
Pagi-pagi sekali Reigha merasakan kurang enak badan. Bahkan, Reigha sampai muntah-muntah dan harus mengeluarkan isi perutnya yang hanya tersisa air. Mungkin saja makanan semalam sudah dicerna.
Huek! Huek!
"Apa aku masuk angin? Bukankah semalam aku baik-baik saja? Bahkan, jam tidurku juga teratur," gumam Reigha merasa heran sambil membasuh wajahnya.
Tubuhnya terasa lemah dan kakinya bergetar saat melangkah. "Tidak mungkin karena asam lambungku naik kan?" gumam Reigha lagi bertanya-tanya.
Nala yang mendengar suaminya muntah-muntah, segera membuka mata dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi dimana suaminya berada. Perasaannya mendadak cemas takut Reigha sakit.
"Mas? Kamu kenapa? Sakit?" tanya Nala di ambang pintu.
Reigha yang hampir mencapai pintu, menggeleng tidak tahu. "Aku juga tidak tahu. Perutku begitu bergejolak dan mual," jawab Reigha dengan wajah pucatnya.
Nala mengernyit heran. "Apa asam lambung kamu naik lagi, Mas? Aku panggilan dokter dulu kalau begitu. Mas Reigha istirahat terlebih dahulu," ucap Nala khawatir lalu membantu suaminya untuk sampai di ranjang.
"Aku ingin dipeluk kamu dulu," jawab Reigha manja yang semakin membuat Nala kebingungan. Walau demikian, Nala tetap menuruti keinginan suaminya dan kembali naik ke atas ranjang.
Reigha langsung membawa Nala dalam dekapannya dan menghidu rambut sang istri yang menguarkan aroma vanila. Sangat manis dan membuat perasaan Reigha membaik.
"Begini saja sudah membuat tubuhku lebih baik," ucap Reigha masih dalam pelukan.
"Aku panggil dokter dulu ya, Mas. Kamu harus segera diperiksa. Takutnya asam lambung dan akan semakin parah jika dibiarkan terlalu lama," ucap Nala memohon.
__ADS_1
Reigha mengangguk. "Ambil saja ponselnya lalu kesini lagi. Teleponlah sambil memelukku," ucapnya merengek.
Nala mengernyit heran. Aneh sekali sikap suaminya itu. "Baiklah," jawab Nala pada akhirnya hanya bisa pasrah.
Setelah menelepon dokter, Nala juga menelepon Sisil untuk meminta baby sister kembar mengurus anak-anaknya terlebih dahulu. Dia juga meminta Sisil untuk memberitahukan kembar jika Daddy-nya sedang sakit dan tidak bisa ditinggal.
"Kamu berbaring dulu ya, Mas? Aku akan ambilkan air hangat," ucap Nala yang tidak bisa lagi Reigha cegah. Dia ingin Nala ada di sampingnya. Namun, Reigha juga menginginkan air putih hangat itu untuk meredakan mual di perutnya.
"Jangan lama-lama ya," pinta Reigha manja. Nala terkekeh geli melihat tingkah suaminya yang berbeda dari biasanya.
"Iya. Tenang saja," jawab Nala kemudian segera melaksanakan keinginannya untuk mengambil air hangat di dapur. Tidak berapa lama, Nala sudah kembali dari dapur dengan dokter yang akan memeriksa keadaan Reigha.
"Ayo masuk, Dok. Suami saya ada di dalam," ucap Nala mempersilahkan dokter pria yang berkunjung.
"Baiklah, Bu," jawab pak dokter kemudian ikut masuk. Di dalam sudah ada Zia dan Zio yang kini sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya.
Nala tersenyum lalu mencium pipi Zia dan Zio bergantian. "Mommy juga belum tahu. Biar dokter periksa dulu ya, Sayang," jawab Nala sambil mengulas senyum hangatnya.
Zia dan Zio mengangguk patuh dan membiarkan sang Dokter memeriksa keadaan Reigha. Dokter tampak kebingungan karena tidak ada tanda-tanda sakit di tubuh Reigha. Namun mendengar keluhan pasiennya, dokter pria itu sudah bisa menyimpulkan.
Dokter tersenyum menatap Nala dan Reigha bergantian. "Apakah istri Anda sedang hamil, Pak?" tanya dokter pada Reigha.
Semua terdiam hingga suara Nala yang memecah keheningan lebih dulu. "Saya belum periksa. Tetapi, saya sudah terlambat hampir dua bulan," ungkap Nala yang membuat senyum dokter semakin lebar.
__ADS_1
"Sebaiknya ibu segera periksa ke dokter kandungan. Kemungkinan, suami Ibu mengalami syndrom couvade atau lebih sering dikenal dengan sebutan sindrom kehamilan simpatik. Tidak ditemukan penyakit dalam tubuh Pak Reigha," ungkap sang dokter yang membuat mata Nala membulat sempurna.
Mengapa Nala lupa jika sudah bersuami? Terlambat datang bulan adalah perkara penting yang harus segera diurus. Tidak seperti dulu saat Nala berpisah dari Reigha dan siklus menstruasinya terganggu.
"Terima kasih, Dok. Saya akan periksakan dengan segera," jawab Nala yang juga diangguki oleh Reigha.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Masih tempat yang harus saya kunjungi."
Setelah dokter berpamitan, Zia dan Zio mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang Mommy.
"Apakah kita akan segera memiliki adik bayi, Mom?" tanya Zia penasaran.
"Iya. Apakah sebentar lagi ada bayi kecil yang akan menemani kita bermain?" Kini giliran Zio yang bersuara.
Nala dan Reigha sontak saling pandang. "Mommy akan periksakan ke dokter setelah ini. Namun sebelum itu, Mommy akan antarkan kalian ke sekolah terlebih dahulu," ucap Nala yang segera diangguki oleh Zia dan Zio.
Akhirnya setelah sarapan, satu keluarga itu berangkat menuju tempat tujuan. Yang paling pertama adalah mengantar Zia dan Zio ke sekolah lalu ke rumah sakit.
"Aku tidak sabar untuk mendengar kabar baik ini, Sayang. Aku berharap, dugaan dokter benar adanya," ucap Reigha sarat akan rasa bahagia.
Nala yang duduk di samping jok kemudi pun tersenyum. "Aku juga penasaran apa hasilnya. Sebenarnya, aku bisa memeriksanya terlebih dahulu menggunakan testpack. Namun, aku ingin kejutan dan melihat calon anak kita lewat USG," ucap Nala begitu bahagia.
Satu tangan Reigha yang tidak menyetir, digunakan untuk mengelus punggung tangan Nala lembut. "Kita berdoa saja semoga hasilnya akan membuat semua orang bahagia," ucap Reigha begitu menenangkan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...