
Reigha tidak benar-benar pulang melainkan menghentikan mobilnya di sebuah tempat parkir yang dekat dengan jalan tol menuju ibu kota. Setelah mobil berhenti, Reigha mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang untuk menemuinya.
Tut. Tut. Tut.
Tepat di dering ketiga, panggilannya dijawab dari seberang sana.
'Halo?'
"Temui aku di jalan kenangan sekarang. Kita harus bersaing secara sehat," ucap Reigha langsung pada intinya.
Reigha bisa mendengar kekehan mengejek dari seberang sana.
'Baiklah. Kebetulan juga aku baru selesai makan bersama Nala dan keluarganya,' ucap Dandy di seberang sana bermaksud memanas-manasi.
Reigha menggeram kesal. Dirinya memang bodoh karena sudah di tikung oleh seseorang bernama teman. "Cepatlah!" ucap Reigha kemudian menutup panggilan tanpa repot-repot menunggu jawaban Dandy.
Reigha memukul gagang setir dengan kencang untuk meluapkan kekesalannya pada sahabat yang hari ini sudah Reigha anggap sebagai rivalnya.
Setengah jam menunggu, Reigha bisa melihat dari kaca spion jika mobil Dandy kini sedang melaju mendekati mobilnya. Reigha menghembuskan napasnya kasar sebelum keluar dari mobil.
Setelah mobil Dandy terparkir di belakang mobilnya, baru Reigha mendekati mobil itu. "Kita duduk disana saja," ucap Reigha datar sambil menunjuk kafe shop yang mulai ramai oleh pengunjung.
Dandy mengangkat bahunya acuh dan menurut saja dengan keinginan Reigha. Dandy sadar, dia harus menjelaskan semuanya sedetail-detailnya.
Sesampainya di dalam dan duduk di salah satu meja yang tersedia, Reigha menyempatkan diri memesan kopi yang sudah biasa keduanya pesan.
Dandy hanya menurut dan duduk dengan tenang di kursinya. Setelah pelayan pergi dari hadapan, Reigha baru memulai pembicaraan.
"Sejak kapan kamu mendekati Nala?" tanya Reigha langsung pada intinya.
Dandy tersenyum jumawa dan itu terlihat begitu menyebalkan di pandangan Reigha.
"Sekitar tiga tahun yang lalu," jawab Dandy tanpa beban.
Reigha semakin mengeraskan rahang. "Kamu sudah berkhianat dalam hubungan persahabatan kita," geram Reigha dengan hidung yang sudah kembang kempis menahan amarah.
Dandy menggeleng. "Aku tidak berkhianat. Semua adil dalam perang dan cinta. Aku tidak pernah mengkhianatimu karena Nala saat ini bukanlah milik siapa-siapa. Bukan milikku apalagi milikmu," jawab Dandy santai dengan tangan yang terlipat di depan dada.
__ADS_1
Reigha menghela napas kasar. Ucapan Dandy memang tidak salah. Nala saat ini adalah wanita lajang yang berstatus janda karena dirinya.
"Tetapi, bukankah kamu sudah tahu jika aku masih mengharapkan Nala?" tanya Reigha tidak terima.
Dandy mengangguk-angguk kepala tanda paham. "Aku tahu. Tetapi aku juga berhak maju bukan? Jadi, apapun keputusan Nala nantinya, harusnya kita bisa menerima. Entah itu bersama dengan salah satu di antara kita atau ... Memilih hidup bersama laki-laki lain yang lebih segalanya," jawab Dandy yang membuat Reigha bungkam.
Dandy tertawa pelan. "Kenapa diam? Bukankah ucapanku benar? Biarkan Nala memilih apa yang dia inginkan tanpa perlu kita ikut campur dan memaksakan kehendak," sambung Dandy lagi.
Dan dari pertemuan itu, Reigha menjadi tahu akan satu hal. Yaitu, cinta Dandy yang begitu tulus pada Nala. Tidak ada obsesi di dalamnya karena Dandy tidak pernah memaksa Nala. Padahal, hal seperti itu bisa saja Dandy lakukan. Apalagi saat itu Nala sedang dalam masa kekosongan.
Layaknya jiwa yang sedang kosong akan mudah di masuki dan kerasukan.
Sedangkan di tempat lain, Nala duduk termenung memikirkan ucapan Dandy tadi sore yang snst mengganggu pikirannya.
