Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 93. Main solo


__ADS_3

Reigha benar-benar merealisasikan keinginan Zia dan Zio untuk tidur bersama. Dua bocah kembar itu sudah terlelap beberapa menit yang lalu. Reigha berada di sisi ranjang sebelah kiri sedangkan Nala berada di sisi ranjang sebelah kanan dengan Zia dan Zio yang berada di tengah-tengah.


Keduanya sama-sama belum terpejam dan masih setia menatap satu sama lain. Beruntung, kasur yang berada di kamar Nala berukuran king size. Jadi, sangat muat untuk empat orang.


"Nala?" panggil Reigha dengan suara rendah.


Nala mengendikkan dagu penuh tanya. "Kenapa?"


Reigha tersenyum. "Sayang sekali hari ini kamu kedatangan tamu," ucap Reigha dengan wajah nelangsanya.


Nala mengerjapkan matanya. "Bukannya kamu bilang tadi sore tidak apa-apa ya? Kenapa sekarang protes?" tanya Nala tidak habis pikir.


Reigha menggeleng. "Bukan begitu. Memangnya, kapan selesainya sih?" tanya Reigha frustasi karena sesuatu di bawah sana seperti terbangun dengan sendirinya saat sedang berhadapan dengan Nala.


"Tidurlah, Mas. Kita bahas besok," ucap Nala cuek kemudian segera memejamkan matanya. Reigha yang melihat itu, hanya bisa menggusah napas kasar kemudian memilih bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Tidak mengapa jika Reigha harus bermain solo kali ini.


Nala yang merasakan pergerakan di ranjang, lalu terdengar suara langkah kaki disusul pintu kamar mandi yang terbuka dan tertutup kembali, membuka matanya perlahan. Suaminya sudah tak lagi berada di tempat tidur.


Nala mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala. Kakinya bergerak turun dari ranjang menuju pintu kamar mandi. Memang hari ini dia tidak bisa melakukannya. Namun, bukan berarti Nala akan menbiarkan Reigha melakukannya sendiri.


Tok. Tok. Tok.


"Mas Reigha? Buka dong?" pinta Nala lirih agar suaranya tidak mengganggu Zia dan Zio yang sudah terlelap.


Ceklek.


"Kenapa? Jangan ganggu dulu aku mau—" Sebelum Reigha benar-benar menyelesaikan kalimatnya, Nala sudah mendorong masuk Reigha lalu mengunci pintu kamar mandi.


"Kenapa? Kamu mau main solo sekarang?" tanya Nala pura-pura merajuk.


Reigha menunduk. "Ya mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa tidur kalau belum melakukannya. Kepala terasa pening," jawab Reigha jujur.


Nala terkekeh. "Aku bantu mau tidak?" tanya Nala dengan senyum manisnya yang membuat wajah Reigha semakin berbinar.


"Serius? Mau, Sayang. Aku mau dibantu," jawab Reigha antusias.


Nala tersenyum lalu mengalungkan tangannya di leher Reigha. Wajahnya mendongak untuk bisa bertemu tatap dengan mata sayu milik suaminya.

__ADS_1


"Pemanasan dulu dong," ucap Nala menggoda.


Sungguh, perut Reigha terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya. Terasa menggelitik ketika mendengar nada suara Nala yang mendayu dan Reigha suka akan hal itu.


"Tentu, Sayang," jawab Reigha yang kini tangannya mulai bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Nala.


Tangan Reigha semakin bergerak ke bawah dan menyentuh pipi Nala lalu mengelusnya di area rahang. Nala memejamkan mata merasakan sentuhan lembut itu. Sentuhan yang sudah lama sekali tidak Nala rasakan.


Kemudian, Nala bisa merasakan tangan Reigha bergerak mengelus bibirnya. Nala bisa merasakan hembusan napas Reigha yang menerpa wajahnya lembut. Setelah itu, Nala bisa merasakam benda kenyal yang menyentuh bibirnya.


Sangat lembut dan tidak ingin terburu-buru. Apalagi, kini Nala merasakan pinggangnya ditarik lembut hingga tubuhnya menempel tanpa jarak dengan Reigha.


"Aku mencintaimu, Nala. Terima kasih karena sudah memberikanku kesempatan kedua," ucap Reigha lembut sela ciumannya.


Setelah itu, Reigha memperdalam ciuman dengan tangan yang sudah berkeliaran kemana-mana. Nala tersenyum kemudian tangannya bergerak seperti apa yang Reigha inginkan.


................


