlalu fokus dengan pertunjukan yang sedang berlangsung.


Hingga biola itu selesai mengalun, Nanta menekuk lutut di hadapan Anjani dengan menyodokkan buket bunga barusan.


"Anjani?" panggil Nanta sangat lembut.


Tidak ada jawaban namun tatapan mata gadis itu menatap lekat dirinya. Jadi, Nanta memilih untuk kembali melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak tahu kapan pastinya aku memiliki rasa ini. Mungkin kamu menganggap semua terlalu cepat. Tetapi, Kita tidak bisa mencegah kapan cinta itu datang dan pada siapa kita akan jatuh cinta," ucap Nanta tulus.


"Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Sudah hampir dua Minggu ini aku mencoba berpikir mungkin aku hanya butuh pelampiasan. Namun ternyata saat aku melihat kemarin berjalan bersama seorang laki-laki, aku tidak rela," imbuh Nanta lagi.


Anjani mengulum senyum. Laki-laki kemarin hanyalah teman kantornya. "Dia hanya teman kantorku, Nan," jelas Anjani tidak ingin membuat Nanta salah paham.


Nanta mengangguk paham lalu kembali berucap. "Walau dulu status kita hanya sekedarnya kekasih pura-pura, bisakah kita naik tahta menjadi kekasih sungguhan?" tanyanya yang tidak langsung mendapat jawaban dari Anjani.


Gadis itu justru membeku di tempat. Hingga ada suara dari beberapa pengunjung kafe yang menyaksikan aksi Nanta menyatakan perasaan.


"Terima!"


"Terima!"


"Terima!"


Anjani menunduk malu dengan pipi yang sudah semerah kepiting rebus.


"Jadi bagaimana? Maukah kamu mengarungi dunia bersamaku?" tanya Nanta lagi karena Anjani masih diam.

__ADS_1


"Njan? Buruan! Kakiku sudah pegal karena sejak tadi tertekuk." Ucapan Nanta itu membuat Anjani ingin sekali menyemburkan tawa. Pada akhirnya, Anjani mengangguk pelan sebagai jawaban.


Tepuk tangan meriah dan suara riuh-riak pengunjung mengisi kafe tersebut. Nanta tersenyum bahagia dan refleks berdiri lalu memeluk tubuh Anjani. Gadis dalam dekapannya itu telah menjadi miliknya.


Namun, itu belum apa-apa. Nanta harus segera meresmikan hubungan dengan meminta restu pada orang tua. Itu yang lebih penting dari segalanya.


"Terimakasih, Njan. Terima kasih karena sudah menerimaku. Satu yang harus kamu tahu, aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Mungkin setelah ini, aku ingin hubungan kita naik satu tingkat lagi seperti bertunangan—"


"Nanta! Kita baru saja menjadi sepasang kekasih dan kamu ingin langsung bertunangan?" kesal Anjani karena menurutnya, Nanta terlalu terburu-buru.


Gelak tawa bahagia sudah tak terelakan lagi. "Kita bahas lagi nanti ya, Sayang. Kita harus mengisi perut terlebih dahulu," ucap Nanta pada akhirnya.


Setelah makan malam, Nanta mengantar Anjani pulang. Dia sudah berjanji untuk mengantar Anjani sebelum pukul sepuluh malam. Nanta masih mempunyai satu jam yang pastinya akan habis di perjalanan.


Sebenarnya, Nanta tidak ingin berpisah malam ini. Rasanya selalu ingin berada di dekat gadis yang saat ini telah resmi menjadi kekasihnya.


"Njan?" panggil Nanta melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir.


"Kamu ... Apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama? Em ... maksudku, apakah kamu juga menaruh cinta untukku?" tanya Nanta terbata-bata.


Anjani memicingkan mata untuk menatap Nanta. Mengapa laki-laki di sebelahnya bertanya tentang perasaan yang jelas-jelas sudah terlihat nyata? Jika tidak mencintai Nanta, untuk apa Anjani menerima Nanta?


