Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 43. Cantik seperti bidadari


__ADS_3

Nala begitu tegang saat mobil yang Dandy kendarai sudah hampir sampai di rumahnya. Dandy sudah mengatakan jika ibunya ingin bertemu Nala. Entah apa maksud bu Dian memanggil Nala untuk datang. Nala hanya berharap, semoga ini bukanlah hal yang buruk.


Sangat berbeda dengan ekspresi Zia dan Zio yang begitu bahagia dan antusias mengunjungi bu Dian. Keduanya tidak tahu saja jika bu Dian tidak menyukai Mommy-nya.


Deg. Deg. Deg.


Jantung Nala seperti beedentum-dentum di dalam sana saat mobil Lexus milik Dandy sudah terparkir di carport. Susah payah Nala menelan saliva untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering. Nala bisa merasakan keringat keluar dari telapak tangannya dan itu terasa dingin.


"Nala?" panggil Dandy lembut yang berhasil membuyarkan pikiran buruk yang sempat hadir di kepala Nala.


"Ya?" jawab Nala cengo.


Dandy terkekeh pelan kemudian mengacak rambut Nala gemas. "Kita sudah sampai," ucap Dandy lagi.


Nala mengangguk membenarkan. "Aku takut, Mas. Bagaimana jika tante Dian mengusirku?" tanya Nala mengungkapkan kegelisahan yang sejak tadi dirasakannya.


Sedangkan Zia dan Zio, mereka sudah turun lebih dulu dengan dibantu pekerja di rumah Dandy.


Dandy menggeleng. "Tidak akan. Ayo turun," ajak Dandy lembut kemudian turun dari mobil diikuti Nala dan berjalan bersisian dengan Dandy. Saat tangan Dandy menggenggam jemari Nala, dia bisa merasakan keringat dingin di telapak tangan Nala.


"Kamu sangat ketakutan ya?" tanya Dandy lagi.


Nala tersenyum canggung lalu mengangguk. "Bagaimanapun, aku masih trauma," jawab Nala dengan nada gugupnya.


Dandy terkekeh pelan dengan kembali mengayunkan langkahnya. "Tenang saja. Mamaku bukan Mak Lampir kok," ucap Dandy berusaha memecahkan ketegangan yang saat Nala rasakan.


"Ish! Jangan samakan mama sendiri dengan Mak Lampir, Mas. Kualat nanti," jawab Nala sambil memukul pelan lengan Dandy.


"Mommy! Uncle! Buruan! Ada Oma yang sudah menunggu Mommy!" teriak Zia yang sepertinya berbalik lagi setelah sejak tadi masuk ke rumah.


"Iya Mommy! Oma Dian sudah menunggu! Lagian Mommy sama Uncle kenapa jalannya lama? Kita saja yang masih kecil cepat kok." Kini giliran Zio uang bersuara, seakan membawakan pesan yang sudah bu Dian kirim untuk Nala.

__ADS_1


"Tuh kan? Mama sudah menunggu kita," ucap Dandy sambil tersenyum manis.


Dandy dan Nala langsung mempercepat langkah untuk menemui ibu dari Dandy. Sedangkan Zia dan Zio, entah kemana perginya dua bocah kembar itu karena sekarang, batang hidungnya sudah tidak terlihat lagi.


Nala bisa melihat bu Dian yang tersenyum menyambut kedatangannya. Nala menggerjap bingung karena di awal perjumpaan, Bu Dian tidak seramah itu.


Nala menoleh pada Dandy dengan alis yang bertaut bingung. "Ayo, kita duduk di dekat, Mama. Sepertinya, ada yang ingin Mama sampaikan untukmu," ajak Dandy sambil menggenggam tangan Nala kembali yang sempat terlepas.


Nala menurut. Kini, mereka sudah duduk bersebrangan dengan Dandy di sebelah Nala. "Apa kabar Tante?" sapa Nala canggung.


Bu Dian tersenyum. "Kabar Tante baik. Kamu pasti bertanya-tanya kan, kenapa Tante mengundangmu ke rumah?" jawab bu Dian sangat berbeda dengan bu Dian yang Nala tahu dulu.


Nala balas tersenyum walau senyuman itu terlihat canggung. "Iya, Tan. Apa aku berbuat kesalahan?" tanya Nala menduga dengan kemungkinan yang terjadi.


