
"Kamu sehat kan, Ga?" tanya pak Prabu sambil menyentuh kening Reigha. Beliau dan bu Nilam sudah sampai di apartemen milik putranya tepat pukul satu siang.
Reigha segera menyingkirkan punggung tangan sang Papa yang bertengger di keningnya. Dia mendengkus pelan karena lagi-lagi pak Prabu tidak percaya dengan ucapannya. "Aku sehat dan sangat sehat, Pa. Apa yang membuat Papa bertanya seperti itu?" kesal Reigha dengan bibir yang memberenggut.
Bu Nilam tertawa. "Kami belum percaya saja jika Nala mau kembali padamu. Ini bukan rekayasa kamu kan?" Kini giliran sang ibu yang meragukan kemampuan Reigha.
Reigha hanya bisa geleng-geleng kepala. Dirinya sudah dianggap gila karena mengaku Nala bersedia menikah lagi dengan dirinya.
"Mama sama Papa harusnya tenang saja. Untuk apa aku menelepon kalian datang kesini kalau aku hanya halusinasi? Yang terpenting sekarang adalah, Mama dan Papa belum membeli buah tangan untuk keluarga Nala dan harus segera membelinya," ucap Reigha mengingatkan.
Bu Nilam sontak menepuk jidatnya. "Tapi kamu benar-benar di terima kan, sama Nala?" tanya bu Nilam memastikan sekali lagi.
Reigha menghembuskan napasnya pelan. "Apa perlu aku telepon Nala dulu? Daripada kalian meragukan anak sendiri?" tawar Reigha. Bu Nilam dan pak Prabu saling lempar pandang. Kemudian, pandangan keduanya kembali menatap Reigha dan mengangguk bersamaan.
Reigha segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur. Dia segerw mencari nama Nala dan menghubunginya.
Tut. Tut. Tut.
"Hallo? Kenapa, Mas? Kok telepon?" tanya Nala di seberang sana. Bu Nilam dan pak Prabu yang mendengar suara Nala, mengangguk senang.
"Disini ada mama dan papa nih. Mereka masih belum percaya jika kemarin Tante Laras menyuruhku untuk datang bersama mereka. Coba kamu katakan, kamu mencintaiku kan?" ucap Reigha dengan pandangan mata menatap orangtuanya.
"Mas! Apa aku harus—"
"Katakan saja, Nala. Biar Mama dan Papa percaya," sela bu Nilam dengan suara yang sedikit berteriak.
__ADS_1
Tidak ada suara di seberang sana hingga membuat Reigha merasa diabaikan. "Nala? Katakan," pinta Reigha lembut.
"Iya, Ma. Aku sudah menerima Mas Reigha kembali dan ibu menyuruh Mama dan Papa untuk datang jika tidak ingin Nala dijodohkan dengan pria lain," ucap Nala kemudian panggilan di putus sepihak darinya.
"Tuh, Ma. Kalian sudah mendengarnya langsung kan?" ucap Reigha jumawa.
......................
Nala menutup panggilan seiring dengan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Bisa-bisanya Reigha menyuruh dirinya untuk menjelaskan. Padahal, harusnya Reigha bisa menjelaskannya sendiri. Huh. Nala tidak habis pikir dengan pria itu.
Di sekitarnya ada Zia dan Zio yang sedang bermain Lego hadiah dari sang Daddy. Keduanya seperti memperhatikan apa yang sedang Nala lakukan.
"Mommy kenapa? Itu suara Daddy kan?" tanya Zia penasaran. Anak perempuannya memang banyak bicara dan terkesan cerewet. Sangat berbeda dengan sang Putra yang lebih banyak diam namun begitu memperhatikan apa yang Zia tanyakan.
"Nanti malam Daddy akan datang ke rumah bersama Oma dan Opa," jawab Nala tidak sepenuhnya berbohong.
"Apa Mommy selalu berbohong pada kalian? Bukankah Mommy tidak pernah berbohong?" jawab Nala yang justru balik bertanya.
Zia dan Zio kompak menggeleng. "Jadi, kalian harus percaya," ucap Nala pada akhirnya yang membuat Zia dan Zio mengangguk patuh.
"Memangnya dalam rangka apa, Mom?" tanya Zio dengan alis yang bertaut bingung.
Dua bola mata Nala tertarik ke atas dengan jari telunjuk yang menyentuh dagu. Dia sedang mencari kalimat yang bisa di mengerti oleh anak usia empat tahun. Setelah dapat, Nala kembali menatap dua buah hatinya.
"Kalian mau tidur satu kamar dengan Mommy dan Daddy kan?" tanya Nala dengan alis naik-turun.
__ADS_1
Zia dan Zio mengangguk bersamaan. "Tentu, Mom. Kami ingin tidur bersama Mommy dan Daddy," jawab Zia dengan wajah polosnya.
Nala tersenyum lalu memeluk tubuh kedua anaknya. "Nah, Mommy dan Daddy sedang mengusahakan itu. Tidak lama lagi, kita akan tidur di satu kamar yang sama," jelas Nala yang membuat Zia dan Zio menatap bingung ke arahnya.
"Memang, apa hubungannya dengan kedatangan Opa, Oma, dan Daddy ke rumah?" tanya Zia sambil mendongak menatap ibunya. Tangan kecilnya seperti enggan terlepas memeluk salah satu sisi pinggang sang Ibu.
Nala menghela napas pelan. Sulit sekali menjelaskannya. "Kalian tahu menikah kan?" tanya Nala lagi belum menyerah.
Zia dan Zio kembali menggangguk paham. "Mommy dan Daddy akan menikah kembali? Begitu?" tanya Zia dengan cerdasnya.
Nala membulatkan matanya sempurna. "Tepat sekali. Kalian memang sangat cerdas," jawab Nala memuji.
"Ya sudah. Mommy akan bantu Oma untuk masak terlebih dahulu ya? Nanti malam, kalian ingin makan malam bersama kan?" tanya Nala dan lagi-lagi Zia dan Zio mengangguk.
"Kalian jangan bertengkar. Kalian harus akur dan saling menyayangi. Mommy tinggal sebentar ya," pamit Nala kemudian mengecup pipi dua anaknya secara bergantian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya. ...
...terima kasih untuk kalian semua yang masih support karyaku😍 lup untuk kalian semua😍...
...sambil menunggu update, mampir juga kesini yuk😊👇...
...
__ADS_1
...