Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 125. Cemburu?


__ADS_3

Hari berganti. Hubungannya dengan Anjani perlahan semakin dekat. Satu hal yang Nanta sadari, jika hatinya mulai terisi oleh nama gadis cantik itu. Ini bukan sekedar pelampiasan dan Nanta menyadari itu.


Nanta menggeleng sambil memukul kepalanya menggunakan pulpen yang sedang digenggamnya. Bibirnya mengulas senyum konyol. Merasa heran dengan perasaannya sendiri.


Ada debar-debar bahagia saat berada di dekat Anjani dan ada rasa rindu yang terselip ketika sosok itu jauh dari pandangan. Nala mengusap wajahnya kasar dan kembali fokus bekerja. Waktunya harus diimbangi dengan bekerja.


Sepulang dari kantor baru Nanta akan menjemput gadis itu di kantornya. "Anjani ... Anjani ...." Nanta bergumam sambil geleng-geleng kepala.


Waktu semakin bergulir. Matahari yang semula masih di sisi timur telah berpindah ke sisi barat. Sinarnya yang keperakan sudah nampak keorenan. Sangat indah karena sore hari ini bumi tampak cerah.


Nanta tersenyum kala sampai di lahan parkir tempat mobilnya berhenti. Perasaan berbunga-bunga itu semakin bertambah kala Nanta membaca sebaris kalimat yang menjadi jawaban atas pesan yang di kirim olehnya.


Anjani:


Sebentar lagi aku pulang. Jemput saja kalau begitu.


Nanta:


Oke.


Dengan kebahagiaan yang semakin meningkat, Nanta masuk ke mobil dan bergegas memutar setir menuju perusahaan Cakrawala.


Sepanjang perjalanan, Nanta bersiul-ria. Sesekali menyanyikan lagu yang di putarnya dalam mobil. Perasaan hatinya sedang sangat baik hari ini.


Hingga dua puluh menit kemudian, Nanta akhirnya tiba di depan perusahaan Cakrawala. Belum ada tanda-tanda Anjani akan keluar. Jadi, Nanta memilih untuk memarkirkan mobil di depan perusahaan.


Matanya sejak tadi tidak berpaling ke arah dimana biasanya Anjani muncul. Dan sosok itu pun muncul. Nanta tersenyum namun hanya sebentar ketika mengetahui bahwa Anjani tidak berjalan sendirian.


Ada sosok laki-laki tampan di samping Anjani.


Deg!


Jantung Nanta seperti berhenti berdetak detik itu juga. Bagai ada petir menyambar di atas kepalanya. 'Siapa laki-laki itu? Mengapa Anjani begitu dekat dengannya,' geram Nanta dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Nanta terus memperhatikan dan melihat adegan dimana laki-laki itu mengacak rambut Anjani. "Argh!" Nanta memekik kesal lalu keluar dari mobil dengan wajah datarnya.


Dia berdiri di samping mobil dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. "Sudah datang, Nan?" tanya Anjani saat laki-laki tadi sudah menghilang.


"Pikir saja sendiri," kesal Nanta lalu masuk ke mobil lebih dulu.


Anjani yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Nanta secara tiba-tiba, hanya mengangkat bahu acuh. Dia tidak merasa membuat kesalahan hingga membuat Nanta marah.


Setelah masuk, Nanta kembali berucap. "Pakai sabuk pengamannya," ketusnya lagi yang semakin membuat Anjani terheran-heran.


"Iya."


"Kenapa jutek sekali sih? Apa aku ada salah? Atau kamu sedang mengalami Pramenstruasi?" tanya Anjani sengaja menggoda Nanta.


"Apaan sih," ketusnya lagi yang membuat Anjani ikut merasa kesal. Berakhir lah keduanya saling mendiamkan di sepanjang perjalanan. Nanta yang merasa tidak tahan, memilih menepikan mobil.


"Aku tuh sedang marah padamu. Bukannya dibujuk malah didiamkan balik. Gimana sih? Tidak peka sekali." Nanta bersungut-sungut dalam mengucapkannya.