Nala sudah duduk di depan meja rias untuk memakai krim rutinnya. Zia dan Zio baru saja Nala mandikan dan kini, mereka sudah keluar dari kamar menuju lantai dasar dimana semua keluarga berkumpul.


Pintu kamar mandi terbuka dan suaminya keluar dari sana dengan wajah sumringah. "Baju kamu di atas kasur, Mas," ucap Nala sambil matanya fokus menatap pantulan diri di cermin.


"Iya Mommy Sayang," jawab Reigha tersenyum hangat.


Nala menoleh cepat dengan pandangan memicing. "Bahagia sekali? Apa ada sesuatu?" tanya Nala penuh selidik.


Reigha yang telah selesai mengenakan pakaian lengkap, mendekat pada Nala. Tangannya menyentuh kedua bahu Nala lalu menunduk untuk mencuri kecupan di puncak kepala sang Istri.


"Aku bahagia. Pagi ini terasa begitu indah. Ada Zia dan Zio yang membuat suasana pagiku berbeda. Apalagi ada istriku tersayang yang membuat suasana pagiku menjadi panas membara," ucap Reigha sambil mengerling nakal.


Nala memutar bola matanya jengah. Pikiran laki-laki memang tidak jauh-jauh dari masalah yang begituan.


"Semalam, servis kamu luar biasa. Belajar dari mana?" tanya Reigha dengan senyum jahilnya.


"Iya dong. Hari gini tuh harus pandai yang begituan. Kalau tidak, bisa-bisa suami di embat sama yang lain," ketus Nala dengan bibir yang cemberut. Moodnya mendadak berubah mungkin karena efek datang bulan.


"Eh. Kok marah sih," gemas Reigha kemudian menggigit pipi Nala pelan.

__ADS_1


Nala masih saja diam dengan bibir yang menggerucut kesal. Reigha yang gemas segera menyesap bibir cemberut itu lalu menelupkan kepala di leher jenjang milik Nala. Reigha menghidu aroma bunga yang begitu membuatnya candu.


"Geli, Mas," ucap Nala sambil terkekeh renyah.


"Sengaja. Biar kamu mau tertawa," jawab Reigha yang kembali menelusupkan kepala di ceruk leher Nala.


"Oh iya. Aku sudah membuat rencana untuk kita tinggal di rumah kita," celetuk Reigha tiba-tiba.


Nala berdiri dari duduknya agar bisa menatap sang Suami sepenuhnya. "Aku tidak mau tinggal di rumah yang dulu lagi," ucap Nala berwajah datar.


Reigha tertawa. "Tidak. Aku sudah membeli rumah yang cukup luas untuk tempat Zia dan Zio bermain. Ada kolam renang dan Playground juga di rumah itu. Aku sengaja membeli rumah baru karena aku tahu kamu pasti tidak ingin ke rumah yang dulu lagi. Selain berada di Jakarta, kamu pasti masih—"


Cup.


Ucapan Reigha langsung di potong oleh ciuman Nala. "Jangan bahas masalalu lagi. Kita hidup untuk masa kini bukan untuk mengenang masa lalu. Kemanapun aku akan ikut kamu yang terpenting masih di kota Bogor," ucap Nala tersenyum manis.


Reigha menghela napas lega. "Baiklah. Maafkan aku yang dulu ya? Aku benar-benar menyesal karena sudah menelantarkan kalian," ucap Reigha tulus.


Nala mengangguk kemudian kedua tangannya melewati pinggang Reigha dan mendekap tubuh kekar suaminya. Saat Nala merasakan tangan Reigha yang membalas pelukan, Nala semakin mempererat tangannya untuk memeluk sang Suami.


"Ehem! Aku seperti mencium energi positif di seisi kamar ini. Ternyata oh ternyata, ada sepasang pengantin baru yang sedang sayang-sayangnya," ucap suara yang membuat pelukan keduanya terlepas.


Reigha dan Nala menoleh bersamaan ke arah pintu dimana disana sudah berdiri bu Nilam dengan senyum manisnya.


"Mama ganggu saja," kesal Reigha tidak habis pikir. Sedangkan Nala hanya menanggapi dengan kekehan.


"Kalian sudah ditunggu di meja makan. Sayang-sayangannya bisa ditunda untuk nanti ya. Jadi, disimpan dulu dan sekarang kalian harus mengisi perut masing-masing," pinta bu Nilam yang disetujui oleh Nala.


Reigha ikut mengangguk dan membenarkan ucapan sang Mama. "Ya sudah. Kita sarapan dulu ya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa dukungannya❤️...


...mampir juga kesini yuk 👇...


__ADS_1


__ADS_2