
Sehari setelah Dandy melamar Nala, Reigha langsung mendengar kabar tersebut dari Nick, si yang paling tahu segalanya. Patah hati tentunya Reigha rasakan.
Sehari setelah pipinya di tampar, kini Reigha kembali tertampar oleh keadaan. Nala tidak memberikannya kesempatan kedua. Tetapi, bukankah dulu Nala sudah memberikan kesempatan untuk Reigha berubah? Bahkan tidak hanya sekali Nala melakukannya.
Dulu, Reigha menyia-nyiakan begitu saja kesempatan yang Nala berikan. Sekarang, disaat Nala tidak lagi memberinya kesempatan, justru Reigha sangat membutuhkan kesempatan tersebut.
Bahu Reigha merosot dengan punggung bersandar pada sofa. Pandangannya menatap langit-langit ruang kerjanya yang berwarna putih. Reigha merasa sudah tidak punya tenaga untuk bertahan hidup. Bahkan, alasan untuk hidup pun, Reigha tak punya.
Reigha sampai tidak sadar jika pintu ruangannya dibuka dan Nick muncul dari baliknya. "Boss? Sedang memikirkan Nala ya?" tanya Nick yang nada suaranya terdengar mengejek.
Reigha tidak peduli bahkan sampai tidak mendengar suara Nick. Pikirannya sudah melanglang buana pada kenangan manis saat bersama Nala dahulu. Reigha masih berharap jika kenangan itu akan terulang. Reigha juga berjanji jika diberi kesempatan sekali lagi, Reigha akan lebih menghargai dan mencintai Nala.
"Jangkrik Boss!" pekik Nick heboh yang berhasil membuat Reigha berteriak kencang.
"Argh!" Jantung Reigha berdegup tidak karuan akibat seruan dari Nick barusan.
"Kamu!" ucap Reigha dengan penuh penekanan.
Sedangkan Nick yang dipandang dengan tatapan tajam hanya menyengir kuda dan mengangkat dua jarinya.
"Maaf, Bos. Habisnya sejak tadi Bos tidak bersuara dan bergerak. Aku pikir Bos sudah pingsan," jawab Nick yang kini sudah mengambil posisi duduk di kursi yang berhadapan dengan Reigha.
Dengkusan kasar keluar begitu saja dari mulut Reigha. "Sebenarnya kamu ada di pihak siapa sih? Dandy atau aku? Mengapa aku merasa, kamu sedang bergerak melawanku," ucap Reigha kesal disertai decakan.
"Bukan begitu, Bos," elak Nick yang wajahnya mendadak serius.
"Jadi begini, Dandy sudah berada di luar menunggumu, Bos. Dia mengatakan ingin berbicara denganmu," jelas Nick mengutarakan maksud kedatangannya.
Reigha tersenyum kecut. Dengan maksud apa Dandy datang padanya? Untuk menunjukkan kemenangannya merebut hati Nala?
"Suruh dia masuk sekarang!" titah Reigha yang segera dilaksanakan oleh Nick.
Setelah Nick keluar, tidak berapa lama Dandy muncul dengan senyum merekahnya. Reigha berdecih dalam hati. Benar bukan dugaannya jika Dandy ingin memamerkan kemenangannya?
"Mau apa kamu?" tanya Reigha saat Dandy sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
Dandy terkekeh geli. "Apakah aku tidak dipersilahkan untuk duduk? Jangan lupa jika aku adalah tamu disini," jawab Dandy yang semakin membuat Reigha kesal setengah mati.
"Duduklah," ucap Reigha pada akhirnya. Dia harus menghargai tamu yang berkunjung selagi tamu tersebut masih bersikap sopan.
Setelah duduk, Dandy kini merubah raut wajahnya menjadi serius. "Jadi begini ...."
..................
Kantor Nala akhirnya sudah siap digunakan. Nala menghembuskan napasnya lega ketika melihat semua furnitur yang dibeli sudah berjajar rapi.
Untuk asisten yang akan membantu Nala, dia akan mulai bekerja besok. Segala kebutuhan tentang Wedding yang sudah selesai di urus.
Untuk dekorasi dan semacamnya sudah Nala pesan jauh-jauh hari dari perusahaan besar yang bergerak di bidang dekorasi dan hiasan. Di lantai dua sudah penuh akan barang-barang tersebut.
"Semoga semuanya berjalan lancar. Aku yakin, usaha tidak pernah mengkhianati hasil," monolog Nala optimis.
