Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 64. Tamu tak terduga


__ADS_3

Nala sangat bersyukur karena demam yang dialami Zia dan Zio turun malam hari. Nala bisa bernapas lega karena setelah dokter memeriksa, tidak ada penyakit serius. Zia dan Zio hanya kelelahan dalam bermain.


Pagi harinya, Nala memilih mengajak Zia dan Zio ke kantor agar dia masih bisa memantau si kembar dengan baik. Sesampainya di dalam ruangan, Zia tampak lesu dan membuat Nala penasaran ingin bertanya.


"Zia? Kamu kenapa, Sayang? Mengapa kamu tampak tidak bersemangat?" tanya Nala sambil berjongkok di hadapan Zia dan Zio.


Zia menggerucutkan bibirnya. "Daddy kemana sih, Mom? Kenapa sudah tidak lagi menemui Zia dan Zio?" Pertanyaan Zia sontak membuat Nala terkejut.


Nala pikir, setelah Reigha pergi semua akan baik-baik saja. Namun Nala lupa, jika anak-anaknya kini sudah terbiasa bersama ayah kandungnya.


Nala tersenyum tipis. "Daddy sedang bekerja untuk kalian berdua," jawab Nala tidak sepenuhnya berbohong bukan?


Tapi kenapa tidak pulang-pulang? Zio juga ingin bermain dengan Daddy," rengek Zio ikut menyuarakan isi hatinya.


Nala tergugu. 'Apa yang sudah aku lakukan?' batin Nala tidak karuan.


"Kenapa Daddy tidak tinggal bersama kita, Mom? Padahal, Zia ingin tidur bersama Daddy," ucap Zia lagi yang membuat wajah Nala mendadak lesu.


Nala mengacak rambut dua anaknya dan membawa tubuh mungil keduanya dalam dekapan. Tangannya bergerak naik dan turun seirama.


"Nanti kita temui Daddy kalian ya? Sekarang Daddy sedang sibuk mencari uang untuk Zia dan Zio. Kan sebentar lagi kalian akan masuk sekolah. Jadi, Daddy biar cari uang untuk biayanya dulu. Kalian mau sekolah kan?" tanya Ily berusaha mengalihkan pembicaraan dan perhatian anak-anak dari ayahnya.


Berhasil.


Zia dan Zio tampak menunjukkan raut antusias. "Mau!" jawab keduanya serentak. Nala tersenyum lebar lalu semakin mengeratkan pelukannya pada si kembar.


"Kalian memang anak-anak yang hebat," puji Nala pada anak-anak.


Waktu semakin bergulir. Tepat setelah Nala makan siang bersama Zia dan Zio, kantornya kedatangan tamu tak terduga. Saat tamu tersebut akan berjalan masuk, langkahnya terhenti saat melihat siapa pemilik dari Hanindya Organizer.


Tatapan Nala dan sang Tamu bertemu. Cukup lama hingga membuat Rani dan Yuna merasa penasaran pada sosok yang kini datang ke kantor.


"Selamat datang, Nona. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Yuna menyentak keduanya.


Ehem. Wanita tersebut berdehem terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering.

__ADS_1


"Terima kasih. Saya ingin berbicara dengan pemilik Hanindya Organizer ada? Saya ingin membahas tentang konsep pernikahan dan ... Tata riasnya sekalian," ucap wanita tersebut berusaha bersikap sebiasa mungkin.


"Silahkan. Bu Nala adalah pemilik kantor ini," ucap Yuna sambil merentangkan tangan, bermaksud mempersilahkan. Sang wanita mengangguk dan menyeret langkah untuk duduk.


Nala tersenyum setelah berhasil menguasai diri kembali. "Selamat datang, Sandra," sapa Nala ramah seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara dirinya dan sosok Sandra.


Ya, seorang wanita yang dimaksud adalah Sandra.


"Apa kabar, Nala?" tanya Sandra untuk pertama kalinya.


Nala menelisik penampilan Sandra yang sudah tidak seglamor dulu. Sekarang, Sandra terkesan lebih cantik natural. Wajah angkuh yang dulu selalu ditunjukkan juga entah kemana. Sosok Sandra kali ini rasanya sudah sangat berbeda dengan Sandra beberapa tahun lalu.


"Aku kabar baik. Kamu ... Apa kabar?" tanya Nala balik.


Sandra tersenyum tipis. Bukan senyum tipis yang menyebalkan seperti dulu. Melainkan senyum yang begitu ramah dan bersahabat. "Aku sangat baik, La. Terima kasih karena semua ini berkat kamu," jawab Sandra yang membuat dahi Nala mengkerut dalam.


