
Empat tahun telah berlalu. Semua terasa sudah berbeda saat Nala kembali ke Indonesia. Ya, Nanta sudah menyelesaikan pendidikan Strata Satunya dengan lancar. Ibu dan Nala sampai merasa bangga pada anak laki-laki itu.
Rika yang awalnya menetap di Singapura, kini ikut pulang bersama keduanya. Mencoba melupakan dan berdamai dengan masa lalu. Ya, bukan tanpa alasan Rika memilih tinggal di Singapura hampir lima tahun lamanya.
Masalalu yang kelam juga pernah hadir di hidupnya. Yaitu, di tinggal tunangannya menikah dengan wanita lain. Padahal, jelas-jelas pernikahan sudah ada di depan mata.
Nala berteriak panik ketika dua malaikat hidupnya berlari-lari dan hampir menabrak orang lain di bandara.
"Zia! Zio! Pelan-pelan Sayang," teriak Nala panik.
"Mbak Nala urus Zia Zio saja. Biar aku dan Tante yang akan urus barang-barang," pinta Nanta lembut.
Nala menurut dan mengejar kedua buah hatinya. Dengan sigap, Nala menggandeng lengan keduanya. Anak yang kini usianya sudah menginjak angka tiga.
"Zia dan Zio, tunggu sebentar ya. Uncle sama Oma Muda sedang membereskan barang," ucap Nala lembut yang segera diangguki oleh keduanya.
Tidak berapa lama, Nanta dan Rika muncul. "Om sudah datang, Mom. Kita boleh lari?" pinta Zia tidak sabaran.
Nala geleng-geleng kepala. "Kita jalan pelan-pelan ya? Disini banyak orang," ucap Nala kemudian kembali menuntun kedua anaknya menuju lobi bandara. Disana sudah ada bu Laras beserta sopir yang menunggu kepulangan keluarganya.
"Itu ada Oma," tunjuk Nala pada ibunya yang sudah tersenyum lebar melihat kepulangannya.
Sontak saja, Zia dan Zio berlari dan berebut untuk memeluk Omanya. Oma yang sudah dua bulan ini tidak lagi berkunjung untuk menemui mereka.
Walau usianya baru tiga tahun, Zia dan Zio sudah lancar berbicara. Mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan penurut. Mereka juga hapal semua anggota keluarganya.
"Oma! Zio rindu Oma!"
"Aku yang lebih rindu Oma!"
Zia dan Zio saling berebut mencuri perhatian sang Nenek. "Iya. Kalian memang anak yang pintar," ucap bu Laras kemudian merenggangkan pelukannya.
"Oma peluk Mommy kalian dulu ya? Oma juga rindu dengan Mommy kalian," ucap bu Laras saat Nala sudah berada di hadapannya.
Zia dan Zio kini di ambil alih oleh Rika yang sengaja memberi waktu untuk anak dan ibu itu saling melepas rindu. "Nan? Temui ibumu dulu gih. Zia dan Zio biar Tante yang jaga," titahnya lembut yang segera di angguki oleh Nanta.
"Ibu apa kabar? Ibu sehat kan?" tanya Nala sambil menatap lekat wanita yang sudah melahirkannya.
Bu Laras mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Tidak ada kabar yang lebih baik selain melihat anak dan cucu ibu kembali pulang," jawab Bu Laras yang langsung membawa tubuh Nala untuk di peluknya.
Nala menangis dalam pelukan ibunda. Pelukan yang selama hampir dua bulan ini tidak dirinya rasakan.
__ADS_1
Ya, walaupun Nala tidak pernah kembali ke Indonesia, Bu Laras sering mengunjungi anak dan cucunya ke Singapura sebulan sekali. Karena kondisi kesehatan yang memburuk, bu Laras tidak lagi berkunjung selama dua bulan terakhir ini.
Dua bulan bagi Nala adalah waktu yang lama. Dia tidak bisa menahan rindu selama itu dengan sang ibunda.
"Mbak Nala saja ini yang dipeluk? Aku tidak?" ucap Nanta yang membuyarkan tangis haru keduanya.
Bu laras merenggangkan pelukan dan mencebikkan bibirnya. "Sini, ibu peluk juga," jawab Bu Laras yang kini berganti memeluk anaknya.
Sesi melepas rindu itu harus ditunda terlebih dahulu karena matahari semakin terik dan bu Laras tidak ingin cucu-cucunya kepanasan.
"Kita pulang dulu ya," ucap bu Laras yang setujui oleh semuanya. Setelah masuk, mobil akhirnya melaju membelah jalanan kota.
Saat mata Nala menatap sekeliling, tidak banyak yang sudah berubah di negara kelahirannya. Mungkin, bangunan-bangunan yang kini sudah diperbaharui lagi menjadi lebih modern.
"Bu? Itu apartemen kok sudah lebih tinggi lagi ya? Seingatku, dulubhanay tiga lantai. Sekarang sudah berapa lantai itu? Setinggi itu," ucap Nala kagum.
