
Pagi ini Nala dan anak-anak sudah bersiap untuk berlibur ke taman safari. Tepat pukul lima pagi, mobil Dandy sudah terparkir di depan pekarangan rumahnya.
Zia dan Zio begitu bersemangat saat diberitahu akan mengunjungi kebun binatang. Mereka yang terbiasa bangun pukul enam, harus bangun dua jam lebih awal. Tidak ada raut mengantuk di wajah keduanya. Yang ada, wajah Zia dan Zio terlihat berbinar.
"Zia? Zio? Kalian terlihat begitu bahagia yah," ucap bu Laras menerka. Wajahnya terlihat baru saja bangun tidur.
"Iya, Oma. Harusnya Oma ikut kita ke kebun binatang," jawab Zia gembira.
Bu Laras tersenyum. "Tidak. Kalian akan pergi bersama Uncle Nanta. Bersenang-senanglah kalian," jawab Bu Laras hangat.
"Baiklah, Oma," jawab Zia dan Zio bersamaan.
"Mbak Nala mana, Bu?" tanya Nanta yang baru saja turun dari lantai atas.
Nanta sengaja pulang dari Bandung di hari Jumat sore karena di hari Sabtu dan Minggu libur. Baru Nanta akan kembali pada hari Minggu sore ke Bandung lagi.
"Itu dia Mbak-mu," tunjuk bu Laras ke arah anak tangga paling atas. Disana sudah berdiri Nala yang mengenakan celana jeans dengan atasan kaos berwarna putih dan bagian luarnya mengenakan jaket bomber Korea.
Nanta geleng-geleng kepala melihat penampilan kakaknya yang layak disebut ABG. Pantas saja banyak laki-laki yang datang untuk menawarkan cinta pada Mbak-nya.
"Mbak Nala sudah punya anak dua tapi berasa masih gadis saja," ucap Nanta merasa kesal karena pada kenyataannya, wajahnya dan wajah Nala terlihat hampir seumuran.
Bahkan, pernah ada satu dua orang yang mengatakan bahwa Nanta-lah yang dikira sebagai kakaknya.
"Tenang saja, Nan. Kamu tetap jadi adek-nya Mbak kok. Takdir tidak akan merubah garis tersebut," ujar Nala menenangkan.
Bu Laras hanya geleng-geleng kepala. "Sudahlah. Dandy sudah menunggu kalian terlalu lama," lerai Bu Laras yang membuat Nanta dan Nala memilih berpamitan dengan ibu mereka.
Setelah berada di luar rumah, Nala bisa melihat Dandy yang mengenakan pakaian kasual, yaitu kaos berwarna putih, seperti warna kaos yang dikenakannya, di padukan dengan celana jeans berwarna hitam.
"Sudah siap? Hai Zia? Zio?" sapa Dandy pada dua bocah kembar itu dengan membuat gerakan ber- TOS- ria.
__ADS_1
"Hai Uncle. Aku senang Uncle benar-benar mewujudkan keinginan kami," ucap Zio merasa berterima kasih.
Dandy mengangguk pelan kemudian mengacak rambut Zia dan Zio bergantian. "Ayo, kalian masuk dulu, biar Uncle bantu," ucap Dandy lalu mengangkat tubuh Zio yang lebih dekat darinya kemudian disusul Zia.
"Hai, Nan. Balik kapan?" sapa Dandy pada Nanta.
"Hai, Mas. Aku pulang kemarin sore. Mbak Nala memaksa aku untuk pulang karena harus beralih profesi sebagai baby sister dadakan selama seharian," ucap Nanta sambil melirik Nala yang kini berdiri tidak jauh di belakangnya.
Dandy terkekeh pelan lalu bola matanya melirik Nala yang berada di sampingnya. Nala kini sedang tersenyum ke arahnya dengan pandangan yang ... Entahlah.
Rasanya terlalu dini untuk mengatakan jika Nala menatap Dandy dengan pandangan penuh cinta.