Sebenarnya, Nala sudah mempunyai sedikit rasa pada laki-laki baik hati itu. Hanya saja, setelah mendapatkan penolakan yang cukup menyakiti hati dari mamanya Dandy, Nala berpikir bahwa rasa yang sedang tumbuh itu harus mati kembali.
Nyatanya, Nala masih saja terganggu. Bisakah hati mencintai dua orang secara bersamaan? Nala menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran bahwa dirinya masih mencintai Reigha.
Hal itu seharusnya tidak terjadi mengingat bagaimana dulu dirinya diperlakukan dan disia-siakan. Nala menghembuskan napasnya kasar untuk menghilangkan kebimbangan yang saat ini mendera hatinya.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Nala memaksa langkahnya menuju ruangan di samping kamarnya, yaitu kamar milik Zia dan Zio.
Ceklek.
Nala membuka pintu itu perlahan dan melihat dua anaknya masih berkutat dengan mainan yang dibelikan oleh Daddy-nya.
"Zia? Zio? Kok kalian belum tidur?" tanya Nala lembut kemudian mendekati Zia terlebih dahulu yang jangkauannya lebih dekat.
Nala menatap Zia yang begitu asik memainkan Barbie berambut panjang dengan gaun yang sangat indah. "Bagus kan, Mom? Ini Zia pilih sendiri loh," ucap Zia antusias sambil menunjukan mainan barunya.
Nala tersenyum lalu mengangguk. "Bagus sekali. Zia suka?" tanya Nala sambil mengelus rambut Zia lembut.
Anak perempuannya mengangguk antusias. "Daddy sangat perhatian pada kami. Zia sayang Daddy," ucap Zia tulus.
Nala tersenyum sendu mendengar ucapan Zia. "Iya, kamu harus sayang dengan Daddy-mu," jawab Nala.
"Kalau Mommy, sayang tidak dengan Daddy?" tanya Zia yang membuat Nala diam seribu bahasa. Sebelum Nala menjawab dengan kebohongan, beruntungnya Zio sudah bersuara dan itu berhasil mengalihkan perhatian Zia.
__ADS_1
"Aku juga sayang dengan Daddy. Lain kali aku mau kalau Daddy mengajak kita jalan-jalan ke mall. Aku mau meminta mainan lagi," ucap Zio sambil mengangkat tinggi-tinggi mainan robot yang baru saja dibelinya.
"Aku juga mau dong. Kita harus ajak Daddy lagi untuk membeli mainan," sahut Zia antusias.
Nala tersenyum lega karena telah lolos dari pertanyaan di Zia yang begitu menjebaknya.
"Sudah. Yang terpenting, kalian harus tidur dulu ya?" pinta Nala lembut.
"Baiklah, Mom," jawab Zia dan Zio hampir bersamaan.
"Ayo, kalian berbaring di sisi Mommy," pinta Nala yang saat ini sudah berbaring di tengah-tengah ranjang. Zia dan Zio langsung berteriak bahagia.
"Hore!" "Yeay!"
"Bacakan cerita tentang legenda di tanah Jawa ya, Mom? Aku ingin mendengar cerita yang lainnya juga," ucap Zio yang saat ini sudah berbaring di sebelah Nala dengan kepala bertumpu pada lengan Nala.
"Iya, aku juga mau, Mom," sahut Zia tidak mau kalah.
"Baiklah. Mommy akan menceritakannya pada kalian," jawab Nala pada akhirnya yang membuat dua anaknya mulai memejamkan mata dengan senyum tulus yang terukir.
Akhirnya, Nala menceritakan cerita legenda tentang Raden Kian Santang pada anak-anaknya. Tidak butuh lama, Zia dan Zio akhirnya terlelap. Nala mengecup kening kedua anaknya dengan sayang.
Ada rasa tidak tega ketika melihat dua anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Tetapi, Nala berjanji untuk menjadi ibu dan ayah sekaligus untuk keduanya. Akan Nala pastikan bahwa Zia dan Zio tidak akan kekurangan kasih sayang.
Nala menatap wajah kedua anaknya yang kini begitu damai. Mata Nala berkaca-kaca ketika mengingat kesalahannya dulu yang selalu saja meluapkan kekesalan pada Zia dan Zio.
Padahal, dua anaknya tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah sama sekali. Ibunya selalu mengatakan semua itu karena efek baby blues.
"Maafkan Mommy yang dulu ya, Sayang. Mommy terlalu jahat pada kalian berdua," gumam Nala diikuti lelehan bening yang mengalir dari sudut matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungan dengan cara like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian 😍...
...mampir kesini juga yuk 👇...
__ADS_1