Bu Dian menggeleng. "Tidak. Tidak ada yang salah dari apa yang kamu lakukan," jawab Bu Dian kemudian menghembuskan napasnya pelan.


"Justru, Tante ingin meminta maaf karena di perjumpaan kita yang pertama, sikap Tante tidak baik padamu. Tante sudah membuatmu terluka karena perkataan yang keluar dari mulut Tante," ucap bu Dian menyesal.


Walau sedikit sangsi dengan pernyataan maaf bu Dian, Nala tetap mengangguk. "Aku tidak marah kok, Tan. Wajar jika Tante ingin yang terbaik untuk anak Tante. Mungkin, jika anak-anakku besar nanti, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Tante lakukan," jawab Nala berbesar hati.


"Terima kasih karena telah sudi memaafkan kesalahan besar yang Tante perbuat. Oh iya, Zia dan Zio sudah berapa tahun? Mereka sangat lucu dan sopan," tanya bu Dian yang sejak tadi sangat penasaran.


Nala tersenyum manis. Kecanggungan yang sempat dirasa kini melebur entah kemana. "Mereka baru berusia tiga tahun, Tan," jawab Nala ramah.


"Mereka sangat pintar dan menggemaskan. Kamu begitu pandai mendidik anak-anakmu," puji Bu Dian untuk pertama kalinya dan Nala merasa terenyuh. Bu Dian yang biasanya berbicara pedas kini berbalik memujinya.


"Terima kasih, Tan," jawab Nala tersipu.


Dandy yang sejak tadi hanya bertindak sebagai pendengar, mengulum senyum menatap dua wanita yang sangat berarti di hidupnya.


Ya, Dandy sudah bercerita panjang lebar bagaimana sosok Nala di matanya. Nala sangat berbeda dari kebanyakan wanita. Sosok wanita yang begitu kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap masalah yang hadir. Dandy membutuhkan wanita yang seperti itu untuk pendamping hidupnya. Karena dia dia tidak akan tahu sampai kapan dirinya diberi nyawa.

__ADS_1


"Nala?" panggil bu Dian lagi setelah beberapa saat hening.


"Iya, Tan?" jawab Nala cepat.


"Bolehkah jika Tante bermain dengan anak-anakmu? Sudah lama sekali rumah ini tidak dihuni oleh malaikat kecil bernama anak-anak. Jujur, Tante merindukan semua itu," ucap bu Dian sendu dan menyiratkan akan ketulusan dalam setiap ucapannya.


Nala tersenyum lebar lalu mengangguk cepat. "Tentu. Tante bisa bermain bersama mereka," jawab Nala tidak merasa keberatan. Walau dalam hati, Nala begitu khawatir jika bu Dian akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.


Namun, sekuat tenaga Nala mengusir pikiran buruk yang hinggap di kepala. Entah mengapa Nala langsung percaya bahwa Bu Dian bersungguh-sungguh dalam meminta maaf.


Bu Dian beranjak dari kursinya untuk memberikan kesempatan Dandy berbicara dengan Nala. Melihat Zia dan Zio membuat hati bu Dian menghangat.


Sepeninggalan mamanya, Dandy menarik lengan Nala lembut menuju teras belakang rumahnya. Nala melotot tajam hingga bola matanya nyaris keluar.


Saat melewati dapur, ada asisten rumah tangga yang sedang sibuk dengan entah apa. "Bi, tolong buatkan minuman dan bawa ke belakang ya," pinta Dandy lembut.


Asisten rumah tangga itu mengangguk hormat sns tersenyum jahil ke arah Nala dan Dandy. "Pacarnya ya, Mas? Cantik," ucap asisten rumah tangga wanita yang usianya sudah paruh baya.


"Iya, pacarku memang cantik seperti bidadari, Bi," jawab Dandy membenarkan.


Nala mencubit kecil di bagian pinggang Dandy untuk memberikan pelajaran pada pria tampan itu yang kini sudah sbenai terang-terangan menggodanya.


"Aw! Sakit, La!" pekik Dandy kesakitan.


Nala hanya terkekeh pelan kemudian segera berjalan lebih dulu ke teras belakang. Dia ingin menyembunyikan semu merah di pipinya yang tiba-tiba hadir karena gombalan Dandy barusan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa komen dan likenya😍...


...terima kasih yang sudah memberikan dukungan sampai bab ini😘...

__ADS_1


...mampir juga kesini yuk 👇...



__ADS_2