
Pagi kembali menyapa membangunkan penduduk bumi yang masih bergelung di balik selimut. Dandy sudah keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri.
Hari ini dia akan meminta restu ibunya untuk mempersunting Nala. Reigha telah kembali dan besar kemungkinan Nala juga akan kembali pada mantan suaminya itu.
Dandy tidak ingin itu terjadi karena sejak dulu dirinyalah yang selalu ada untuk Nala, bukan Reigha.
Setelah memakai kemeja kerja dan celana bahan yang memiliki warna senada, Dandy menyisir rambutnya terlebih dahulu dan menyemprotkan parfum maskulin miliknya.
Setelah selesai, dia bergegas menuju meja makan dimana sang mama pasti sudah menunggu untuk melakukan sarapan bersama. Dia sempat mengambil amplop berwarna coklat di atas nakas.
"Selamat pagi, Ma," sapa Dandy ramah sambil mengulas senyumnya.
"Selamat pagi, Dandy," jawab bu Dian balas tersenyum.
Setelah mendudukkan diri, menatap mamanya yang kini sedang sibuk mengambilkan nasi beserta lauk untuk dirinya makan.
"Terima kasih, Ma," ucap Dandy menatap mamanya lekat.
Bu Dian hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ma?" Dandy memanggil wanita yang sudah melahirkannya dengan lembut. Bu Dian yang akan menyendokkan nasi ke mulut seketika gerakannya terhenti mendengar suara Dandy yang tidak biasanya.
"Ada apa? Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya bu Dian mengalihkan semua perhatian pada putra semata wayangnya.
Dandy segera mengeluarkan amplop yang tadi dibawanya dari kamar. Bu Dian mengerutkan alisnya. "Apa ini, Dan?" tanyanya bingung.
"Buka saja, Ma. Semoga setelah ini Mama mau mempertimbangkan tentang aku yang ingin mempersunting Nala," pinta Dandy lembut.
Mendengar nama wanita itu disebutkan lagi membuat bu Dian mendengkus sebal. "Kenapa harus dia sih, Dan? Kamu masih bujang dan muda. Tidak sepantasnya kamu dapat janda," ketus bu Dian dengan tangannya yang sibuk membuka amplop yang diulurkan Dandy barusan.
"Dandy! Kamu tidak bercanda kan!" pekik bu Dian terkejut sampai menutup mulutnya sendiri.
"Untuk apa aku bercanda untuk hal seperti itu, Ma? Tidak ada gunanya. Aku mohon, Ma ... Beri aku kesempatan untuk mempersunting Nala. Aku ingin merasakan hidup berkeluarga bersama seorang yang Dandy cintai," ucap Dandy sarat akan permohonan.
Bu Dian menatap Dandy dengan mata yang berkaca-kaca. "Sudah sejak kapan, Dan? Mengapa kamu baru memberitahu Mama?" tanya bu Dian menggelengkan kepala, mencoba menepis kenyataan dan mengatakan pada diri bahwa semua hanyalah mimpi.
"Tiga bulan yang lalu," jawab Dandy sambil tersenyum seakan apa yang dialaminya bukanlah masalah besar.
__ADS_1
Bu Dian mengangguk-angguk kepala tanda paham. Beliau menarik dan menghembuskan napas beberapa kali sebelum kembali bersuara.
"Baiklah. Kapan kamu ingin melamar Nala?" tanya bu Dian pada akhirnya harus menyingkirkan gengsi dan egois yang hinggap.
Dandy tersenyum haru. "Aku akan mengatakannya pada Nala terlebih dahulu tentang rencanaku yang ingin melamarnya. Aku akan ajak Nala menemui Mama terlebih dahulu agar Mama tahu bagaimana sifat dan sikap Nala yang sebenarnya. Aku yakin, lama-lama Mama akan menyukainya," jelas Dandy panjang lebar, merasa sangat bahagia atas restu yang sudah mamanya berikan.
Bu Dian menatap sendu dengan mata berkaca-kaca pada Dandy. Anaknya begitu bahagia saat menceritakan wanita bernama Nala yang pernah dia kenalkan padanya.
