
Saat ini, Nala sudah duduk di balkon kamar milik ibunya. Matanya sejak tadi menatap ke depan untuk melihat matahari yang sebentar lagi akan pulang ke peraduan.
Tidak ada sunset indah seperti di pegunungan. Karena banyaknya polusi membuat pemandangan indah itu tertutup.
"Nala?" panggil bu Laras setelah cukup lama terdiam. Hal itu juga membuat kesadaran Nala kembali.
"Iya, Bu," jawab Nala lembut kemudian menatap lekat wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah memberitahu Zia dan Zio tentang ayah mereka?" tanya bu Laras sambil tangannya bergerak mengeratkan sweater yang dikenakan. Udara sore hari itu cukup sejuk hingga membuat bulu halus Nala merinding.
"Belum, Bu. Mereka belum memahami tentang hal seperti itu," jawab Nala merasa yakin.
Bu Nilam menggeleng dengan senyum yang terulas. "Kamu yakin? Itu tidak akan bertahan lama, La. Apalagi, sebentar lagi Zia dan Zio akan mendaftar sekolah," ucap bu Laras bermaksud menyadarkan Nala bahwa Zia dan Zio sebenarnya juga butuh sosok ayah.
Nala menghela napas. Pembicaraannya kali ini bersama sang ibu terbilang berat. Tidak banyak kata yang bisa Nala ucapkan namun, tenaganya selalu terkuras habis ketika membicarakan tentang mantan suaminya.
"Aku yakin Zia dan Zio mau mengerti," jawab Nala yang sebenarnya sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Bu Laras menggeleng. "Tidak semudah itu, La. Semakin bertambah dewasa, mereka akan semakin mengerti bahwa keluarganya tidak lengkap," ucap bu Laras.
Pandangan Nala kembali dilempar ke depan. Bolehkah Nala egois agar Reigha tidak perlu menjadi ayah dari anak-anaknya? Namun, Nala sadar bahwa semua itu adalah fakta dan kebenaran.
"Tunggu waktu yang tepat, Bu. Aku belum siap untuk menceritakan semua dan mencari alasan yang masuk akal untuk anak usia dini," jawab Nala pada akhirnya sudah memutuskan.
Bu Laras mengangguk menyetujui. "Baiklah. Kamu memang butuh keberanian dan waktu yang tepat. Jika kamu butuh bantuan, minta tolonglah pada Ibu. Kalau ibu bisa bantu, akan ibu usahakan."
Obrolan keduanya harus terhenti saat suara cempreng Zia tiba-tiba terdengar. "Mommy! Oma! Katanya hari ini mau jalan-jalan? Apa Mommy sudah lupa?" tanya Zia dengan wajah kesal yang justru membuat Zia semakin terlihat menggemaskan.
Nala dan bu Laras seketika tersenyum. "Sebentar lagi ya, Sayang. Kita kan mau ke pasar malam. Namanya pasar malam ya bukanya malam-malam," jelas Nala tersenyum hangat.
Zia mengerjapkan matanya beberapa kali dan itu terlihat sangat lucu di mata orang dewasa.
"Zia maksud tidak dengan ucapan Mommy?" tanya bu Laras yang melihat kebingungan di mata cucunya.
__ADS_1
Zia mengangguk paham. "Berarti menunggu lama dulu, pasar malam baru buka ya, Oma?" tanya Zia yang kini menatap bu Laras.
Bu Laras mengangguk. "Tentu, Sayang. Kita akan pergi bersama-sama malam nanti. Lebih baik, Zia dan Zio pergi makan dulu gih. Agar nanti saat di pasar malam tidak kelaparan," ucap Nala lembut sambil mengelus puncak kepala putrinya.
"Baiklah, Mommy. Zia tidak akan makan terlalu banyak agar saat di pasar malam, Zia bisa membeli banyak makanan," jawab Zia begitu antusias.
Bu Laras dan Nala terkekeh bersamaan melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah anak kecil itu.
Tepat pukul tujuh malam, Nala, Zia, Zio, Nanta, Rika dan bu Laras sudah berada di mobil menuju pasar malam dimana mereka akan menghabiskan waktunya.
