
Melihat dua anaknya masih tertidur pulas, Nala pun makan siang terlebih dahulu. Tidak kemana-mana, masih di ruangan yang sama dan, bersama Reigha.
Nala juga bingung mengapa dirinya bisa bersikap biasa-biasa saja saat berada ruangan yang sama bersama Reigha. Atau mungkin karena telah terbiasa?
Nala menggelengkan kepala untuk menghilangkan pikiran rumitnya. Lebih baik dia makan dengan lahap agar tenaganya terisi kembali.
Namun, acara makan siang-nya tak berjalan lancar. Nala lupa membawa ikat rambut sehingga helaiannya mengganggu prosesi makan Nala.
Reigha yang merasa lucu dan tidak tega, akhirnya mengumpulkan semua rambut Nala dan menggenggamnya. Tujuannya agar Nala bisa makan dengan baik.
Namun siapa sangka, gerakannya justru membuat Nala terkejut dan berakhirlah mereka saling pandang dan diam. Cukup lama hingga Nala yang lebih dulu memutuskan pandangan.
"Maaf. Aku bantu pegang rambutnya. Kamu bisa makan tanpa mempedulikan rambutmu. Ayo makan," ucap Reigha sambil tersenyum manis.
Nala menggeleng. "Tidak perlu. Kamu makan saja. Tidak perlu memperhatikan aku," tolak Nala halus.
Reigha terkekeh. "Kalau aku maunya seperti ini bagaimana?" goda Reigha sambil memainkan alisnya naik-turun.
Nala melotot. "Terserah."
................
Hari terus berganti hingga tanpa sadar, sudah hampir lima bulan Dandy pergi. Semua berjalan sebagaimana mestinya sesuai yang sudah Tuhan rencanakan.
Bu Dian juga sudah mulai bangkit dan menjalani rutinitas seperti biasa. Nala sangat bersyukur akan hal tersebut.
Hari ini adalah ulang tahun perusahaan milik bu Dian. Seperti biasa, Nala dan kawan-kawan yang akan bertugas sebagai dekorator. Semua karyawannya tampak sibuk memasang segala alat yang diperlukan seperti panggung, hiasan, dan alat-alat lainnya.
Dan entah mengapa, Reigha selalu saja menguntit kemanapun Nala pergi. Saat ditanya oleh petugas di luar perusahaan, dia mengatakan bahwa dia juga karyawan Nala.
__ADS_1
Nala sampai terperangah tidak percaya. Nala sampai berpikir, apakah laki-laki tersebut tidak bekerja? Tetapi, kenapa selalu bisa membeli ini dan itu? Bahkan juga membelikan jajan dan mainan untuk Zia dan Zio.
"Kamu memangnya tidak ada pekerjaan, Mas? Kenapa aku selalu melihat kamu menganggur ya? Kerjaannya hanya mengikuti kemana aku pergi," ucap Nala heran.
Reigha tersenyum. "Semua pekerjaanku sudah ada yang mengurus. Tugasku saat ini adalah, mencari perhatianmu dan mengikuti kemanapun kamu pergi," ucap Reigha yang saat ini berada di belakang Nala.
"Sini aku bantu," ucap Reigha lagi kemudian dua lengannya melewati pinggang Nala hingga posisi Reigha seperti sedang memeluk Nala dari belakang.
Nala yang sedang fokus menghias pohon dengan lampu-lampu pun mendadak hilang fokus. Nala jelas bisa merasakan hembusan napas Reigha yang menerpa tengkuknya. Dan untuk yang kesekian kali, jantung Nala berdetak tak menentu.
Melihat keterdiaman Nala, Reigha tersenyum senang. Dia memang sengaja melakukan kontak fisik seperti ini untuk mendekati Nala. Hitung-hitung menyicil pelukan yang sudah lama sekali tidak bisa Reigha lakukan. Karena selama ini, Nala seperti enggan bersentuhan fisik dengannya. Walau Reigha akui, Nala mulai menerima keberadaannya di sekitar Nala.
"Tidak perlu kamu begitu. Rileks Mommy sayang," bisik Reigha yang seketika membuat bulu kuduk Nala meremang.
Nala bergidik. "Kamu apa-apaan sih, Mas. Sana, pergi jauh-jauh. Dasar karyawan tidak tahu diri," protes Nala dengan mengucapkan status yang Reigha sebutkan pada penjaga perusahaan.