"Iya. Kamu atur saja semuanya. Mama ikut kamu yang terpenting adalah, kamu bahagia," jawab bu Dian sambil menyeka air mata yang kini mulai merembes di pipi.
..................
Hari ini adalah hari tersibuk untuk Nala karena dia harus membeli banyak barang untuk keperluan usahanya. Ada perabot, alat make-up, dan segala sesuatu yang dibutuhkan di gedung yang akan menjadi tempat Nala mengais rezeki demi dua bocah kembarnya.
Tidak ada yang menemani karena Nanta sedang sibuk mengurus bisnis loundry milik ibunya yang berada di Bandung. Ya, Nanta-lah yang meneruskan bisnis yang dijalani ibunya.
Sedangkan Zia dan Zio, dua anak itu Nala titipkan pada bu Laras untuk menjaganya. Nala tidak mungkin membawa Zia dan Zio selama belanja perabot kali ini. Pasti akan sangat merepotkan mengingat bagaimana aktifnya anak-anaknya.
"Semua jadi berapa, Mbak?" tanya Nala saat sudah berada di meja kasir.
Nala segera mengeluarkan black card yang dia buat atas miliknya. Sungguh, Nala merasa bangga apda dirinya yang sudah berjuang selama dan sekuat ini. Nala yakin, Tuhan akan membantunya membangun usaha yang tujuannya untuk menghidupi anak-anaknya.
"Silahkan masukkan kata sandi dulu ya, Bu," ucap Mbak kasir lagi yang segera dilaksanakan oleh Nala.
"Sudah selesai ya, Bu. Terima kasih sudah berbelanja disini," ucap Mbak kasir sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Nala mengangguk ramah. "Sama-sama."
Semua perabot yang baru dibelinya akan diangkut oleh mobil pick up yang memang sudah disediakan dari toko tersebut.
"Ini diantar ke alamat yang mana, Bu?" tanya sopir yang akan membawakan barang-barangnya.
"Oh iya. Ini, Pak," jawab Nala sambil mengeluarkan alamat yang sudah dicatat Nala di secarik kertas.
Setelah selesai mengurus pengiriman, Nala kini kembali menaiki motornya ke pusat perbelanjaan terbesar di kota Bogor untuk membeli beberapa alat make up.
Saat Nala akan menjalankan motornya, tiba-tiba ponselnya berdering panjang menandakan ada panggilan masuk. Terpaksa Nala mengurungkan niat dan menurunkan standarnya lagi.
__ADS_1
Nama Dandy tertera di layar ponselnya. Nala tersenyum tipis kemudian menggeser ikon hijau yang bergerak-gerak.
"Halo? Ada apa, Mas?" tanya Nala ramah.
"Kangen." Jawaban Dandy berhasil membuat pipi Nala merona.
"Jangan bercanda deh, Mas. Buruan! Aku harus ke satu tempat lagi untuk mencari alat riasnya," ucap Nala tidak sabaran.
Nala bisa mendengar kekehan renyah dari seberang sana. "Kamu pulang dulu dong, aku sudah di rumah Ibu ini. Aku akan antar kamu berbelanja agar kamu tidak bosan saat aku temani," jawab Dandy di seberang sana yang membuat Nala tergelak renyah.
"Kamu ada-ada saja. Baiklah, aku akan pulang dulu," putus Nala pada akhirnya.
Pada akhirnya, Nala memutar motor berbalik arah menuju rumah untuk menemui Dandy terlebih dahulu.
Tidak berapa lama, Nala akhirnya sampai dan memarkirkan motor di pekarangan rumah. Senyum Dandy dan dua anaknya sudah menyambut kedatangan Nala.
Nala balas tersenyum dan dua anaknya berlarian menghampiri bersama Dandy yang berjalan di belakangnya.
"Mommy! Uncle Dandy bilang, kita akan jalan-jalan ke mall!" teriak Zia antusias.
"Iya Mommy! Aku mau beli mainan lagi!" Kini giliran Zio yang berteriak antusias.
Nala geleng-geleng kepala kemudian tatapannya tertuju pada Dandy yang saat ini juga sedang menatapnya dengan senyum yang begitu menawan.
Tampan. ucap Nala dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa komennya ya😍...
...mampir juga kesini yuk 👇...
...
...
__ADS_1