Zia dan Zio begitu antusias terlihat saat berada di mobil, keduanya bernyanyi tiada henti. Orang dewasa hanya tertawa mendengar dua balita itu bernyanyi. Selain tidak terlalu jelas liriknya, nada lagunya juga dibuat sendiri dan tidak mengikuti lagu yang sesungguhnya.
"Coba nyanyi lagu yang kalian hapal? Itu loh, yang sering mommy nyanyikan saat Zia dan Zio akan tidur," pinta Nala lembut yang saat ini sedang memangku Zio. Sedangkan Zia, dia berada di pangkuan Rika.
Nanta sudah pasti menjadi pak Sopir malam ini. Sedangkan bu Laras, dia duduk di samping kemudi, menemani putranya.
"Zio lupa, Mom," ucap Zio setelah rautnya terlihat sedang berpikir.
Nala terkekeh pelan. "Zia bagaimana?" tanya Nala beralih pada putrinya.
Zio yang sudah diingatkan bagaimana liriknya, juga ikut bernyanyi bersama Zia.
Nala tersenyum sendu menatap kedua putra dan putrinya. Matanya sudah berkaca-kaca ketika suara anaknya begitu tulus menyanyikan lagu tersebut.
Sebuah lagu yang sangat mewakili isi hatinya. Ya, Zia dan Zio bagaikan matahari terbit bagi Nala. Keduanya benar-benar pembawa kebahagiaan di hidupnya.
Sedangkan yang lain juga ikut berkaca-kaca mendengar lagu yang Zia dan Zio nyanyikan. Tak terkecuali Nanta, dia sangat paham dan tahu bagaimana kakaknya itu melewati masa-masa tersulitnya.
"Yeay! Suara kalian bagus juga ternyata," ucap bu Laras memecah suasana sendu yang sempat tercipta.
Nala tersenyum lalu mendongakkan kepala agar air matanya urung jatuh.
"Sudah sampai!" pekik Nanta yang berhasil mengalihkan perhatian Zia dan Zio.
__ADS_1
"Yeay!" "Kita sampai di pasar malam!" pekik Zia dan Zio hampir bersamaan.
Rika dan Nala sampai geleng-geleng kepala melihat kehebohan dua bocah balita tersebut.
Semuanya turun dan bergegas masuk ke arena pasar malam. Nala setia menuntun dia anaknya agar tidak terpisah darinya. Nanta juga ikut berjalan di samping Zia sedangkan bu Laras berjalan di samping Zio.
Rika sudah pamit menghilang entah kemana. Nala sudah menduga bahwa tantenya itu pasti ingin menemui seseorang.
"Mommy! Zio mau itu," ucap Zio sambil menunjuk stan penjual pentol.
"Baiklah. Kali ini Uncle yang akan belikan untuk Zia dan Zio. Ibu mau ikut Nanta?" tawar Nanta yang kini pandangannya beralih pada sang Ibunda.
"Zia sama Zio ikut Mommy untuk menunggu disana ya?" ajak Nala pada dua anaknya sambil menunjuk kursi kosong tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Saat berjalan menuju kursi, dari arah berlawanan ada seorang pria yang juga dengan menuju kursi tersebut.
Hingga jaraknya tinggal lima tiga meter lagi, tatapan Nala dan pria tersebut saling bertemu.
Deg.
Jantung Nala seperti berhenti berdetak detik tersebut, begitu juga dengan langkahnya. Pria itu juga menghentikan langkah dan tatapannya langsung terkunci dengan pandangan Nala.
Reigha. Pria yang saat ini sudah berdiri tidak jauh dari tempat Nala berdiri. Tatapan Reigha kini tertuju pada dua anak kecil yang menuntun jemari Nala. Walau pencahayaan terlihat remang, Reigha bisa melihat dengan jelas wajah Nala beserta dua anaknya.
"Nala?" "Mas Reigha?"
Keduanya berucap hampir bersamaan dengan mengawali menyebut nama masing-masing. Keduanya akhirnya dipertemukan kembali setelah sekian lama tidak berjumpa.
"Itu Daddy-nya Zio ya, Mom?" tanya Zio yang berhasil membuyarkan lamunan Nala dan Reigha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya untuk Nala ya....
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk 👇...