Reigha tergelak renyah. "Kamu memang sangat lucu. Bukankah tugas karyawan adalah membantu atasannya? Seperti ini misalnya," ucap Reigha berbisik lalu tangannya bergerak memeluk perut Nala.
Gerakan Nala memasang lampu pun terhenti. Dia berdiri kaku dengan tangan yang menggenggam pot besar yang digunakan sebagai wadah pohon besar tersebut.
"Aku merindukanmu, La," bisik Reigha lagi lembut. Setelah itu, Nala bisa merasakan dagu Reigha yang bertumpu di pundaknya. Punggung Nala juga menghangat karena tubuh kekar itu kini menempel erat di tubuh bagian belakangnya.
"Mengapa kamu tak kunjung memberiku kepastian? Aku takut, kamu justru akan berpaling dan jatuh cinta dengan laki-laki lain. Aku tahu konsekuensi tersebut. Tetapi jika itu benar terjadi, beritahu aku terlebih dahulu ya? Agar aku lebih mempersiapkan diri menerima kenyataan," ucap Reigha lembut dan terdengar putus asa.
Nala memejamkan mata. Entah rasa apa ini sehingga membuat Nala nyaman dalam pelukan Reigha. "Nanti aku jawab. Sekarang lepaskan aku dulu," ucap Nala setelah mengumpulkan kewarasannya terlebih dahulu.
Reigha terkekeh lalu melepas pelukannya. "Aku tagih janji kamu," ucap Reigha dengan senyum merekahnya.
Huh!
__ADS_1
Akhirnya Nala bisa bernapas lega. Dia segera menyelesaikan pekerjaan dan tentu saja, Reigha membantunya. Ingatkan Nala untuk memberi gaji pada Reigha yang sudah banyak membantu pekerjaannya.
Tepat pukul lima sore, semua persiapan telah selesai. Nala pamit pulang dengan bu Dian yang masih berada di kantor untuk melihat langsung bagaimana Nala menghias acara ulang tahun perusahaannya.
Bu Dian mengatakan sangat puas dengan kinerja Nala dan kawan-kawan. Mereka memutuskan untuk kembali ke Bogor. Besok mereka akan kembali lagi untuk ikut memeriahkan acara.
Mereka semua menggunakan dua mobil dengan Nala satu mobil dengan Reigha. Sedangkan kelima karyawan Nala, mereka berada di satu mobil yang sama.
Jalanan yang macet karena berada di jam rawan, membuat mata Nala memberat. Reigha yang melihat itu, meminta Nala untuk tidur saja.
"Tidurlah, La. Akan aku bangunkan kalau sudah sampai," pinta Reigha lembut.
Karena sudah kelelahan, akhirnya Nala mengangguk mengiyakan. Tidak berapa lama, Nala terlelap dengan posisi masih duduk di jok samping kemudi.
Reigha terkekeh pelan saat mobilnya berhenti di lampu merah. Dia bisa melihat Nala tertidur sangat pulas dengan bibir yang terbuka sedikit. Hal itu membuat Reigha seketika menelan saliva. Nala sangat menggoda imannya.
Huh.
Reigha berusaha mengalihkan perhatian dan berharap lampu segera berubah warna. Entah mengapa suhu AC yang dingin mendadak tidak berfungsi. Reigha merasa gerah. Nala berhasil menghilangkan kewarasannya.
Dan yang lebih sial lagi, lampu merah seakan enggan untuk berganti. Reigha terpaksa melepas dua kancing kemeja yang teratas, berharap gerah yang dirasa akan sedikit mereda.
Sudah ke berapa kali Reigha mencoba mengalihkan perhatian, tetap saja pandangannya terpaku pada bibir ranum Nala yang sangat ... Menggoda.
Reigha melirik hitungan menit di lampu merah yang masih menunjuk angka enam puluh. Dengan keberanian dan keinginan yang membuncah, Reigha mendekat pada Nala dan menatap lekat wajah cantik di depannya.
Perlahan Reigha mendekatkan wajahnya dan, cup. Reigha mengecup bibir terbuka Nala sekilas dan kabar baiknya, Nala tidak terganggu sama sekali. Reigha tersenyum senang karena bisa mencuri ciuman.
Dia kembali memposisikan diri duduk seperti semula, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Reigha telah berhasil mencuri ciuman saat Nala sedang tertidur.
__ADS_1
"Lain kali aku bisa melakukannya lagi," gumam Reigha tersenyum merekah. Kemudian segera menjalankan mobilnya karena lampu telah berganti.