
Merasa tidak nyaman berada di ruangan yang sama dengan Reigha, Nala memilih keluar rumah menuju rumah bu Dian yang jaraknya tidak terlalu jauh dari keberadaan Nala saat ini.
Saat Reigha pamit ke kamarnya, Nala tergesa-gesa keluar rumah. Dia sudah berpesan pada pak satpam dan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah besar tersebut.
Nala juga meninggalkan secarik kertas untuk diberikan pada bu Nilam jika Nala belum juga kembali. Entah mengapa Nala merasa ini semua adalah ulah anak-anaknya. Zia dan Zio seperti sengaja menjebak ibunya berada dalam satu rumah yang sama dengan ayahnya.
"Bisa-bisanya aku dijebak oleh dua bocah kembar itu," monolog Nala saat mobilnya mulai melaju, keluar dari pekarangan rumah.
Tidak berapa lama, Nala akhirnya sampai dan memarkirkan mobilnya dengan benar. Saat Nala keluar dari mobil, bu Dian ternyata sudah menyambutnya di teras dengan senyum merekah.
Senyuman yang menular dan membuat Nala balas tersenyum. "Apa kabar, Tante?" sapa Nala saat sudah berada di pelukan bu Dian.
"Kabar Tante baik. Kamu kesini sendiri? Zia sama Zio kemana?" tanya bu Dian lalu merenggangkan pelukan.
"Zia sama Zio sedang jalan-jalan dengan Oma Nilam, Tan. Mereka merengek untuk diajak jalan," jawab Nala tersenyum lalu geleng-geleng kepala mengingat dua anaknya itu.
Bu Dian tampak magut-magut. "Masuk yuk!" ajak bu Dian sambil menggandeng lengan Nala lembut.
Nala dibawa oleh bu Dian menuju ruang tengah. Setelah meminta asisten rumah tangga membawa minuman dan beberapa camilan, Bu Dian mulai membuka suara.
"Nala?" panggil bu Dian lembut.
Nala yang duduk di samping bu Dian pun menoleh ke samping untuk menatap profil wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Kenapa, Tan? Apa ada sesuatu yang ini Tante bicarakan?" tanya Nala menebak.
Bu Dian tersenyum hangat. "Kamu memang pandai sekali membaca ekspresi,"ucap bu Dian sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
Nala tersenyum haru saat melihat senyum bu Dian kembali. Sewaktu datang ke Bogor, Nala perhatikan senyum bu Dian belum setulus ini. Seperti ada luka yang sedang ditutupi dari balik senyumnya.
"Memangnya, Tante ingin membicarakan hal apa?" tanya Nala lembut sambil menatap lembut sosok ibu di sampingnya.
Nala perhatikan, bu Dian terlihat lebih kurus dari perjumpaan sebelumnya. Nala percaya, musibah yang menimpanya tidaklah mudah untuk langsung diterima.
Seperti Nala yang mencoba mengumpulkan kepingan hati. Sebenarnya, Nala ingin hidup dengan masalalunya dengan Dandy. Namun, mengingat pesan Dandy untuk hidup bahagia, juga pesan-pesan dari Nanta, ibu, dan orang-orang terdekatnya, mereka mengatakan bahwa hidup akan terus berjalan.
Jangan biarkan kamu mati dalam keadaan menyesal seumur hidup karena merenungi apa yang telah terjadi hingga lupa bahwa masih banyak perjalanan yang harus diperjuangkan.
Contoh nyatanya adalah Zia dan Zio. Nala tidak ingin sepanjang hari dihabiskan dengan merenung dan merenung hingga tidak menyadari jika waktu terus berputar. Jika Nala bersikap seperti itu terus-menerus, bagaimana nasib anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu?
Sekarang, Nala bertekad untuk menjadi wanita mandiri yang sukses seperti yang Dandy pesankan padanya. Nala ingin melihat Dandy bahagia di atas sana.
"Nala?" panggil bu Dian yang menyentak lamunan Nala. Beruntung, tidak butuh waktu lama untuk Nala menguasai diri kembali.
Nala mengangguk dan tersenyum. "Katakanlah, Tan. Aku akan mendengarkan dengan baik," jawab Nala yang membuat bu Dian akhirnya bisa bernapas lega.
Beliau tentu tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh Dandy. Jadi, bu Dian sangat takut jika pembahasannya akan kembali membuka luka hati Nala.