Nanta menarik lalu menghembuskan napasnya beberapa kali. Anjani tidak akan peka jika Nanta tidak terus terang.


"Aku marah padamu," ucap Nanta dengan bibir yang manyun.


"Kenapa aku? Apa alasannya?" tanya Anjani dengan alis yang bertaut dan dahi yang sudah mengkerut.


Nanta berdecak sebal. "Ck. Kamu memang tidak peka," jawabnya lalu duduk miring menghadap Anjani sepenuhnya.


"Siapa tadi? Laki-laki yang berjalan denganmu?" tanya Nanta dengan pandangan memicing.


Sekali lagi Anjani dibuat terperangah. "Kamu cemburu? Begitu?" jawab Anjani justru balik bertanya.


Nanta mendengkus sebal. "Itu kamu tahu. Makanya peka dong."


Anjani menatap Nanta dengan sorot mata tak percaya. "Kenapa juga kamu harus cemburu? Memangnya kita apa?" tanya Anjani dengan nada sarkasme.

__ADS_1


Nanta seketika tertampar. Raut wajahnya tampak pias lalu memilih kembali melajukan mobil. Sunyi senyap seketika. Tidak ada yang berminat untuk membuka suara.


Bahkan saat mobil Nanta telah sampai di depan rumah Anjani. Hanya suasana hening yang meliputi.


"Terima kasih." Anjani berucap singkat lalu tangannya bergerak untuk membuka handel pintu.


Namun, gerakannya terhenti kala merasakan tarikan lembut di lengannya. Saat menoleh, ternyata Nanta sedang menatapnya lekat.


Tanpa diduga, Nanta menarik pinggangnya lalu menahan tengkuknya. Setelah itu, Anjani bisa merasakan benda kenyal yang menempel di bibirnya. Mata Anjani membulat sempurna. Nanta telah menciumnya.


Jantung Anjani serasa sedang melakukan lomba lari marathon. Ciuman itu terasa lembut hingga Anjani terhanyut dan sialnya, Anjani malah membalas ciuman itu.


Ini pertama untuk Anjani. Namun, naluri Anjani yang menuntun untuk membalas ciuman itu. Hingga merasa kehabisan oksigen, Anjani melepas ciuman terlebih dahulu.


Matanya terbuka dan bisa melihat wajah Nanta dari jarak yang sangat dekat. Nanta sangat tampan.


"Kenapa kamu lepas? Aku ingin merasakan bibirmu lagi yang terasa manis," ucap Nanta menyatukan keningnya dengan milik Anjani. Suaranya terdengar serak hingga membuat Anjani menelan saliva. Tubuhnya terlalu bereaksi berlebihan.


"Aku harus pulang. Ibu sudah menungguku," ucap Anjani. Bukannya turun, Anjani justru menelisik setiap jengkal wajah Nanta. Dan sadar akan hal itu, Anjani bergegas menjauhkan wajah.


"Aku harus pulang," ucap Anjani lagi lalu berpaling muka.


Nanta terkekeh melihat Anjani yang salah tingkah. "Nanti malam bersiaplah. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat," ucap Nanta lembut.


Tidak ingin banyak bertanya, karena jantungnya sedang tidak normal, anggukan adalah jalan pintas.


Setelah itu, Nanta membiarkan Anjani turun untuk beristirahat. Nanta menatap punggung Anjani yang berjalan menjauh. Senyumnya terbit lalu jari jempolnya mengelus bibir bagian bawahnya. Masih ada jejak basah di sana.


"Anjani. Aku bisa gila karena mu," gumam Nanta tersenyum bagai orang gila.


Setelah ini, Nanta harus bertindak cepat agar tidak ada yang bisa merebut Anjani darinya. Tidak laki-laki yang tadi ataupun laki-laki manapun.


Mungkin terdengar egois. Namun, Nanta sangat menginginkan Anjani ada di sisinya selamanya. Perasaanya tidak pernah main-main jika mengenai seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2