
"Nala?" panggil Reigha saat mobil melaju membelah jalanan.
Nala tidak menjawab karena pikirannya sedang melanglang buana. Pandangannya menatap ke arah luar dari balik kaca mobil. Lima menit setelah Nala berada di mobil, hujan turun seketika seakan langit ikut menangis atas kepergian Dandy.
"Nala?" panggil Reigha lagi karena Nala tak kunjung menjawab.
"Ya?" jawab Nala singkat tanpa repot-repot menoleh.
Reigha menghela napas pelan. "Mau pulang ke Bogor atau—"
"Ke rumah tante Dian," sela Nala datar. Entahlah, datar karena menjaga jarak dari Reigha atau datar karena rasa sakit dan patah hati yang dirasa.
"Baiklah," jawab Reigha pada akhirnya.
Hanya hening yang mengisi ruang mobil tersebut. Hingga mobil itu sampai di depan pekarangan rumah bu Dian, Nala bisa melihat masih banyak pelayat yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa.
Nala menarik dan menghembuskan napas pelan sebelum benar-benar keluar dari mobil. Tanpa memedulikan Reigha, Nala segera membelah kerumunan yang tercipta.
"Mbak Nala sudah pulang?" tanya Nanta yang tiba-tiba muncul di depannya.
Nala yang sudah tidak menangis pun kembali menumpahkan air mata dan memeluk Nanta.
Tidak ada suara dari Nala. Dia masih menangis, meluapkan semua kesedihan di hadapan adiknya. Terkadang Nala bingung tentang siapa yang sebenarnya sosok kakak antara dirinya dan Nanta.
Nanta begitu dewasa hingga bisa bersikap sebagai adik dan kakak sekaligus.
"Sudah, Mbak. Kasihan tante Dian kalau Mbak terus menangis. Lebih baik, kita temui Tante Dian dan ibu ya?" ajak Nanta sambil merenggangkan pelukan.
Nala menghapus air mata dan mengangguk menyetujui. Nanta membawa Nala menaiki tangga menuju kamar bu Dian. Bagaimanapun, Bu Dian tidak boleh ditinggal sendiri dalam keadaan berkabung seperti sekarang.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
Nanta mengetuk pintu terlebih dahulu. Tidak berapa lama, pintu terbuka dan menampilkan bu Laras. "Nala? Kamu sudah pulang?" tanya bu Laras kemudian membawa tubuh ringkih putrinya dalam pelukan.
Nala mengangguk dalam pelukan dengan air mata yang kembali mengalir membasahi baju yang dikenakan ibunya. Entah bagaimana caranya menghentikan tangis ini. Seandainya bisa, Nala ingin berhenti menangis dan mencoba menjadi penguat untuk bu Dian yang saat ini keadaannya tidak jauh berbeda darinya.
"Sst. Sudahi dulu menangisnya ya? Kita masuk dulu," ucap bu Laras yang segera di angguki oleh Nala.
"Aku turun lagi, Bu. Masih banyak tamu di bawah," pamit Nanta.
Setelah Nanta pergi dan menutup pintu kembali, Nala baru menyadari jika dalam ruangan itu tidak hanya ibu dan tante Dian saja. Ada bu Nilam yang saat ini sedang mengelus dan memeluk bahu bu Dian lembut. Keduanya sedang duduk di sisi ranjang dengan posisi bersebelahan.
Bu Dian mendongak ketika menyadari kedatangan Nala ke kamar. Ketika melihat wajah Nala yang begitu sembab dan baju kebaya yang berantakan, bu Dian semakin menangis sesenggukan.
Tangis itu menular pada Nala, bu Laras dan bu Nilam. Nala memilih bersimpuh di hadapan bu Dian sebagai bentuk hormatnya pada ibu dari Dandy.
Nala kembali menangis. Dia kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan isi hatinya selain dengan menangis. Bu Laras dan bu Nilam yang paham bahwa keduanya butuh waktupun, menepi dengan duduk di sofa pojok guna memberikan ruang untuk Nala dan bu Dian meluapkan kesedihan.
"Nala? Maafkan ibu dan maafkan Dandy juga. Ini semua tidak akan terjadi dan kamu tidak akan terluka seandainya dulu kami mengatakan tentang penyakit Dandy," ucap bu Dian membuka pembicaraan.