"Apa maksudnya?" tanya Nala heran.


"Karena kejadian waktu itu, aku jadi banyak belajar. Banyak yang sudah aku lalui hingga sampai di tahap ini. Kamulah yang menyadarkan aku bahwa hidup itu butuh perjuangan," ucap Sandra kemudian menghela napas berat.


"Tunggu, La. Boleh aku meminta waktumu sebentar?" pinta Sandra sambil memegang lengan Nala.


Sontak hal itu membuat Nala menarik lengannya cepat. Dia masih belum terbiasa hidup berdamai dengan seseorang yang sudah menghancurkan rumah tangganya dulu.


"Maaf. Jangan pegang," ucap Nala berusaha mempertahankan nada santainya.


"Maafkan aku," ucap Sandra lalu menarik tangannya kembali.


Sandra menundukkan kepala di hadapan Nala, sesuatu yang dulu tidak pernah Sandra lakukan. Dalam benak Nala dipenuhi banyak pertanyaan. Apakah Sandra sudhs mendapat karma? Nala tahu pertanyaan itu terdengar kejam. Tetapi, Nala juga sedikit penasaran dengan kehidupan Sandra setelah berhasil mengombang-ambing hidupnya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak terbiasa saja," jawab Nala kembali tersenyum tipis.


Keadaan mendadak canggung karena Nala seperti enggan untuk membuka topik pembicaraan. Sandra juga sejak tadi menundukkan kepala sambil memilin jemarinya.


Sungguh, Nala sampai berpikir apakah Sandra sedang bersandiwara? Seperti yang dulu dilakukan dia bersama Reigha.

__ADS_1


Merasa tidak tega, Nala akhirnya memanggil nama wanita di depannya. "Sandra?" panggil Nala pelan.


Yang di panggil langsung mendongak. "Kamu akan menikah? Kapan?" tanya Nala lembut.


Sandra mengangguk membenarkan. "Iya. Aku akan menikah. Satu bulan lagi," jawab Sandra tersenyum manis. Senyum terbaik yang pertama kali Nala lihat dari Sandra.


Saat Nala akan kembali bersuara, tiba-tiba ada sosok pria yang masuk ke kantornya. "Kamu disini, Sayang? Aku mencarimu dimana-mana," ucap pria tersebut lalu merangkul bahu Sandra.


Entah mengapa, Nala merasa raut wajah Sandra nampak ketakutan. Apa sesuatu telah terjadi pada Sandra selama hampir lima tahun ini? Batin Nala bertanya.


Tatapan pria itu mengarah pada Nala dan tersenyum ramah yang dipaksakan. "Maafkan istri saya karena sudah sembarangan masuk. Dia sedikit mengalami gangguan jiwa," ucap pria tersebut.


Nala cukup terkejut dengan pernyataan pria di hadapannya. Apa tadi? Gangguan jiwa? Mengapa Nala merasa ada yang janggal antara Sandra dan pria di sampingnya?


"Tidak masalah. Saya bisa memaklumi," jawab Nala sambil menatap wajah Sandra yang tampak meringis seperti sedang menahan sesuatu.


"Kamu tidak apa-apa Sandra?" tanya Nala khawatir.


"Tentu saja tidak apa-apa. Istriku hanya butuh istirahat yang cukup," sela pria tersebut.


Nala menoleh kesal karena pertanyaan itu tidak ditujukan untuk pria di hadapannya. Melainkan untuk Sandra yang lebih banyak diam.


"Baiklah. Kami harus pamit terlebih dahulu karena hari ini ada jadwal cek ke dokter. Istri saya sedang membutuhkan penanganan dan perhatian yang lebih," ucap pria tersebut kemudian menarik bahu Sandra untuk beranjak.


Nala membelalak. Mengapa pria di hadapannya terlihat sangat kasar?


"Hati-hati, Tuan. Istri Anda kesakitan karena tarikan tadi," peringat Nala yang hanya ditanggapi dengan senyuman.


Nala menatap heran kepergian Sandra bersama pria yang mengaku sebagai suaminya. Ada yang janggal dari pertemuannya kali ini. Sandra mengaku belum menikah sedangakan pria tidak mengaku sebagai suaminya.


Begitu juga Rani dan Yuna yang beranggapan sama. Keduanya tentu menyaksikan bagaimana interaksi dua tamunya.


"Ibu kenal mereka?" tanya Rani penasaran. Nala langsung tersentak dan menggeleng.


"Tidak. Hanya tahu saja," jawab Nala singkat.

__ADS_1


__ADS_2