"Aku masuk ya, Mas," ucap Nanta kemudian megambil posisi duduk di kursi penumpang belakang kemudi bersama Zia dan Zio.
Setelah Dandy menutup pintu, kini tinggallah Dandy dan Nala yang belum juga masuk. "Kita berangkat sekarang? Takut macet kan di puncak," tanya Dandy meminta persetujuan.
Dandy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah ditatap seintens itu oleh Nala.
"Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah banyak membantuku melewati semuanya," ucap Nala menatap Dandy dengan sendu.
Sontak hal itu membuat Nanta tertawa terbahak-bahak karena dirinya tentu tahu jika kakaknya dan Dandy sedang uwu-uwu,an.
Dandy lagi-lagi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mempersilahkan Nala untuk masuk mobil lebih dulu.
Setelah formasi lengkap, mobil akhirnya melaju membelah jalanan menuju tempat tujuan mereka.
Sedangkan di tempat lain, mata Reigha masih saja enggan terpejam padahal waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Yang benar saja? Reigha merasa ada yang salah dari tubuhnya karena sudah hampir satu Minggu ini tidak bisa tidur.
"Apakah ini yang dimakan insomnia? Mengapa aku tidak mengantuk sama sekali sepanjang malam?" monolog Reigha merasa heran.
Kini, mata Reigha sudah tampak ada cekungan hitam di bawahnya dengan kondisi wajah yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus di area rahang dan atas bibir.
__ADS_1
Sungguh berantakan kondisi Reigha saat ini. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Reigha memilih bangkit dan menyandarkan kepala di bahu ranjang.
Tangannya terulur mengambil ponsel di atas nakas. Dia menggulir layar dan mencari salah satu aplikasi yaitu galeri. Hanya benda bernama ponsel yang bisa membuat Reigha bisa melihat Nala dan senyumnya.
Foto yang dulu diambil saat berada di sebuah wisata di Bogor.
Reigha pernah melupakan hari itu karena menganggap kenangan uang ditinggal Nala tidak penting sama sekali.
Namun sekarang, Reigha seperti sedang memungut benda yang dulu dianggap sampah baginya. Kini, kenangan itu terasa nyata di depan mata. Senyum cerah Nala, tawa renyahnya, bahkan bagaimana cerewetnya Nala saat itu.
Reigha menangis.
"Mengapa semua seperti sedang berbalik melawanku?" tanya Reigha pada dirinya.
Air mata Reigha semakin berjatuhan saat mengingat kenangan dari setiap foto yang Nala tinggalkan. Reigha masih ingat dengan jelas bahwa hampir semua foto di dalam ponselnya, Nala mengambilnya.
"Nala ...." Reigha merintih memanggil nama Nala. Betapa hancur hati dan hidup Reigha saat ini ketika Nala telah pergi dari hidupnya.
Reigha menatap lekat wajah Nala yang diambil dengan jarak begitu dekat. Di dalam foto itu, Nala sedang mencium pipi Reigha dengan dengan begitu mesra.
"Aku masih ingat dengan jelas saat itu. Saat dimana kamu tiba-tiba menciumku dan ternyata kamu mengabadikannya. Dulu aku begitu marah. Namun sekarang, aku begitu bersyukur karena masih mempunyai foto ini," gumam Reigha dengan dada yang sesak.
Sesak karena sudah kehilangan seseorang yang begitu mencintainya. Sesak karena pada kenyataannya, Nala telah ada yang punya.
Reigha menghapus air matanya yang seperti enggan untuk berhenti berjatuhan.
Hanya sesal yang tersisa ketika dulu Reigha tidak pernah menghargai waktu yang Nala berikan padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...kasihan ya si Reigha, nggak tega aku😪...
__ADS_1
...jangan lupa untuk komen ya😍...
...siapa yang seneng Reigha menderita? angkat tangan ✋🤣...