Tangan bu Dian terulur untuk menggenggam jemari Nala lembut. Tatapannya tertuju pada wajah cantik Nala. "Sebentar lagi kan adalah hari ke seratus Dandy pergi. Tante ingin, kamu hidup bahagia. Carilah pasangan lagi yang bisa menemani masa tuamu. Jangan sampai saat waktu itu tiba, kamu menyesal karena tidak menikah lagi," nasehat bu Dian yang membuat Nala terdiam.
Bu Dian tersenyum hangat. "Seperti yang saat ini Tante rasakan. Ayah Dandy sudah berpulang terlebih dahulu dan disusul Dandy. Kini, Tante hanya hidup sendiri di masa tua. Tante menyesal pernah membuat keputusan hanya ingin mempunyai satu anak pada saat itu. Sekarang, Tante tahu apa itu kesepian," jelas bu Dian panjang lebar.
Matanya sudah berkaca-kaca dengan tatapan menerawang jauh. "Kata siapa Tante sendiri? Ada aku, Zia, Zio, dan ibu yang selalu siap menemani Tante," bantah Nala tidak setuju.
Bu Dian lagi-lagi tersenyum. "Iya. Kalian selalu ada untuk Tante. Terima kasih sekali," jawab bu Dian tulus.
__ADS_1
"Tetapi, tidakkah kamu berpikir jika kelak anak-anakmu dewasa? Mereka akan mencari pasangan masing-masing dan hidup terpisah dari kita. Disaat itu, hanya pasangan yang akan menemani masa tua kita. Anak memang menemani kita. Namun, hanya di waktu-waktu tertentu karena mereka juga punya keluarga sendiri. Sampai disini, kamu paham kan?" jelas bu Dian penuh kelembutan.
Nala terdiam untuk mencerna ucapan bu Dian. Setelah paham, Nala akhirnya mengangguk. Dia sadar akan kekhawatiran bu Dian karena saat ini, beliau mungkin saja sedang mengalami.
Nala yakin, itu semua tidak mudah untuk dilalui. Oleh karena itu, bu Dian memintanya untuk mencari pasangan dan menikah lagi. Nala tersenyum haru lalu memeluk bu Dian erat.
"Terima kasih karena sudah peduli dengan masa depanku, Tan," ucap Nala memejamkan mata merasakan kehangatan yang tercipta.
"Sama-sama."
Cukup lama keduanya berpelukan. Hingga Nala memilih melepas pelukan terlebih dahulu. Matanya menatap lembut sosok ibu di depannya.
"Tante?" panggil Nala lembut yang membuat bu Dian mengalihkan perhatian penuh pada Nala.
"Ada apa? Jangan bilang, kamu juga ingin menceramahi Tante balik," tebak bu Dian yang sayangnya benar.
Keduanya pun tertawa bersama. Tawa yang bisa meredakan gemuruh dalam dada. "Tetapi aku harus mengatakannya walau Tante sudah tahu akan maksudku," ucap Nala lagi setelah tawa mereda.
"Katakanlah. Tante akan berusaha mendengarkan," jawab bu Dian dengan seulas senyum tipis.
"Aku tahu fase ini sangat berat untuk Tante. Mungkin jika aku ada di posisi Tante, aku tidak yakin bisa sekuat itu. Hiduplah dengan bahagia setelah ini, Tan. Bukan hanya aku yang butuh hidup bahagia. Tante juga membutuhkannya. Kita sama-sama butuh."
"Mari, kita buka lembaran baru dan hidup dengan penuh arti. Tidak mungkin Tuhan masih membiarkan nyawa kita tetap bernapas jika tanpa tujuan. Pasti setelah ini, ada kebahagiaan yang siap menanti kita." Ucapan Nala benar-benar sampai di hati.
Nala benar. Tidak mungkin Tuhan membiarkan manusia untuk tetap hidup jika tanpa tujuan. Karena jauh sebelum manusia itu lahir, Tuhan telah menunjukkan perjalanan hidupnya dari lahir sampai mati. Bahkan, Tuhan bertanya sebanyak 77× apakah ruh tersebut yakin untuk lahir.
Jika ruh tersebut memilih untuk tetap lahir, pasti ada kebahagiaan yang akan didapat setelah berada di dunia.
__ADS_1
Percayalah. Jika hidup kita belum menemui bahagia, itu pertanda hidup kita belum akan berakhir.