
Nala menatap Zia dan Zio yang tampak bahagia bermain di kidzone. Nala dan Reigha hanya duduk menunggu dua anaknya bermain. "Aku harus segera bertindak untuk masalah Zia. Kalau perlu, kita bawa Zia ke psikolog agar mentalnya tidak down. Aku tidak mau Zia yang ceria menjadi pendiam seperti itu," ucap Reigha dengan mata uang awas menatap dua buah hatinya.
Nala mengangguk membenarkan. "Zia butuh penanganan. Jangan sampai kita menyadarinya terlambat. Kita juga harus kasih dukungan dan mengatakan bahwa kita ada. Aku tidak pernah membenarkan bullying dimana pun berada." Nala ikut memberikan komentarnya.
"Mommy benar. Kita harus bertindak cepat sebelum kita kembali kecolongan." Reigha kembali berucap.
Nala langsung mengeratkan pelukan pada tubuh sang Suami. Berharap sesuatu yang bergemuruh di kepala segera sirna. Jujur, Nala begitu syok mendengar pengakuan Zia.
Memang, efek dari perundungan tidaklah main-main. Bukan hanya fisik saja yang terluka. Tetapi mentalnya juga ikut tersakiti. Zia adalah tipe anak yang ceria dan pemberani. Entah mengapa menjadi pendiam dan tak lagi banyak bicara setelah mengalami masalah tersebut.
"Kita harus kasih tahu Zia bahwa dia tidak boleh takut. Dia harus jadi perempuan yang berani," ucap Reigha menggebu-gebu.
"Daddy benar sekali. Besok kita harus datang ke sekolah dan menjelaskan semuanya. Akan terasa kurang jika kita hanya menghubungi guru lewat ponsel. Aku ingin melihat langsung bagaimana anak itu bertingkah," ucap Nala seperti tidak rela.
Reigha langsung menoleh. "Mom? Jangan terlalu di pikirkan. Masalah ini biar aku yang urus. Mommy tidak boleh stress dan banyak pikiran. Kasihan anak kita yang belum lahir." Reigha berucap lembut sambil tangannya mengelus perut Nala pelan.
Nala mengangguk. "Tolong, Lakukan yang terbaik untuk anak-anak, Dad," mohon Nala dengan mata uang berkaca-kaca.
"Pasti, Mom. Tanpa Mommy minta, Daddy akan melakukan yang terbaik demi masa depan anak-anak."
Pukul lima sore, Nala mengajak Zia dan Zio untuk pulang. Bagaimana pun, mereka tidak boleh terlalu lelah karena besok masih harus sekolah. "Zia? Zio? Bersih-bersih lalu ke meja makan ya? Minta tolong ke Mbak untuk bantu kalian," titah Nala saat satu keluarga itu baru sampai.
"Siap, Mom!" jawab Zio sigap. Sedangkan Zia, gadis kecil itu hanya tersenyum tipis dan Nala merasa, itu bukanlah Zia.
__ADS_1
Hati Nala bagai tersayat ketika menyaksikan sikap Zia yang berubah seratus delapan puluh derajat. Apakah gadis kecilnya itu sudah lama mengalami perundungan di sekolah? Jika bisa dan tega, Nala ingin sekali membalas perlakuan seseorang yang sudah membuat Zia jadi seperti itu.
"Mom," peringat Reigha ketika menyadari Nala memiliki tatapan dendam.
"Aku tidak bisa melihat Zia seperti itu, Dad," keluh Nala pada akhirnya menumpahkan air mata.
"Sst ... Tenang, Mom. Kita hadapi semuanya bersama-sama. Kita sebagai orang tua harus kuat," pinta Reigha yang ada benarnya juga.
"Mbak? Tolong awasi anak-anak ke kamar ya? Mereka harus bersih-bersih juga. Jika Zia melamun, tolong ajak dia bicara," pinta Reigha saat baby sister Zia dan Zio muncul dari belakang bersama bi Ati.
"Baik, Pak," jawabnya patuh.
"Ada apa ya, Bu? Apakah ada masalah dengan Zia?" tanya bi Ati bukan bermaksud kepo. Namun, beliau benar-benar peduli dengan anak-anak atasannya. Yang tentunya sudah bi Ati anggap sebagai cucunya sendiri.