"Kalau aku boleh berkomentar, menurutku semua konsep pernikahan yang Bu Nala buat sudah sangat bagus, Bu. Di negara ini belum pernah aku melihat konsep yang seperti itu. Aku yakin, setelah ini pasti akan banyak yang menggunakan jasa Bu Nala," ucap salah satu pegawai loundry milik ibunya, yang kini sedang beralih profesi sebagai asisten Nala sementara, yaitu Rani.
Nala tersenyum hangat. "Terima kasih atas doa baiknya ya," jawab Nala bersyukur.
"Baiklah. Sepertinya kita harus pulang terlebih dahulu. Besok, kamu datang lagi ya? Mungkin aku akan meminta bantuanmu sampai seminggu ke depan. Tenang, semua ada perhitungannya kok," ucap Nala ramah.
"Terima kasih ya, Ran," ucap Nala lagi.
Keduanya memutuskan untuk pulang. Tidak berapa lama, Nala sampai dan kepulangannya terasa sangat berbeda. Tidak ada Zia dan Zio yang menyambut.
Nala mengernyit heran dan masuk lebih dalam menuju ruang tengah dimana biasanya Zia dan Zio sedang menonton TV. Namun, Nala tak kunjung menemukan keberadaan dua anaknya.
Lalu, kemana ibunya pergi? Nala akhirnya berjalan menaiki tangga barangkali anak dan ibunya sedang berada di kamar untuk bermain. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Apakah mungkin anak-anaknya sedang tidur siang? Sungguh, pikiran Nala mengeluarkan begitu banyak pertanyaan.
Ceklek.
Saat Nala membuka pintu kamar anaknya, ruangan senyap sepi tak berpenghuni. "Kemana perginya mereka semua? Apa di kamar ibu ya?" ucap Nala bertanya.
Memilih berjalan menuju kamar di sebelahnya, Nala mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
"Buk?" panggil Nala sedikit mengencangkan suaranya.
Ceklek.
"Iya, Nduk? Ada apa?" tanya bu Laras dengan senyum manisnya. Nala bisa melihat ibunya itu hanya mengenakan bathrobe dan handuk kecil yang melilit rambutnya.
"Zia dan Zio kemana, Buk? Kenapa rumah sepi sekali?" tanya Nala dengan pandangan terarah ke dalam kamar ibunya. Namun, Nala tidak melihat keberadaan anak-anak di dalam sana.
Bu Laras terkekeh pelan. "Jam satu tadi Reigha menjemput anak-anak. Katanya mau mengajak jalan-jalan," jawab Bu Laras yang membuat rasa penasaran Nala terjawab.
Nala ber-oh-ria panjang dengan kepala yang mengangguk-angguk. "Pantas saja rumah terasa sepi," cicit Nala.
"Mau masuk dulu?" tawar bu Laras yang segera mendapat gelengan dari Nala.
"Nala langsung ke kamar saja, Buk. Mau mandi, gerah," jawab Nala sambil mencium aroma tubuhnya yang sudah tidak karuan.
Bu Laras terkekeh. "Ya sudah. Pergilah mandi."
Setelah tiba di kamarnya, Nala tidak langsung mandi melainkan menyempatkan diri untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi telentang.
Nala menghembuskan napasnya lelah. "Mengapa aku harus merasa terganggu? Tetapi, bukankah biasanya mas Reigha akan datang di pagi hari?" monolog Nala bertanya-tanya.
Setelah sadar, Nala segera menggelengkan kepala. "Bukankah itu lebih baik? Jadi, aku bisa mulai mencintai mas Dandy?" ucap Nala lagi berbicara pada dirinya sendiri.
Sungguh, Nala akan merasa bersalah sepanjang hidupnya karena belum sanggup mencintai Dandy sepenuhnya. Nala masih berusaha merakit utuh kepingan hatinya yang sudah lama hancur.
Dan Nala juga sedang mencatat dan menyimpan nama Dandy baik-baik di relung hatinya.
"Aku sudah menyayangi mas Dandy tetapi, aku belum bisa mencintainya. Aku yakin, mas Dandy pasti bisa membawaku terbang tinggi dengan cintanya. Karena dicintai orang tersayang ternyata lebih baik dari mencintai orang yang tidak tahu diri," monolog Nala meyakinkan dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...yuk, kasih komen dan like kalian😘...
__ADS_1
...terima kasih untuk kalian yang selalu memberikan dukungannya😍...
...semoga kebaikan kalian dibalas baik oleh Tuhan 😍...