Nala mendongak karena posisi bu Dian lebih tinggi darinya lalu menggeleng kencang. "Untuk apa meminta maaf, Tan? Ini bukan salah siapa-siapa," jawab Nala berbesar hati.
Terdengar helaan napas kasar dari mulut bu Dian, menggambarkan betapa sesak perasaanya saat ini.
"Dandy pernah mengatakan permintaan terakhirnya sebelum dia benar-benar diambil nyawanya oleh yang Maha Kuasa. Permintaan itu adalah ... Kamu," ucap bu Dian dengan pandangan menatap ke luar jendela kamar.
"Aku?" tanya Nala bingung.
Bu Dian mengangguk dan tersenyum. Matanya sudah sembab mengingat keinginan terakhir kali putranya. "Dandy ingin hidup bersama keluarga kecilnya yaitu bersama kamu dan anak-anak. Dandy pernah mengatakan di akhir hidupnya dia ingin menikahimu. Tetapi Tuhan berkehendak lain karena tinggal sedetik lagi kamu menjadi istrinya, dia sudah lebih dulu tiada," jelas bu Dian menjeda kalimatnya.
__ADS_1
Bu Dian terisak lalu dua tangannya menangkup telapak tangan Nala. Bu Dian tersenyum ketika melihat Nala begitu tertarik dengan ceritanya.
"Dandy mempunyai penyakit kanker otak stadium akhir," terang Bu Dian dengan raut bersalahnya.
Nala sontak membekap mulutnya erat. Air matanya kembali berjatuhan setelah tadi sedikit mereda. Mengapa selama ini Nala tidak tahu?
"Mengapa mas Dandy tidak pernah memberitahuku, Tan? Mengapa dia harus menyembunyikan?" tanya Nala menuntut penjelasan.
"Dandy tidak ingin kamu menerimanya karena rasa kasihan. Dandy ingin kamu menerimanya karena kamu benar-benar butuh Dandy," jawab bu Dian menjelaskan.
Nala memejamkan mata erat, mengingat kembali bagaimana senyum Dandy yang seakan tidak mempunyai beban hidup. Padahal, justru orang yang seperti itu dialah orang yang sedang memikul beban berat.
Dandy selalu bersikap manis pada Nala. Dandy selalu menemui Nala walau dia juga sedang sibuk. Ternyata di balik itu semua, Dandy sedang mempersiapkan perpisahan yang sama sekali tidak diketahui Nala.
Perpisahan yang begitu manis namun dibalut luka yang sangat dalam. Nala merasa dicurangi Dandy karena dia sudah tahu akan pergi sedangkan Nala, dia tidak tahu apa-apa.
"Maafkan ibu dan Dandy karena kamu sudah menjadi korbannya. Dandy ingin bahagia sampai-sampai dia lupa bahwa kamu juga berhak bahagia. Kamu berhak mendapatkan pria yang tidak penyakitan," racau Bu Dian dengan kembali menangis sesenggukan.
Nala tersedu-sedu dalam tangisnya. Sejuta penyesalan seperti sedang menggerogoti hatinya. "Jangan berkata seperti itu, Tan. Itu semua tidak benar. Aku bahagia bahkan sangat sangat bahagia bisa menjalin hubungan bersama mas Dandy. Dia tidak akan pernah terlupakan," ucap Nala tulus lalu menggenggam jemari bu Dian erat.
Keduanya langsung berpelukan, Dua wanita yang mencintai Dandy dengan status berbeda.
Bu Laras dan bu Nilam yang menyaksikan pemandangan tersebut, air matanya jatuh tak terbendung. Mereka sama-sama kehilangan sosok Dandy.
"Semoga Dandy tenang di alam sana," ucap bu Laras sambil mengusap air matanya.
Bu Nilam membenarkan. "Itu pasti. Dandy sudah terbebas dari rasa sakit. Dia sudah sembuh," imbuh bu Nilam membenarkan.
Entah bagaimana aku bisa menjalani hari-hari beratku setelah ini. Apakah itu akan semudah seperti dulu saat ada sosok dia di sampingku? Apakah itu akan sulit karena lagi-lagi hatiku merasa patah dan harus kembali menyatukan kepingannya? #Nala
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya🙏😊...