"Kamu pikir aku terima kamu sebagai kekasih, karena apa?" Anjani justru balik bertanya dan hal itu membuat Nanta menepikan mobilnya seketika.


"Kenapa berhenti sih?" tanya Anjani tidak habis pikir.


Nanta tidak langsung menjawab karena sibuk untuk merubah posisi duduk menghadap gadis yang dicintainya. "Coba katakan saja jika kamu mencintaiku. Aku ingin mendengarnya langsung," rengek Nanta berubah manja.


Anjani terkekeh geli. "Apa-apaan sih. Jangan aneh-aneh deh, Nan. Aku malu!" Setelah mengatakan itu, Anjani menutup wajah dengan telapak tangannya.


Nanta terkekeh senang. "Kamu malu-malu kucing. Tapi aku suka itu," ujar Nanta lagi yang semakin membuat pipi Anjani merona.


"Coba katakan. Aku sudah mengatakannya tadi. Saat ini, aku ingin mendengarnya langsung jika kamu juga mencintai ku," pinta Nanta lagi.

__ADS_1


Anjani melipat bibirnya ke dalam. Merasa gugup mengutarakan isi hatinya pada sang pujaan. "Aku malu, Nan," ucapnya sambil tersipu. Kepalanya menunduk malu-malu.


"Kalau begitu, angkat wajahmu dan tatap mataku. Kamu akan dengan mudah melakukannya."


Bagai sebuah hipnotis, Anjani melakukan apa yang dikatakan oleh Nanta. Dia menatap laki-laki di hadapannya dengan lekat. Jantungnya seketika berdebar-debar menyenangkan.


"Aku mencintaimu, Nanta," ucap Anjani lembut.


Nanta mengunci pandangannya dengan Anjani. Mata teduh dengan iris coklat jernih itu selalu berhasil menenggelamkan Nanta ke dalam lautan cinta.


"Katakan sekali lagi, Njan. Aku bahagia saat mendengarnya," ucapnya lembut dengan tangannya yang bergerak menyingkirkan anak rambut milik Anjani. Menyelipkannya di belakang telinga.


Hal itu sontak membuat Anjani menutup mata. Merasakan jemari Nanta yang bergesekan dengan daun telinganya.


"Njan?" panggil Nanta dan Anjani membuka mata. Kembali menatap wajah Laki-laki di hadapannya.


Perlahan tapi pasti, Nanta mengikis jarak hingga wajah keduanya sangat dekat. Keduanya sampai bisa merasakan hembusan napas dari mereka masing-masing.


"Boleh kan?" tanya Nanta memastikan.


Anjani mengangguk ragu dan Nanta tersenyum untuk itu. ibu jari Nanta bergerak menyentuh bibir Anjani dan mengelusnya lembut di sana.


Setelah itu, Nanta menempelkan bibirnya pada bibir Anjani lalu menyesapnya lembut. Sesapan demi sesapan seakan terasa kurang bagi Nanta.


Bibir itu terasa begitu manis untuk dirasakan. Anjani pun bergerak membalas ciuman itu. Hingga tangan Nanta merayap dan ingin menyelinap melewati bawah dress-nya, saat itu juga kesadaran Nanta kembali.


Stop, Nan! Jangan terlalu jauh atau kamu akan menyesal! batin Nanta memperingatkan diri sendiri.


Nanta menarik kembali tangannya dan melepas ciuman itu dengan lembut. "Maaf jika aku sudah kelewatan. Sebaiknya kita sudahi atau aku bisa bertindak lebih gila lagi," ucap Nanta disertai kekehan tengilnya.


Hal itu cukup menghangatkan suasana yang mendadak kikuk. Anjani mengangguk menyetujui. Dia juga bersyukur karena Nanta mampu menjaga batasannya.


"Terima kasih karena telah menghargai ku," ucap Anjani dengan senyum simpulnya. Merasa beruntung memiliki seseorang yang mungkin akan selalu melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2