
Di perjalanan pulang, Reigha memilih untuk mengantar Anjani terlebih dahulu ke rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit dan itu tidak memungkinkan jika Anjani harus kembali bekerja.
Biarlah hari Anjani pulang lebih awal karena sudah menemaninya ke sebuah pesta. Reigha duduk di jok belakang bersama Zia sedangkan Anjani, dia duduk di depan bersama pak Sopir.
"Daddy kemana saja selama ini? Apa Daddy tidak merindukan Zia?" tanya Zia sesaat setelah mobil melaju membelah jalanan. Bibir gadis kecilnya tampak menggerucut lucu hingga membuat Reigha gemas dan mencubit pelan pipinya.
"Daddy kerja, Sayang. Ini demi Zia dan Zio," jawab Reigha tidak sepenuhnya berbohong.
"Demi Mommy juga?" tanya Zia lagi yang membuat Reigha berpikir sejenak lalu mengangguk mengiyakan saja.
"Daddy selama ini tidur dimana? Kenapa tidak pernah menelepon Mommy? Apakah Daddy sudah tidak lagi menyayangi mommy?" tanya Zia yang membuat Reigha hanya bisa terdiam.
"Dad! Jawab!" tuntut Zia lagi.
Reigha terkekeh geli lalu membawa tubuh mungil putrinya dalam pelukan. "Daddy sangat menyayangi Mommy kalian. Tetapi, Mommy kalian sudah tidak menyayangi Daddy lagi," jawab Reigha yang tatapannya berubah sendu.
Zia membalas pelukan sang Ayah yak kalah erat. "Daddy tenang saja. Aku dan Zio akan membantu Daddy agar Mommy menyayangi Daddy lagi. Sebenarnya, Mommy sayang loh, dengan Daddy. Mungkin Mommy malu saja," ucap Zia polos. Seakan ucapannya semudah membalikkan telapak tangan.
Namun, satu hal yang Reigha lupa jika kekuatan anak-anak justru lebih kuat dari apapun. Banyak para orangtua yang mengatakan tidak ingin berpisah demi anak-anak mereka.
Di sisi lain ada beberapa orang yang menentang alasan tersebut karena anak tidak bisa menjadi acuan dalam sebuah hubungan. Namun di sisi lain, ada orang yang setuju dengan pernyataan tersebut.
Mereka kembali demi anak-anak dan berusaha memperbaiki semuanya. Tentu harus semuanya. Tidak bisa hanya kembali dan tidak ada perubahan dalam diri, tidak ada introspeksi, dan tidak ada gerakan maju untuk merubah semua.
"Benarkah? Apakah Mommy kalian pernah mengatakannya?" tanya Reigha melepas pelukan lalu menatap putrinya lekat-lekat.
"Tidak sih, Dad. Tetapi kami tahu jika Mommy sayang dengan Daddy dari cara Mommy bersikap," jelas Zia yang membuat Reigha semakin melebarkan senyumnya.
"Oh ya? Memangnya seperti apa?" tanya Reigha antusias.
__ADS_1
Zia menarik bola matanya ke atas untuk mengingat-ingat bagaimana sikap ibunya. Setelah menemukan di pikiran, Zia kembali menatap sang Ayah.
"Mommy selalu bersikap ketus setiap kali ada Daddy. Bibirnya selalu cemberut apalagi tadi saat di hotel dan melihat Daddy bersama Aunty Anjani," jawab Zia begitu cerdas.
Reigha seperti mendapat angin segar atas penilaian sang anak. Dipeluknya lagi tubuh mungil Zia dan mendekapnya erat namun tetap lembut agar tidak menyakiti sang Putri.
"Terima kasih, Sayang. Kamu dan Zio memang anak yang pintar."
Anjani benar-benar kagum dengan sisi lain yang dimiliki atasannya. Anjani kira, atasannya itu tidak bisa tersenyum dan wajahnya sudah paten untuk bersikap datar.
Tetapi lihatlah. Dia tersenyum bahagia saat bertemu dengan anak-anak dan ... Mantan istrinya. Ya, hanya itu yang ada di pikiran Anjani. Mendengar pembicaraan anak dan ayah itu membuat Anjani menduga-duga jika dua orang yang saling mencintai kini telah berpisah.
Setelah menurunkan Anjani di depan gang, mobil kembali melaju membelah jalanan. Reigha akan membawa Zia pada mama dan papanya. Orangtuanya itu pasti akan sangat bahagia karena cucu lucunya datang.