Nala menghembuskan napas kasar. "Zia mengalami perundungan di sekolah, Bi," jawab Nala tidak ingin menutup-nutupi. Dia sudah menganggap bi Ati seperti keluarganya sendiri.
"Kasihan sekali Zia. Saya hanya ingin memberikan saran, sebaiknya masalah ini segera di atasi, Pak, Bu. Takutnya, mental Zia terserang cukup dalam dan itu tidak akan baik," ucap bi Ati lagi sangat khawatir.
Reigha dan Nala mengangguk bersamaan. "Pasti, Bi. Kami tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut," jawab Reigha menunduk lesu.
...................
Malam harinya, tepatnya setelah makan malam selesai, Nala dan Reigha memilih tinggal di kamar anaknya terlebih dahulu. Tentunya untuk mengawasi Zia maupun Zio dan melihat perkembangan apa saja dari yang sudah mereka pelajari di sekolah.
__ADS_1
Nala meminta Zia dan Zio untuk menceritakan hal apa saja yang mereka lalui selama di sekolah. Hingga giliran Zia, saat ditanya apa saja yang sudah dilaluinya, gadis kecil itu justru menggelengkan kepala. "Zia tidak tahu, Mom. Zia tidak fokus saat di sekolah," jawabnya dengan tatapan mata kosong.
Hal itu membuat Nala teriris dan langsung memeluk Zia penuh sayang. Zio juga ikut Nala dekap agar dua anaknya tidak pernah merasa bahwa dua orang tuanya pilih kasih. Walau Nala maupun Reigha sebenarnya tidak pernah membedakan di antara keduanya.
"Zia? Zio?" panggil Nala lembut setelah melepaskan pelukan.
"Mommy ingin berpesan pada kalian berdua. Ini sangat penting dan tidak hanya dalam lingkungan sekolah. Ingat ya, Sayang. Tidak ada satu orang pun yang membenarkan perundungan. Entah dalam bentuk apapun itu. Jika kalian mengalami itu, segera laporkan pada guru atau kalau kalian sudah merasa terancam, kalian harus meminta tolong atau bila perlu, menangis lah yang kencang walau pura-pura. Dengan begitu, kalian akan menarik perhatian dan mereka tidak mungkin berani menyerang kalian," jelas Nala panjang lebar yang didengarkan dengan baik oleh Zia dan Zio.
"Daddy juga ingin menambahkan. Kalau kalian diajak ke tempat yang jauh dari keramaian, jangan mau. Berontak lah dan meminta tolong pada sekitar. Dan yang paling penting adalah, jangan pernah ragu untuk bercerita pada Mommy dan Daddy. Kalian harus pandai menjaga diri saat berada di luar. Bukan karena masih kecil. Sudah dewasa pun kalian harus pandai menjaga diri," imbuh Reigha panjang lebar juga.
Zia dan Zio mendengarkan dengan seksama. Pada akhirnya, satu keluarga itu saling memeluk erat dan menyalurkan kasih sayang satu sama lain.
"Zia?" panggil Nala lagi ketika pelukan terlepas.
"Iya, Mom?"
"Tidak perlu takut, Sayang. Kamu harus lawan mereka yang berbuat tidak selayaknya. Namun, bukan lawan dengan kekerasan. Ayo! Mommy percaya bahwa anak-anak Mommy itu hebat dan cerdas," ucap Nala menggebu-gebu guna mengobarkan semangat di hati dua anaknya.
"Semangat!" pekik Zia dan Zio bersamaan.
Lalu, satu keluarga itu tertawa bahagia ketika menyadari Zia mulai kembali ceria. Nala berharap, ini belum terlalu dalam untuk diobati.
Karena luka fisik mungkin bisa dilihat da dijangkau. Namun jika yang luka adalah hati, itu butuh penyembuhan yang berbeda.
__ADS_1
"Mommy sayang kalian berdua. Mulai besok kalian harus berjanji tidak akan menutupi apapun dari Mommy maupun Daddy. Kalian harus terbuka agar Mommy tahu masalah kalian. Kalian masih anak-anak dan Mommy tidak ingin kalian mengalami hal yang tidak-tidak."
"Iya Mommy Sayang. Zia janji akan terbuka dengan Mommy maupun Daddy."