"Makanya pulang, jangan semedi terus di negeri orang," ucap Nanta meledek.
Nala mencebikkan bibirnya. "Berisik kamu. Rahasiamu aku bocorkan ke ibu mau kamu?" ancam Nala yang tidak mempengaruhi Nanta sama sekali.
"Silahkan saja. Itu akan untung di aku dan bisa langsung melamar kekasihku," jawab Nanta merasa tertantang.
"Sukses dulu baru boleh melamar anak orang. Mau di kasih makan apa kalau kamu belum mempunyai pekerjaan. Bangun usaha, sukses, baru kamu boleh menikah," sahut bu Laras yang dibenarkan oleh Nala juga Rika.
"Dan tanpa cinta juga tidak bisa berjalan dengan lancar," timpal Nala yang berhasil membuat suasana seketika hening.
Beruntungnya, ada Zia dan Zio yang bisa memecahkan keheningan itu. "Rumah Oma sudah akan sampai atau belum?" tanya Zia yang memang memiliki kepribadian seperti Nala, cerewet dan ceria.
"Tunggu beberapa menit lagi hampir sampai kok. Zia sudah tidak sabar ya?" jawab bu Laras.
"Zio bagaimana? Ingin cepat sampai atau tidak?" Pandangan bu Laras kini beralih menatap Zio.
"Ingin. Tapi Zio tidur dulu ya, Oma. Ngantuk," ucap Zio yang sudah nyaman berbaring di paha Nanta.
Semua terkekeh pelan. Kehadiran Zia dan Zio telah membuat suasana menjadi lebih berwarna.
Sedangkan di tempat lain, Nick datang tergesa-gesa ke ruangan Reigha yang saat ini sedang memeriksa pekerjaan. Pekerjaan yang sudah hampir dua tahun ini mengalami peningkatan pesat.
Sekarang, Reigha sudah mempunyai sekitar dua puluh karyawan yang membantu pekerjaan Reigha. Bisa di bilang, Reigha sedang dalam puncak kejayaan.
Hanya Nick dan Dandy yang masih setia ada sampingnya saat Reigha dalam masa terburuknya.
__ADS_1
"Bos! Bos! Lihat ini! Aku yakin Bos akan terkejut," ucap Nick dengan napas yang terengah-engah.
"Apa sih, Nick? Jangan lebai gitu lah," ucap Reigha acuh.
"Coba lihat dulu ini," ucap lagi sambil menyodorkan ponselnya. Reigha melirik sekilas. Setelah tahu maksud Nick, Reigha segera merebut ponsel tersebut dari tangan Nick.
"Ini ... Nala? Apa dia kembali?" tanya Reigha dengan mata yang berbinar bahagia.
Nick mengangguk. "Coba di geser Bos. Aku yakin kamu akan semakin terkejut," ucap Nick.
"Aku tidak mau. Nala sudah semakin cantik. Nala pasti sudah menikah lagi atau, sudah mempunyai tunangan." Bayangan Reigha seketika penuh akan pria yang sudah menggantikan posisinya.
Reigha belum siap mengetahui fakta itu. Namun, suara Nick kembali terdengar dan memaksa Reigha untuk segera menggeser layar ponselnya.
"Aku tidak mau," tolak Reigha kemudian mengembalikan ponsel Nick.
Nick menghela napas kasar. "Aku yakin setelah kamu membuka slide selanjutnya, kamu akan berpikir panjang," ucap Nick mencoba meyakinkan.
"Aku tetap tidak mau." Reigha tetap pada pendiriannya.
Dengkusan pelan terdengar dari mulut Reigha. Akhirnya, Nick memilih untuk menggeser layar ponselnya dan menunjukkannya langsung pada Reigha. "Ini coba lihat, Bos," tunjuk Nick.
Betapa terkejutnya Reigha saat melihat dua anak laki-laki dan perempuan yang sedang menggandeng tangan Nala. "Ini ... Anak Nala?" tanya Reigha yang wajahnya sudah pias.
"Eh! Tapi tunggu dulu," ucap Reigha mengambil alih kembali ponsel itu. Reigha mencoba memperbesar foto yang terlihat seperti di ambil secara diam-diam.
"Mengapa anak laki-lakinya mirip sekali denganku?" tanya Reigha heran.
"Mana aku tahu. Katanya tidak mau tahu," jawab Nick mengacuhkan balik.
"Iya! Ini mirip sekali denganku," ucap Reigha mengabaikan keacuhan Nick.
Kini pandangan Nick menatap Reigha penuh selidik. "Apa Bos merasa pernah membuatnya?" tanya Nick memicing.
Reigha mengernyit heran. "Maksudnya? Membuat apa yang kamu maksud?" tanya Reigha balik.
Nick mendengkus pelan. "Aku yakin kamu tidak sepolos itu, Bos. Maksudku, apakah Bos merasa pernah membuat anak dengan mantan isteri Bos?" tanya Nick tak berfilter.
...**************...
...jangan lupa dukungannya dengan cara like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya😍...
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk 👇...