Saat Reigha melirik Zia, entah mengapa Reigha melihat sosok Nala disana. Reigha tersenyum bahkan sangat manis.
Reigha seperti baru saja menemukan kehidupannya lagi. Jantungnya memang ditakdirkan berdetak hanya untuk Nala. Saat berjauhan, jantung Reigha seperti melemah. Namun, saat melihat Nala dan anak-anaknya, Reigha seperti kembali hidup.
Tidak ada alasan lain yang membuat Reigha bertahan hidup selain orang-orang yang dia cintai.
Tidak berapa lama, akhirnya mobil sampai di depan pekarangan rumah milik orangtuanya. Reigha memilih turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk tuan putrinya.
"Oma dan Opa ada di dalam ya, Dad?" tanya Zia sambil pandangannya mengedar. Ini adalah kali kedua Zia mengunjungi rumah orangtua ayahnya. Namun, kali ini dengan suasana dan situasi yang berbeda.
"Iya. Ayo, kita masuk saja dan kasih kejutan untuk Oma dan opa," ajak Reigha sambil menuntun tangan Zia agar mengikutinya.
"Mama! Papa! Lihatlah! Aku membawa Tuan putri ke rumah!" pekik Reigha menggema di seluruh ruangan.
Bu Nilam yang sedang berada di dapur sontak keluar untuk melihat siapa tuan putri yang anaknya bawa. Anaknya itu akhir-akhir ini sering bersikap aneh. Bu Nilam khawatir Reigha hanya halusinasi karena cintanya ditolak dan berujung depresi.
__ADS_1
"Siapa sih, Ga? Tuan putri siapa yang kamu maksud?" tanya bu Nilam yang belum melihat keberadaan Zia.
"Zia! Cucuku Sayang!" pekik bu Nilam saat sudah melihat cucunya datang.
Beliau berlari untuk mendekati Zia. Beliau sangat bahagia karena kedatangan sang Cucu. Bu Nilam berjongkok di hadapan Zia lalu memeluk tubuh mungil sang Cucu, selembut yang bu Nilam bisa.
"Oma apa kabar? Opa dimana?" tanya Zia dengan tampang polosnya.
Bu Nilam merenggangkan pelukan dan mengecup pipi Zia bergantian. "Kabar Oma sangat baik ketika Zia datang kesini. Sepertinya Opa sedang mandi. Sehingga tidak mendengar kedatangan Zia," jawab Bu Nilam yang langsung membawa Zia ke dalam gendongan.
"Kamu bertemu cucu Mama dimana, Ga? Mama pikir kamu sedang berhalusinasi," tanya bu Nilam sambil menyengir.
Reigha memutar bola matanya malas. "Apa selama satu bulan ini aku terlihat seperti orang gila, Ma?" tanya Reigha tidak terima.
Bu Nilam mengangguk. "Iyalah. Kamu tuh kaya mayat hidup selama satu bulan ini. Lihatlah, sepertinya kamu sudah menemukan nyawamu lagi," ucap bu Nilam yang matanya sudah berkaca-kaca. Dia bersyukur karena akhirnya Reigha kembali tersenyum.
"Memang Daddy kenapa, Oma? Kenapa Oma menyebut mayat hidup?" tanya Zia polos.
Bu Nilam dan Reigha saling lempar pandang. Saat sadar, keduanya terkekeh bersamaan. "Tidak. Tidak perlu di pikirkan. Zio kemana? Kenapa Zia datang sendirian?" tanya bu Nilam sambil melihat ke arah pintu masuk, berharap Zio akan muncul dari sana.
Zia menggerucutkan bibirnya lucu. Bibir mungilnya mendekat ke daun telinga sang nenek untuk membisikkan sesuatu. Karena posisinya masih berada dalam gendongan, itu memudahkan Zia untuk berbisik.
"Zia dan Zio sedang menjalankan misi, Oma. Kami ingin Mommy dan Daddy tidak bertengkar lagi. Yang pasti, kami ingin tinggal bersama Mommy dan Daddy," bisik Zia yang membuat bu Nilam mengulas senyum penuh arti.
Reigha yang melihat itu, merasa kesal karena tidak diberitahu tentang apa yang dibicarakan Zia dan ibunya. "Kenapa main bisik-bisik sih? Zia tidak berniat untuk memberitahu Daddy?" tanya Reigha dengan raut merajuknya.
Zia dan Bu Nilam saling lempar pandang. Kemudian, keduanya kembali menatap Reigha dan menggeleng bersamaan.
"Tidak perlu," ucap Zia kemudian tertawa bersama neneknya.
__ADS_1